Showing posts with label Masjid Agung Purworejo. Show all posts
Showing posts with label Masjid Agung Purworejo. Show all posts

Bedug Terbesar Didunia

No Comments
 Hi sehabat Blogger !
Sebagai umat muslim Indonesia, kita perlu berbangga hati karena bedug terbesar di dunia berada di negeri ini, tepatnya berada di daerah Purwerejo, Jawa Tengah. Bedug besar tersebut bernama Bedug Pendowo. Menurut website resmi Pemerintah Kabupaten Purworejo, bedug ini merupakan Bedug terbesar di Asia Tenggara, bahkan di Dunia. Ukuran spesifikasinya adalah :








Bedug ini dibuat dengan penuh kesungguhan dari bahan pangkal (bongkot) kayu jati bong yang langka bentuk dan ukuran yang luar biasa besarnya telah dapat diwujudkan. Adapun jumlah paku yang digunakan adalah paku keling dari kayu jati untuk memaku kulit bagian depan 120 buah dan kulit bagian belakang 98 buah. Spesifikasi lain yaitu garis tengah depan 194 cm, garis tengah belakang 180 cm. Keliling bagian depan 601 cm, keliling bagian belakang 564 cm. Dibuat sekitar tahun 1762 Jawa atau 1834 Masehi.
Sedangkan kulit bedug dibuat dari :
1. Kulit banteng ukuran garis tengah 220 cm.
2. Bagian belakang pada tahun 1936 rusak dan diganti dengan kulit sapi Benggala (Ongak).
3. Sampai saat ini tahun 2005 telah dilakukan penggantian kulit bedug bagian belakang tiga kali dan terakhir tahun 1996.
Kulit bagian depan masih utuh tetap kulit asli sejak dibuatnya yaitu dari kulit banteng.


Udah dulu yah informasinya hehehe dilanjut lain waktu. Jangan Lupa yah Berkunjung ke Masjid Agung Kadipaten Purworejo (Sekarang bernama Masjid Darul Muttaqien) karena disitulah terdapatnya Bedug Pendopo :)
ini nih alamatnya :

Jalan Mayjend Sutoyo, Kelurahan Sindurjan
Kecamatan Purworejo Purworejo
Kabupaten Purworejo, Propinsi Jawa Tengah
            Indonesia





 

Masjid Agung Purworejo

Sejak RAA Cokronegoro 1 menjabat sebagai Bupati Purworejo, pertama kali yang dibangun adalah Masjid Agung Purworejo atau Masjid Jami’ yang sekarang bernama Masjid Darul Muttaqin. Alasan pembangunan Masjid Agung karena RAA Cokronegoro menyadari  jika mayoritas masyarakat Purworejo adalah kaum Muslim.


Masjid Agung Darul Muttaqin tempo dolo

Pembanguan Masjid Agung bersamaan dengan pembuatan alun-alun Purworejo yang luasnya enam hektar. Bersamaan itu pula rumah Katemenggungan Tanggung (Brengkelan) yang sebelumnya di sebelah timur Sungai Bogowonto dipindah ke sebelah utara alun-alun Purworejo. Di tengah alun-alun ditanam dua pohon beringin yang bibitnya diambil dari Kraton Yogyakarta. Di sebelah selatan alun-alun saat itu juga didirikan Kantor Residen Bagelen.

Untuk menghubungkan Pendopo Kabupaten, Kantor Karesiden Bagelen dan Masjid Agung, dibangun pula jalan di seputar alun-alun. Masjid Agung atau Masjid Darul Muttaqim berdiri di atas tanah seluas 8.825 meter persegi. Bangunan utama 21 X 21 meter, sayap kiri kanan 6 X 21 meter, serambi 25 X 21 meter. Hal ini sesuai dengan Laporan Kajian Bangunan Bersejarah tahun 2007 yang dilakukan oleh Bappeda Purworejo. 

Disebutkan, Masjid yang terletak di Kampung Kauman, Kelurahan Sindurjan atau tepatnya di Jalan Mayjend Sutoyo berdiri di atas tanah milik keluarga Cokronegaran. Soko guru (tiang utama) maupun soko rowo (tiang penyangga) Masjid Agung yang dibangun 1831 tersebut terbuat dari bahan kayu jati pendhowo. Diameter soko guru 200 cm dan tingginya puluhan meter. Masjid Agung Purworejo dibangun dengan gaya arsitektur Jawa, mirip dengan Masjid Agung Kraton Surakarta.
Bentuk bangunan Masjid Agung juga masuk dalam kategori arsitektur Islam Kuno, yaitu bentuk Tajug Lowahan Lambang Teplok (Nama bangunan ini terdapat dalam Serat Kalang yang merupakan buku arsitektur Jawa). Atap Masjid Agung tumpang tiga. Tumpang tiga bermakna, atap pertama disebut sebagai panilih yang mengandung arti syariah. Atap kedua disebut penangkup yang mengandung makna thoriqoh. Atap ketiga, brunjung yang maknanya hakekat. Sedang mahkota masjid mengandung arti ma’rifat.

Di dalam masjid terdapat papan dengan tulisan Jawa dan Arab. Arti tulisan tersebut jika dibaca : “RAA Cokronagoro Ping I Mas Pateh Cokrojoyo Purworejo : 1762” Tulisan tersebut menunjukkan angka tahun Hijriyah yang jika dihitung dengan tahun Masehi adalah tahun 1834. Tulisan tersebut dapat dibaca oleh setiap orang yang masuk ke dalam masjid melalui serambi depan.

Sampai sekarang  Masjid Agung tetap digunakan tempat beribadah oleh kaum muslim di Purworejo. Pada tahun 1834 Masjid Agung direnovasi. Pekerjaan renovasi dilakukan hari Ahad tanggal 2 bulan Besar tahun Alip 1762 Hijriyah atau 16 April 1834. Saat ini Masjid Agung yang usianya mencapai 177 tahun itu sudah mengalami banyak  perubahan. Bangunan induk sudah menggunakan atap genteng pres. Di atas atap terdapat mustaka yang terbuat dari perunggu dengan hiasan daun kandhaka hutan. 

Mesjid Agung Purworejo

Masjid Agung Darul Muttaqin tempo sekarang 

 

 

 

Masing-masing bagian bawah atap tumpang terdapat boven panil kaca es yang berfungsi sebagai pencahayaan. Atap ditopang oleh empat soko guru dan 12 soko rowo persegi yang dihubungkan dengan balok gantung rangkap. Soko guru di cat warna hijau dengan hiasan gometris lis kuning dan berdiri di atas  yoni tanpa cerat sebagai umpak. Keempat  yoni mempunyai ukuran yang berbeda. Soko rowo terbuat dari batu bata dan bagian bawah dilapisi keramik warna hijau. 

Setiap hari Masjid Agung tidak pernah sepi dari kunjungan wisatawan. Utamanya rombongan wisata relegius yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.