Showing posts with label ilmu Pengetahuan sosial. Show all posts
Showing posts with label ilmu Pengetahuan sosial. Show all posts
Prediksi Soal UN SMA IPS-Sosiologi no 1-5

Prediksi Soal UN SMA IPS-Sosiologi no 1-5

No Comments

Prediksi Soal no. 1 Bagan mobilitas sosial
dunia soal
Bagan di atas merupakan bentuk mobilitas sosial dalam keluarga, yaitu ….
A. intragenerasi naik
B. intragenerasi turun
C. antargenerasi naik
D. antargenerasi turun
E. mobilitas campuran
Prediksi Soal no. 2 Seorang anak dari keluarga biasa berhasil menjuarai kompetisi di bidang iptek. Kemudian ia mendapat beasiswa untuk studi ke luar negeri. Setelah lulus, ia bekerja sebagai direktur di perusahaan multinasional ternama. Dari contoh tersebut, yang menjadi saluran utama dalam mobilitas sosial adalah ….
A. lembaga pendidikan dan ekonomi
B. organisasi ekonomi dan pertahanan
C. lembaga pertahanan dan keagamaan
D. lembaga keagamaan dan kekuasaan
E. organisasi politik dan ekonomi
Prediksi Soal no. 3 Masyarakat multikultural berdasarkan suku bangsa di Indonesia dengan adanya tingkat solidaritas yang tinggi antarindividu dalam kelompok genealogis. Hal itu disebabkan adanya keyakinan tentang kesamaan ….
A. bahasa dan budaya
B. ciri-ciri fisik
C. asal usul daerah
D. nenek moyang
E. mata pencaharian
Prediksi Soal no. 4 Gejala hubungan sosial dalam masyarakat:
(1) Hubungan antaranggota bersifat formal
(2) Memiliki orientasi ekonomi dan tidak kekal
(3) Terdapat ikatan batin yang kuat antar nggota
(4) Hubungan antar anggota bersifat informal
Dan gejala sosial tersebut yang merupakan ciri kelompok sosial patembayan adalah
A. (1) dan (2) D. (2) dan (4)
B. (1) dan (3) E. (3) dan (4)
C. (2) dan (3)
Prediksi Soal no. 5  Dua orang kakak beradik dalam pergaulan sehari-hari mereka terikat oleh tata sopan santun yang berlaku. Tetapi ketika mengikuti perlombaan lari cepat, mereka harus mengikuti aturan yang berlaku dalam perlombaan, dan menanggalkan segala etika yang berlaku dalam ikatan persaudaraan. Contoh kasus tersebut merupakan interaksi sosial dalam bentuk ….
A. kompetisi            D. kontravensi
B. kontradiksi         E. kompensasi
C. konfrontasi
Pembahasan UN SMA IPS-Sosiologi no 1-5
Pembahasan Soal no. 1  Mobilitas sosial (social mobility) diartikan sebagai suatu gerak perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya atau gerak pindah dari strata satu ke strata yang lain. Mobilitas sosial yang terjadi di antara dua generasi atau lebih dinamakan mobilitas sosial antargenerasi. Mobilitas ini ditandai dengan perubahan taraf hidup atau ekonomi. Penekanannya pada perpindahan status sosial dari generasi satu ke generasi lainnya.
Pada soal tersebut terlihat perubahan status yang terjadi antara kakek, ayah, dan anak yang merupakan antargenerasi dalam sebuah hubungan keluarga (generasi satu ke generasi dua dan selanjutnya). Kemudian dari status yang dimiliki kakek, ayah, dan anak terjadi peningkatan status yakni penjaga sekolah (kakek), guru (ayah), dan camat (anak). Sehingga dikatakan mengalami kenaikan. Artinya mobilitas sosial dalam bagan tersebut terjadi secara antargenerasi naik. Jawaban: C
Pembahasan Soal no. 2 Saluran mobilitas sosial merupakan sarana atau alat yang diperlukan seseorang untuk dapat mencapai atau memperoleh status sosial tertentu.
Dalam soal disebutkan ketika anak mendapat kejuaraan di bidang iptek sehingga membuatnya mendapat beasiswa studi ke luar negeri, maka dalam hal ini pendidikan menjadi saluran mobilitas sosial anak tersebut. Kemudian setelah ia menjabat sebagai direktur di perusahaan multinasional maka dalam hal ini saluran ekonomi menjadi saluran terhadap perubahan status sosialnya. Jawaban: A
Pembahasan Soal no. 3 Multikulturalisme memang menuntut masyarakat untuk hidup saling toleransi, saling pengertian dan saling menghargai. Realitas sosial dan budaya di Indonesia menghasilkan karakter-karakter masyarakat yang berbeda. Namun yang perlu kita ingat bahwasanya dari berbagai perbedaan tersebut masyarakat Indonesia memiliki ikatan yang kuat sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, karena meyakini adanya kesamaan nenek moyang. Keanekaragaman masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh faktor keadaan geografis Indonesia dan pengaruh kebudayaan asing. Jawaban: D
Pembahasan Soal no. 4 Gesellschaft atau Patembayan merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok untuk waktu yang pendek, strukturnya bersifat mekanis. Geselschaft atau Patembayan oleh Ferdinand Tonnies memiliki karakteristik terjadi dalam hubungan impersonal, bersifat formal, jangka waktunya pada umumnya adalah bersifat kontraktual atau tidak tetap, terbentuk berdasarkan atas nilai guna tertentu melalui kesadaran secara realitas individu, dan lebih bersifat khusus.
Dapat terjadi misalnya pada kelompok pedagang atau organisasi dalam suatu pabrik. Jawaban: A
Pembahasan Soal no. 5 Kompetisi merupakan cara yang dilakukan antara dua orang atau dua pihak untuk memperoleh atau mendapatkan sesuatu dengan cara yang sehat tanpa menggunakan kekerasan, paksaan dan ancaman. Namun lebih dengan menggunakan cara-cara yang sesuai dengan peraturan atau sesuai dengan kemampuan masing-masing. Jawaban: A
Prediksi Soal dan pembahasan UN SMA IPS-Sosiologi no 36-40

Prediksi Soal dan pembahasan UN SMA IPS-Sosiologi no 36-40

No Comments

Prediksi Soal dan pembahasan UN SMA IPS-Sosiologi no 36-40
Prediksi Soal no. 36 Beberapa fenomena dalam masyarakat:
(1) Sikap masyarakat yang tradisionalis
(2) Prasangka terhadap hal-hal yang baru
(3) Peperangan yang terjadi antarnegara
(4) Perubaan lingkungan fisik/geografis
Dari contoh di atas yang dapat menghambat perubahan sosial adalah ….
A. (1) dan (2)                       D. (2) dan (4)
B. (1) dan (3)                       E. (3) dan (4)
C. (2) dan (3)
Prediksi Soal no. 37 Ketika Aceh dilanda bencana alam tsunami, dengan cepat beritanya menyebar ke seluruh dunia. Tidak lama berselang empati dari berbagai negara pun disampaikan kepada bangsa Indonesia. Ditinjau dari perkembangan tekhnologi informasi, maka ilustrasi tersebut menggambarkan dampak positif dari ….
A. demokratisasi                    D. globalisasi
B. modernisasi                       E. sekularisasi
C. westernisasi
Prediksi Soal no. 38 Di kota-kota besar terdapat pola hubungan sosial yang lebih cenderung mementingkan kesenangan lahiriah/dunia sehingga sering terdengar slogan “yang penting senang”. Pola hidup yang demikian merupakan wujud dari ….
A. westenisasi                      D. liberalisme
B. modernisasi                      E. ektremisme
C. hedonisme
Prediksi Soal no. 39 Beberapa gejala sosial:
(1) Berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat
(2) Menjaga kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat
(3) Memiliki kitab undang-undang sebagai acuan
(4) Timbangan sebagai lambang keadilan masyarakat
Dari daftar tersebut, yang termasuk ciri lembaga hukum adalah ….
A. (1) dan (2)                 D. (2) dan (4)
B. (1) dan (3)                 E. (3) dan (4)
C. (2) dan (3)
Prediksi Soal no. 40 Beberapa gejala sosial:
(1) Ibu mengajari anak cara berbicara dengan orang yang lebih tua
(2) Bapak memberi contoh bagaimana bersikap baik kepada orang lain
(3) Ibu membelai anaknya dengan penuh kasih sayang dan ikhlas
(4) Orang tua membantu ketika anak menghadapi masalah
Dari contoh tersebut di atas yang termasuk fungsi sosialisasi dalam keluarga adalah…
A. (1) dan (2)                      D. (2) dan (4)
B. (1) dan (3)                      E. (3) dan (4)
C. (2) dan (3)
pembahasan UN SMA IPS-Sosiologi no 36-40
pembahasan Soal no. 36 Faktor penghambat perubahan sosial dalam suatu masyarakat adalah kurangnya hubungan dengan masyarakat luar, perkembangan iptek yang terlambat, sikap tradisional masyarakat, kepentingan pribadi (vested interest), rasa takut dan prasangka, hambatan ideologi, kebiasaan negatif dan nilai pasrah dalam hidup. Jawaban: A
pembahasan Soal no. 37 Perkembangan teknologi informasi merupakan sebuah dampak positif dari terjadinya globalisasi.Jawaban: D
pembahasan Soal no. 38 Hedonisme sebagai akibat dari perkem-bangan budaya yang merupakan sikap yang hanya mementingkan kesenangan dalam kehidupan.
Jawaban: C
pembahasan Soal no. 39 Lembaga hukum merupakan lembaga yang berfungsi mengendalikan masyarakat melalui peraturan hukum dan perundang-undangan yang berlaku.Jawaban: E
pembahasan Soal no. 40 Sosialisasi dalam keluarga sangat penting karena dalam tahap sosialisasi primer ini anak memperoleh dasar-dasar pergaulan hidup yang baik dan benar melalui orang tua di dalam keluarga. Jawaban: A
Kronik Luar Negeri dan Sumber Lokal Islam di Indonesia

Kronik Luar Negeri dan Sumber Lokal Islam di Indonesia

No Comments

Kronik Luar Negeri dan Sumber Lokal Islam di Indonesia- Sejumlah Kronik Luar Negeri dan Sumber Lokal tentang Keberadaan Masyarakat Islam Awal di Indonesia
a. Kronik-kronik Luar Negeri
Sejak abad ke-5 M, pedagang Arab telah menjalin kontak dengan pedagang dari Cina. Rute dagang bahari pedagang Cina-Arab ini tentunya melintasi perairan Indonesia. Karena itu, orang-orang Arab dipastikan telah mengenal masyarakat Indonesia sejak abad ke-5, yang ketika itu agama Islam pun belum lahir. Selanjutnya pada abad ke-7 M, para pedagang Islam dari Persia dan India telah melakukan kontak dagang di sejumlah pelabuhan di Indonesia. Aktifitas dagang ini semakin ramai sejak Dinasti Umayyah berkuasa. Perdagangan dilakukan oleh Bani Umayyah dengan Dinasti Tang melalui Selat Malaka. Informasi sejarah ini tersiar dari kronik Cina masa Dinasti Tang yang melaporkan perdagangan antara Cina dan Asia Barat.
Perdagangan itu melibatkan Indonesia karena kawasan ini dilalui pedagang Asia Barat sebelum dan sepulang dari Cina. Antara abad ke-7 dan 8 M sudah terdapat pemukiman muslim di Baros di pantai barat laut Sumatera, di pesisir utara Jawa, Maluku, dan Kanton di Cina Selatan. Masih menurut berita Cina bahwa pada tahun 977 M, sebuah kerajaan Islam di Indonesia telah mengirim utusannya ke negeri Cina. Kerajaan ini bernama Poni, utusannya bernama Pu Ali. Hingga sekarang data-data lain tentang keberadaan Kerajaan Poni ini belum ditemukan. Pada 1281 Kerajaan Melayu-Jambi mengirim utusan ke Cina dengan dua utusan yang bernama Sulaiman dan Syamsuddin—keduanya nama Islam. Tulisan pada nisan di Leheran, Gresik, berupa huruf Arab, memberitakan wafatnya wanita muslim bernama Fatimah binti Maimun yang bertanggal 1082 M (ada juga yang berpendapat 1181 M). Pemakaman muslim kuno di Trowulan membuktikan adanya bangsawan Majapahit yang memeluk Islam sejak masa Hayam Wuruk. Catatan Ma-Huan memberitakan bahwa pada awal abad ke-15 sebagian masyarakat di pantai utara Jawa (mungkin kota-kota pelabuhan seperti Tuban, Sedayu, dan Gresik) telah memeluk Islam.
Pelayaran kapal dagang dari Asia Barat ke Indonesia cukup bergantung kepada angin musim. Karena harus menunggu pergantian angin musim tersebut, para pedagang muslim akhirnya menetap cukup lama di sejumlah bandar di Indonesia. Selama singgah itulah terjalinlah interaksi sosial. Bandar-bandar dagang Indonesia yang penting berada di sekitar Selat Malaka dan pantai utara Laut Jawa. Komoditas yang diperdagangkan berupa hasil hutan, pertanian, dan kerajinan. Pedagang muslim yang turut andil dalam perdagangan terutama berasal dari Gujarat, di utara Bombay. Singgahnya para pedagang dalam waktu yang relatif lama, mengakibatkan berdirinya sejumlah pemukiman para pedagang muslim.
Berdirinya pemukiman-pemukiman itu membuka jalinan sosial antara pedagang muslim dengan penduduk pribumi. Interaksi itu berawal dari lingkup ekonomi lalu ke lingkup sosial, budaya, agama, dan politik. Dalam proses inilah penduduk Indonesia mengenali ajaran Islam. Pengenalan nilai-nilai Islam juga melibatkan peran mubalig yang ikut serta bersama para pedagang muslim. Mereka mendirikan pesantren dan masjid dalam pengenalan ajaran Islam lebih mendalam. Pengenalan itu tidak hanya dilakukan melalui dakwah, melainkan juga dengan perilaku terpuji.
Berita Cina memberitakan bahwa pada akhir abad ke-13 M, kerajaan kecil bernama “Sa-mu-ta-la” (Samudera) mengutus dutanya ke Cina. “Sa-mu-ta-la” merupakan ejaan orang Cina untuk Samudera Pasai. Adanya kerajaan Pasai ini diperkuat oleh catatan Marcopolo yang singgah di Sumatera pada 1292. Marcopolo menyatakan adanya masyarakat muslim di Perlak akhir abad ke-13 M. Suma Oriental, kronik karya Tome Pires musafir Portugis (Portugal), mencatat cukup lengkap penyebaran Islam di Sumatera, Kalimantan, Jawa, sampai Maluku pada abad ke-16 M. Tome Pires pernah singgah di Malaka, Sumatera, dan Jawa. Ia meninggalkan Kepulauan Indonesia sekitar tahun 1515 M. Tome Pires menulis kronik lain yang berjudul Portugese Relacion. Selain, Marcopolo dan Tome Pires, ada pula sejumlah pelaut Eropa yang sempat singgah di Indonesia, di antaranya: Ferdinand Mendez Pinto dan De Couto (menulis Da Asia) dari Portugis yang ke Indonesia tidak lama setelah Tome Pires.
b. Sumber-sumber Lokal: Historiografi Tradisional
Berbeda dengan sumber-sumber luar negeri, sumber-sumber lokal kebanyakan berbentuk kesusastraan. Kitab-kitab yang memuat informasi sejarah tersebut banyak bentuknya. Di Melayu, Sumatera, Banten, dan Kalimantan, biasanya berbentuk hikayat. Sedangkan di Jawa, seperti di Banten, Cirebon, Demak, Mataram, biasanya berbentuk babad, kitab, sajarah, kidung, carita, atau serat. Meski demikian, baik kronik luar negeri maupun sumber lokal, keduanya sama-sama merupakan penulisan (historiografi) tradisional. Bila kronik dari luar negeri ditulis oleh nama dan tahun yang jelas, para penulis lokal sering tak bernama. Sering sebuah karya dicatat oleh lebih dari satu orang. Kebanyakan kitab tesebut berbahasa Melayu dan Jawa dan beraksara Arab gundul atau Jawi. Selain tak tercantum nama penulis, kitab-kitab mereka acap kali tak mencantumkan tanggal, bulan, dan tahun yang pasti. Malah bisa saja, sebuah kitab yang menceritakan, misalnya, abad ke-15, ditulis pada satu-dua abad berikutnya. Oleh karena itu, peristiwa-peristiwa yang tercantum dalam kitab itu banyak yang tidak faktual. Sering terjadi pula adanya perbedaan antara kitab satu dengan yang lain, seperti perbedaan waktu, nama raja, gelar, tempat, atau silsilah.
Tujuan masing-masing penulis pun berbeda dengan tujuan para penulis luar negeri. Para penulis pribumi banyak yang tinggal di istana raja tertentu. Maka, mereka tentunya menulis untuk tujuan mengagung-agungkan raja mereka. Di samping itu, isi dari kitab-kitab tersebut sering tak masuk akal. Para penulisnya banyak memasukkan kisah yang sebetulnya tak pernah terjadi. Banyak cerita legenda atau mitologi yang mengisi kitab-kitab tersebut. Meskipun demikian, ada beberapa peristiwa di dalamnya yang memang pernah terjadi secara historis.
Peninggalan Hindu Bidang Seni Rupa

Peninggalan Hindu Bidang Seni Rupa

No Comments
 Peninggalan Hindu Bidang Seni Rupa- Selain pada arsitektur, pengaruh budaya Hindu-Buddha terlihat pada bidang seni rupa, seperti corak relief, patung atau arca, dan makara pada candi atau keraton. Dalam hal motif yang pada masa prasejarah berupa motif-motif budaya Vietnam purba, maka pada masa Hindu-Buddha berkembang dan makin beragam.
a.    Patung
Arca (patung) dipahat membentuk mahluk tertentu, biasanya manusia atau binatang dengan tujuan mengabadikan tokoh yang dipatungkan. Patung dibuat oleh para seniman dan pemahat handal yang termasuk kasta waisya. Biasanya patung ini disimpan dalam candi sebagai penghormatan terhadap dewa dan raja yang disembah. Adakalanya sebuah patung raja disimbolkan sebagai patung dewa atau raja yang dipuja.
1)    Patung Bercorak Hindu
Patung Hindu biasanya berwujud dewa-dewi, raja, dan mahluk mistik seperti makara. Patung raja biasanya tidak ditampilkan sebagaimana adanya melainkan menyerupai dewa atau dewi tertentu yang diidentikkan dengan raja bersangkutan, misalnya:
(a) Patung dewa-dewi, misalnya Trimurti dan Durga. Pada patung Trimurti, patung Siwa biasanya tampak lebih dominan. Dewa ini ditampilkan dalam beragai wujud antara ain mahaguru, mahakala, dan bhairawa;
(b) Patung Airlangga (Medang Kamulan) dalam wujud Wisnu sedang menunggang burung Garuda;
(c) Patung Ken Dedes dalam wujud Dewi Pajnaparamita;
(d) Patung Kertanegara dalam wujud Joko Dolok dan Amoghapasya;
(e) Patung Kertarajasa (Raden Wijaya) dalam wujud Dewa Siwa;
(f) Patung Dwarapala atau Batara Kala dalam wujud raksasa memegang gada.
Patung Durga
Gambar 1.22 Patung Durga yang ditemukan di Jawa Barat
2)    Patung Bercorak Buddha
Umumnya patung-patung bercorak Buddha berwujud Sang Buddha dalam berbagai posisi, meski ada juga sejumlah patung Bodhisattva. Patung Sang Buddha tampil dalam berbagai posisi dengan sikap tangan (mudra) menghadap arah mata angin tertentu. Sikap tangan Sang Buddha tersebut mengandung makna tersendiri, yaitu:
(a) Arca Aksobhya dengan sikap bumisparca-mudra yaitu sikap tangan menyentuh bumi sebagai saksi. Arca menghadap ke timur.
(b) Arca Ratnasambhawa dengan sikap wara-mudra, yaitu sikap tangan memberi anugerah. Arca menghadap selatan.
(c) Arca Amithaba dengan sikap dhyana-mudra, sikap tangan bersemadi. Arca menghadap ke barat. (d) Arca Amogashidi, sikap abhaya-mudra, sikap tangan menenteramkan. Arca menghadap utara.
(e) Arca Wairicana, sikap dharmacaraka-mudra, sikap tangan memutar rodadharma. Arca tersembunyi dalam stupa.
  1. a.    Relief
    Relief merupakan seni pahat-timbul pada dinding candi yang terbuat dari batu. Pada candi bercorak Hindu, relief tersebut biasanya melukisan cerita atau kisah yang diambil dari kitab-kitab suci maupun sastra (bias cerita utuh, bias pula hanya cuplikan), misalnya Mahabharata, Ramayana, Sudamala, Kresnayana, Arjuna Wiwaha, berikut tokoh-tokoh Wayang Punakawan yang tak terdapat di India. Sedangkan dalam candi Buddha, pada reliefnya terpahat cerita seputar kisah hidup Siddharta Sang Buddha. Ada pula relief yang menceritakan cerita legenda dari India dan cerita fabel.
Masing-masing daerah memiliki corak relief yang khas. Relief pada candi di Jawa Tengah tak sama dengan relief di candi di Jawa Timur. Di Jawa Tengah, karakteristik objek (manusia, hewan, tumbuhan) pada relief-reliefnya bersifat natural; artinya bentuk pahatan objek tak jauh beda dengan bentuk asli dari objek tersebut (dua dimensi). Sedangkan, karakteristik objek pada relief di Jawa Timur tampak lebih pipih seperti bentuk wayang kulit (satu dimensi). Menurut para ahli, peralihan karakteristik para relief ini menunjukkan peralihan dari zaman Hindu-Jawa ke zaman Jawa-Hindu. Artinya: ketika kekuasaan beralih dari barat (Jawa Tengah) ke timur (Jawa Timur), dengan sendirinya kebudayaan masyarakat Jawa makin berkembang, makin percaya diri dengan corak seninya sendiri, tanpa harus terus menyontek budaya India.
Relief Dewa Kuwera
Gambar 1.23 Relief Dewa Kuwera pada Candi Borobudur, dewa yang dihormati oleh umat Hindu dan Buddha
Beberapa relief yang terdapat di candi-candi Jawa Tengah dan Timur adalah:
(1) Relief pada Candi Borobudur memuat cerita:
(a) Karmawibbhangga, dipahatkan pada kaki candi yang ditimbun, menceritakan sebab akibat perbuatan baik buruk manusia.
(b) Lalitavistara, dipahatkan pada dinding lorong pertama,menceritakan riwayat Sang Buddha sejak lahir sampai turunnya amanat pertama di Taman Rusa.
(c) Jatakamala-awadana, dipahatkan pada sebagian dinding lorong pertama dan kedua, berupa kumpulan sajak tentang perbuatan Sang Buddha dan para bodhisattva semasa hidupnya.
(d) Gandawyuha-bhadracari, dipahatkan pada dinding lorong kedua sampai keempat, menceritakan usaha Sudhana mencari ilmu yang tinggi sampai ia bersumpah mengikuti bodhisattva samanthabhadra.
(2) Relief pada Candi Prambanan memuat cerita:
(a) Ramayana, dipahatkan pada pagar langkan (dinding serambi atas) Candi Siwa dan diteruskan pada pagar langkan Candi Brahma.
(b) Kresnayana, dipahatkan pada pagar langkan Candi Wisnu.
(3) Relief pada Candi Sukuh, memuat cerita Sudamala yang diperankan Sadewa, bungsu Pandawa. Diceritakan Sadewa berhasil ngruwat (dari kata ngerawat atau memelihara) Batari (Dewi) Durga yang mendapat kutukan dari Batara Guru (Dewa Siwa) karena perselingkuhannya. Sadewa berhasil ngruwat Batari Durga yang semula raksasa betina bernama Hyang Pramoni kembali menjadi seorang bidadari cantik bernama Batari Uma. Cerita Sudamala (suda artinya bersih, mala artinya dosa) diambil dari Kidung Sudamala. Ada 5 adegan cerita Sudamala pada Candi Sukuh, yaitu: p ertama menggambarkan ketika Dewi Kunti meminta kepada Sadewa agar mau “ngruwat” Batari Durga namun Sadewa menolak. Kedua menggambarkan ketika Bima mengangkat raksasa dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menancapkan kuku “Pancanaka” ke perut raksasa. Ketiga menggambarkan ketika Sadewa diikat kedua tangannya diatas pohoh randu alas karena menolak keinginan “ngruwat” sang Batari Durga. Dan sang Durga mengancam Sadewa dengan sebuah pedang besar di tangannya untuk memaksa Sadewa. Keempat menggambarkan Sadewa berhasil “ngruwat” sang Durga. Sadewa kemudian diperintahkan pergi kepertapaan Parangalas. Di situ Sadewa menikah dengan Dewi Pradapa. Kelima menggambarkan ketika Dewi Uma (Durga setelah diruwat Sadewa) berdiri di atas Padmasana. Sadewa beserta punakawan menghaturkan sembah pada Dewi Uma.
(4) Relief pada Candi Jago, memuat cerita Kresnayana, Parthayajna, dan Kunjarakarna. Di candi ini untuk pertama kalinya kita jumpai tokoh-tokoh Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong) yang setia menyertai ksatria.
(5) Relief pada Candi Surowono, memuat cerita Arjuna Wiwaha dan adegan Sri Tanjung yang dibunuh Sidapaksa (6) Relief Candi Panataran, memuat cerita Ramayana dan Kresnayana.
Relief cerita Sudamala
Gambar 1.24 Relief cerita Sudamala pada Candi Sukuh di Jawa Timur, tampak bentuknya yang pipih seperti sosok wayang kulit
Sebetulnya masih banyak lagi relief- relief yang ada pada pelataran candi-candi yang lainnya. Sebagian bahkan belum dapat ditafsirkan ceritanya.
  1. c.    Makara
    Dalam mitologi Hindu-Buddha, makara adalah perwujudan seekor binatang laut besar yang diidentikkan dengan buaya, hiu, lumba-lumba, sebagai binatang luar biasa. Binatang “jadi-jadian” ini menjadi salah satu motif yang lazim dalam arsitektur India dan Jawa. Biasanya patung (bisa pula berbentuk relief) makara ini dipajang pada pintu gerbang candi atau keraton. Pada Candi Borobudur, contohnya, makaranya berbentuk binatang paduan: berkepala gajah, bertelinga sapi, bertanduk domba, dengan singa berukuran kecil di dalam mulut makara tersebut. Pahatan makara ini biasanya berfungsi sebagai mulut saluran air mancur.
PERBANDINGAN PELAKSANAAN PEMILU ORDE LAMA, ORDE BARU DAN REFORMASI

PERBANDINGAN PELAKSANAAN PEMILU ORDE LAMA, ORDE BARU DAN REFORMASI

No Comments

PENGERTIAN PEMILU

Dari berbagai sudut pandang, banyak pengertian mengenai pemilihan umum. Tetapi intinya adalah pemilihan umum merupakan sarana untuk mewujudkan asas kedaulatan di tangan rakyat sehingga pada akhirnya akan tercipta suatu hubungan kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dan, ini adalah inti kehidupan demokrasi.
Pemilu dapat dipahami juga sebagai berikut:
Dalam undang-undang nomor 3 tahun 1999 tentang pemilihan umum dalam bagian menimbang butir a sampai c disebutkan:
  1. Bahwa berdasarkan undang-undang dasar 1945, negara republik indonesia adalah negara yang berkedaulatan rakyat;
  2. Bahwa pemilihan umum merupakan sarana untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam rangka keikutsertaan rakyat dalam penyelenggaraan pemerintahan negara
  3. Bahwa pemilihan umum umum bukan hanya bertujuan untuk memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk dalam lembaga Permusyawaratan/Perwakilan, melainkan juga merupakan suatu sarana untuk mewujudkan penmyusunan tata kehidupan Negara yang dijiwai semangat Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Demikian juga dalam bab I ketentuan umum pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa: “pemilihan umum adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam negara kesatuan republik indonesia yang berdasarkan pancasila dan undang-undangn 1945. Pemilihan Umum, selanjutnya disebut Pemilu, adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat yang dilaksanakan secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan PancasiladanUndang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun1945.
AsasPemilu: Pemilu dilaksanakan secara efektif dan efisien berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

SISTEM PEMILU

Sistem perwakilan distrik (single member constituency)

Sistem distrik merupakan sistem pemilu yang paling tua dan didasarkan pada persatuan geografis, dimana satu kesatuan geografis mempunyai satu wakil di parlemen.

Sistem Proporsional

Sistem Proporsional adalah seluruh wilayah merupakan satu kesatuan. Jadi seperti partai kecil yang memiliki suara di Papua, Kalimantan, dan lain-lain, bisa dijumlahkan, sehingga Sistem Proporsional memungkinkan partai-partai kecil berkiprah di parlemen. Jika mereka kalah di wilayah pemilihan tertentu, partai-partai kecil tidak otomatis gugur, karena masih ada akumulasi suara sisa yang memungkinkan mereka memperoleh kursi di DPR.

Sistem gabungan

Sistem Gabungan merupakan sistem yang menggabungkan sistem distrik dengan proporsional

PEMILU ORDE LAMA

Pada masa sesudah kemerdekaan, Indonesia menganut sistem multi partai yang ditandai dengan hadirnya 25 partai politik. Hal ini ditandai  dengan Maklumat Wakil Presiden No. X tanggal 16 Oktober 1945 dan Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945. Menjelang Pemilihan Umum 1955 yang berdasarkan demokrasi liberal bahwa jumlah parpol meningkat hingga 29 parpol dan juga terdapat peserta perorangan.
Pada masa diberlakukannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, sistem kepartaian Indonesia dilakukan penyederhanaan dengan Penpres No. 7 Tahun 1959 dan Perpres No. 13 Tahun 1960 yang mengatur tentang pengakuan, pengawasan dan pembubaran partai-partai.  Kemudian pada tanggal 14 April 1961 diumumkan hanya 10 partai yang mendapat pengakuan dari pemerintah, antara lain adalah sebagai berikut: PNI, NU, PKI, PSII, PARKINDO, Partai Katholik, PERTI MURBA dan PARTINDO. Namun, setahun sebelumnya pada tanggal 17 Agustus 1960, PSI dan Masyumi dibubarkan.
Dengan berkurangnya jumlah parpol dari 29 parpol menjadi 10 parpol tersebut, hal ini tidak berarti bahwa konflik ideologi dalam masyarakat umum dan dalam kehidupan politik dapat terkurangi. Untuk mengatasi hal ini maka diselenggarakan pertemuan parpol di Bogor pada tanggal 12 Desember 1964 yang menghasilkan “Deklarasi Bogor.”
Tokoh partai PNI
Tokoh Partai Masyumi
Tokoh Partai NU
  • Syeikh Nawawi al-Bantani
  • Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari
  • Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi
  • Syeikh Ahmad Khatib Sambas
  • Syeikhona Kholil Bangkalan
  • Kyai Abdullah Termas
  • KH. Hasyim As’ari
  • KH. Wahab Hasbullah
  • KH. Bisri Syamsuri
  • . KH. Wahid Hasyim
  • KH. Ahmad Siddiq
  • . KH. As’ad Syamsul Arifin
  • KH Saifuddin Zuhri
  • KH. Maksum Ali
  • KH. Zainul Arifin
  • KH TURAICHAN KUDUS
  • KH Agus Maksum Jauhari
  • KH. Bisri Mustafa
  • KH. Asnawi Kudus
  • KH. Abbas Djamil Buntet
Tokoh partai PKI
  • Mr. Amir Syarifuddin
  • Maruto Darusma
  • Tan Ling Djie
  • Abdulmajid
  • Muso
  • Setiadjit

Pemilu 1955

Hasil penghitungan suara dalam Pemilu 1955 menunjukkan bahwa Masyumi mendapatkan suara yang signifikan dalam percaturan politik pada masa itu. Masyumi menjadi partai Islam terkuat, dengan menguasai 20,9 persen suara dan menang di 10 dari 15 daerah pemilihan, termasuk Jakarta Raya, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Tengah, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tenggara Selatan, dan Maluku. Namun, di Jawa Tengah, Masyumi hanya mampu meraup sepertiga dari suara yang diperoleh PNI, dan di Jawa Timur setengahnya. Kondisi ini menyebabkan hegemoni penguasaan Masyumi secara nasional tak terjadi.
Berikut hasil Pemilu 1955:
  1. Partai Nasional Indonesia (PNI) – 8,4 juta suara (22,3%)
  2. Masyumi – 7,9 juta suara (20,9%)
  3. Nahdlatul Ulama – 6,9 juta suara (18,4%)
  4. Partai Komunis Indonesia (PKI) – 6,1 juta suara (16%)

Kelebihan sistem Pemerintahan Orde Baru

  • perkembangan GDP per kapita Indonesia yang pada tahun 1968 hanya AS$70 dan pada 1996 telah mencapai lebih dari AS$1.000
  • sukses transmigrasi
  • sukses KB
  • sukses memerangi buta huruf
  • sukses swasembada pangan
  • pengangguran minimum
  • sukses REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun)
  • sukses Gerakan Wajib Belajar
  • sukses Gerakan Nasional Orang-Tua Asuh
  • sukses keamanan dalam negeri
  • Investor asing mau menanamkan modal di Indonesia
  • sukses menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta produk dalam negeri

Kekurangan Sistem Pemerintahan Orde Baru

  • semaraknya korupsi, kolusi, nepotisme
  • pembangunan Indonesia yang tidak merata dan timbulnya kesenjangan pembangunan antara pusat dan daerah, sebagian disebabkan karena kekayaan daerah sebagian besar disedot ke pusat
  • munculnya rasa ketidakpuasan di sejumlah daerah karena kesenjangan pembangunan, terutama di Aceh dan Papua
  • kecemburuan antara penduduk setempat dengan para transmigran yang memperoleh tunjangan pemerintah yang cukup besar pada tahun-tahun pertamanya
  • bertambahnya kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang tidak merata bagi si kaya dan si miskin)
  • kritik dibungkam dan oposisi diharamkan
  • kebebasan pers sangat terbatas, diwarnai oleh banyak koran dan majalah yang dibreidel
  • penggunaan kekerasan untuk menciptakan keamanan, antara lain dengan program “Penembakan Misterius” (petrus)
  • tidak ada rencana suksesi (penurunan kekuasaan ke pemerintah/presiden selanjutnya)

Pasca-Orde Baru

Mundurnya Soeharto dari jabatannya pada tahun 1998 dapat dikatakan sebagai tanda akhirnya Orde Baru, untuk kemudian digantikan “Era Reformasi“.Masih adanya tokoh-tokoh penting pada masa Orde Baru di jajaran pemerintahan pada masa Reformasi ini sering membuat beberapa orang mengatakan bahwa Orde Baru masih belum berakhir. Oleh karena itu Era Reformasi atau Orde Reformasi sering disebut sebagai “Era Pasca Orde Baru”.

Pemilu di Masa Reformasi

Berakhirnya rezim Orde Baru, telah membuka peluang guna menata kehidupan demokrasi. Reformasi politik, ekonomi dan hukum merupakan agenda yang tidak bisa ditunda. Demokrasi menuntut lebih dari sekedar pemilu. Demokrasi yang mumpuni harus dibangun melalui struktur politik dan kelembagaan demokrasi yang sehat. Namun nampaknya tuntutan reformasi politik, telah menempatkan pelaksanan pemilu menjadi agenda pertama.
Pemilu pertama di masa reformasi hampir sama dengan pemilu pertama tahun 1955 diwarnai dengan kejutan dan keprihatinan. Pertama, kegagalan partai-partai Islam meraih suara siginifikan. Kedua, menurunnya perolehan suara Golkar. Ketiga, kenaikan perolehan suara PDI P. Keempat, kegagalan PAN, yang dianggap paling reformis, ternyata hanya menduduki urutan kelima. Kekalahan PAN, mengingatkan pada kekalahan yang dialami Partai Sosialis, pada pemilu 1955, diprediksi akan memperoleh suara signifikan namun lain nyatanya.
Walaupun pengesahan hasil Pemilu 1999 sempat tertunda, secara umum proses pemilu multi partai pertama di era reformasi jauh lebih Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia (Luber) serta adil dan jujur dibanding masa Orde Baru. Hampir tidak ada indikator siginifikan yang menunjukkan bahwa rakyat menolak hasil pemilu yang berlangsung dengan aman. Realitas ini menunjukkan, bahwa yang tidak mau menerima kekalahan, hanyalah mereka yang tidak siap berdemokrasi, dan ini hanya diungkapkan oleh sebagian elite politik, bukan rakyat.
Pemilu 2004, merupakan pemilu kedua dengan dua agenda, pertama memilih anggota legislatif dan kedua memilih presiden. Untuk agenda pertama terjadi kejutan, yakni naiknya kembali suara Golkar, turunan perolehan suara PDI-P, tidak beranjaknya perolehan yang signifikan partai Islam dan munculnya Partai Demokrat yang melewati PAN. Dalam pemilihan presiden yang diikuti lima kandidat (Susilo Bambang Yudhoyono, Megawati Soekarno Putri, Wiranto, Amin Rais dan Hamzah Haz), berlangsung dalam dua putaran, telah menempatkan pasangan SBY dan JK, dengan meraih 60,95 persen.
  Candi-candi di Jawa Tengah Bagian Selatan

Candi-candi di Jawa Tengah Bagian Selatan

No Comments
Candi-candi Jawa Tengah bagian selatan menggambarkan susunan masyarakat yang feodalistik dengan raja sebagai pusat dunia. Candi-candi yang ukurannya lebih kecil mengitari candi utama yang lebih besar.
a)    Komplek Candi Roro Jonggrang (Prambanan)
Di sekitar Candi Prambanan ini banyak terdapat candi-candi kecil dan tiga candi induk. Komplek candi ini didirikan atas perintah Raka i Pikatan dan selesai semasa pemerintahan Raja Daksa dari Mataram. Candi Prambanan merupakan candi Hindu karena nama candi-candinya memakai nama dewa-dewa Hindu. Komplek candi ini didirikan di kaki Gunung Merapi.
Candi Prambanan Roro Jonggrang

b)    Candi Kalasan
Candi Kalasan bercorak Mahayana, tingginya 6 meter dengan stupa 52 buah. Candi ini didirikan pada 778 M atas perintah Raka i Panangkaran sebagai persembahan kepada Dewi Tara. Panangkaran sendiri beragama Hindu-Siwa, namun karena ketika itu yang berkuasa atas Mataram adalah Dinasti Syailendra maka agama Buddha pun berkembang pesat di Mataram. Pada Prasasti Kalasan yang ditulis dalam bentuk puisi berbahasa Sansekerta dan huruf Pranagari, disebutkan bahwa para rahib Buddha meminta izin kepada Raja Panangkaran untuk mendirikan tempat suci untuk Dewi Tara. Raja mengabulkannya dan menghadiahkan Desa Kalasan kepada para rahib. Dewi Tara sendiri adalah dewi kasih-sayang dan pelindung bagi umat Buddha.
c)    Candi Borobudur
Candi Borobudur, tingginya mencapai 42 meter, juga merupakan candi Mahayana, terletak di Magelang, utara Yogyakarta. “Borobudur” berasal dari kata“bara” dan “budur”. Bara berasal dari kata wihara atau biara dari Sansekerta yang berarti kuil atau asrama. Sedangkan budur diperkirakan berasal dari kata beduhur yang artinya “di atas”. Jadi, Borobudur dapat diartikan sebagai biara yang ada di atas bukit. Candi ini didirikan sekitar tahun 800-an M atas perintah raja-raja Mataram dari Dinasti Syailendra. Bentuk dasar candi ini adalah punden berundak-undak, namun disesuaikan dengan filosofi Buddha Mahayana. Borobudur bersusun tiga tingkat, yaitu kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu dengan relief sepanjang 4 km dan arca Buddha berjumlah lebih dari 500 buah. Pada seluruh dinding Borobudur, terdapat sebelas seri relief yang memuat kurang-lebih dari 1.460 buah adegan. Relief-relief tersebut memuat berbagai kisah: cerita Buddha, surga dan neraka, dan kisah-kisah dari kitab yang terkenal seperti cerita Karmawibhangga. Namun, sebagian relief lain masih belum dapat diartikan ceritanya. Di atas puncak Borobudur ini terdapat sebuah stupa yang paling besar. Di setiap stupa terdapat patung Buddha dalam berbagai posisi.
d)    Candi Mendut
Candi Mendut terletak 2 km arah selatan dari Candi Borobudur, juga merupakan candi Buddha dan didirikan raja Mataram pertama dari Dinasti Syailendra, Raja Indra. Dengan demikian, usianya lebih tua dari Borobudur. Di dalam candi terdapat tiga patung Sang Buddha. Masing-masing adalah patung Buddha Cakyamurti yang duduk bersila dan bersikap sedang berkotbah; patung Awalokiteswara, yaitu Boddhi-satwa penolong manusia; dan patung Maitreya, yaitu Boddhisatwa pembebas manusia di alam akhirat. Awalokiteswara atau Avalokiteshvara adalah patung Buddha dengan amithaba di mahkotanya yang melambangkan dharma, sedangkan Padmapani atau Vajrapani merupakan patung Buddha yang memegang bunga terati merah di tangannya sebagai lambang sangha. Pada dinding candi terdapat relief cerita fabel (cerita dunia binatang).
Candi Borobudure)    Candi Pawon
Candi ini berada di antara Borobudur dan Mendut, juga bercorak Buddha, diperkirakan berasal dari masa yang sama dengan Borobudur-Mendut. Posisi Candi Pawon sejajar dengan letak Borobudur dan Mendut. Bahan dasar candi ini adalah batu

andesit. Tubuh candi dihiasi ukiran pohon kalpataru yang dipahat dengan sangat halus. Namun, patung-patung di dalamnya sudah hilang entah ke mana. Di atas pintu masuk, terdapat hiasan bermotif kalamakara, yaitu relief berupa makhluk surga, singa, pohon, dan sukur-sulur bunga teratai. Seluruh badan candi dihiasi dagoba-dagoba.
f)    Komplek Candi Sewu
Komplek Candi Sewu didirikan oleh Raja Indra dari Dinasti Syailendra, merupakan candi Buddha juga, terletak di utara Candi Prambanan, di tapal batas Yogyakarta-Surakarta dan selesai dibangun kira-kira tahun 1098 M. Candi Sewu masih berkaitan dengan Candi Prambanan. Sebagian dari 1.000 candi yang diminta Roro Jonggrang adalah candi-candi yang ada di Sewu. Namun, pendapat tersebut meragukan mengingat Prambanan adalah candi Hindu sedangkan Sewu adalah candi Buddha. Walaupun disebut Candi Sewu namun jumlah candi yang ada tidak mencapai seribu, melainkan hanya 241, terdiri dari satu candi induk, dikelilingi oleh 240 candi perwara (candi kecil) yang tersusun atas empat baris. Pada pintu masuk candi terdapat dua buah arca Dwarapala, yakni arca raksasa yang duduk menjaga pintu dan memegang gada.
Candi-candi perwara
g)    Komplek Candi Plaosan
Komplek Candi Plaosan berlokasi di Desa Plaosan, Klaten. Komplek candi ini terdiri atas Plaosan Lor (Utara) dan Plaosan Kidul (Selatan). Kelompok candi utara bentuknya lebih besar dari yang ada di selatan. Berbeda dengan kebanyakan candi yang ada di Jawa Tengah, Candi Plaosan ini menghadap ke barat. Komplek ini didirikan atas perintah Raja Mataram, Raka i Pikatan yang Hindu dan Pramodawardhani (Sri Kaluhunan), istri Raka i Pikatan yang beragama Buddha dari Dinasti Syailendra. Komplek bagian utara terbagi atas dua halaman dan pada setiap halaman terdapat candi induk. Kedua halaman tersebut dikelilingi oleh tembok dalam dan luar yang jaraknya agak berjauhan. Pada halaman antara kedua tembok keliling itu terdapat 58 candi perwara dan 128 stupa. Tinggi stupanya lebih dari 7 meter.
h)    Candi Sukuh
Candi Sukuh merupakan candi Siwa peninggalan Majapahit, terletak di lereng Gunung Lawu, Karanganyar. Pada candi ini terlihat corak Jawa asli yang mendominasi daripada corak Hindu. Relief candi ini sangat sederhana dibanding candi-candi lainnya, tampak kasar, dan terkesan dibuat oleh orang desa yang bukan ahli pahat profesional. Candi ini berbentuk punden berundak-undak. Dengan demikian, dapat ditarik simpulan: meski agama Hindu-Buddha memengaruhi kehidupan, namun masyarakat setempat masih menjungjung tinggi roh nenek-moyang.
Candi Plaosan

Candi ini memiliki patung dan pahatan berupa lingga (alat kelamin pria) yang berhadapan dengan yoni (alat kelamin perempuan). Inilah candi yang paling erotis yang pernah ada di Jawa. Namun, pembuatan lingga-yoni ini bukan dimaksudkan sebagai seni pornografis, melainkan melambangkan kesuburan, kemakmuran serta cenderung mistis. Di sisi kanan candi terdapat relief pasangan wanita-pria yang menggendong bayi. Candi ini menggambarkan proses persatuan wanita-pria hingga kelahiran manusia.
Di samping relief kesuburan, ada pula relief dan tugu tentang pewayangan, seperti kelahiran Bima, anak kedua Pandawa; Bima sedang membunuh raksasa Kalantaka; cerita Sudamala yang mengisahkan Sadewa bungsu Pandawa yang diikat oleh Dewi Durga di sebatang pohon.
i)    Candi Sajiwan
Candi Sajiwan terletak di selatan Prambanan, merupakan candi Buddha, didirikan sebagai tempat pendarmaan Rakryan Sanjiwana. Sanjiwana merupakan nama lain dari Sri Pramodawardhani, anak Samaratungga yang menikah dengan Raka i Pikatan Raja Mataram. Candi ini sekarang tinggal pondasinya saja.
j)    Candi Lumbung
Candi Lumbung terletak di selatan Candi Sewu namun bentuknya lebih kecil, bercorak Buddha. Candi ini terdiri atas candi pusat yang dikelilingi enam belas candi berbentuk persegi empat. Atapnya kini telah runtuh.
k)    Candi Sari
Candi Sari disebut juga Candi Bendah, merupakan candi Buddha, lokasinya tak jauh dari Candi Kalasan; dibangun bersamaan dengan Candi Kalasan, terlihat dari arsitekturnya yang tak jauh beda. Di depan pintu masuk terdapat dua raksasa (Dwarapala) yang memegang gada dan ular sebagai penjaga candi. Candi Sari ini merupakan wihara dengan panjang 17,32 m dan lebar 10 m.
Candi-candi di Jawa Tengah bagian utara- Corak candi Jawa Tengah bagian utara mengambarkan susunan masyarakat demokratis. Kedemokratisan ini terlihat dari tak ada candi yang mencolok melebihi candi lainnya.
a)    Komplek Candi Dieng
Komplek Candi Dieng berdiri di dataran tingggi Dieng, Wonosobo, dibangun oleh Wangsa Sanjaya dari Mataram pada abad ke-8 hingga ke-9 M. Candi-candi yang ada di komplek ini bercorak Hindu dan merupakan tempat ziarah raja-raja Mataram. Namanama candi yang terdapat di komplek ini semuanya diambil dari dunia pewayangan, seperti Puntadewa, Bima, Arjuna, Gatotkaca, Semar, Sumbadra, dan Srikandi.
b)    Komplek Candi Gedong Songo
Komplek ini terletak di lereng Gunung Ungaran, Ambarawa, didirikan pada abad ke-7 sampai ke-8 M oleh Sanjaya sebagai penghormatan terhadap Dewa Trimurti umat Hindu, khususnya Siwa. Candi-candi di komplek ini berjumlah sembilan (songo dalam bahasa Jawa). Bangunan ini termasuk candi tertua yang ada di Jawa.
c)    Candi Canggal
Candi Arjuna

Candi Canggal ini ditemukan di daerah Sleman dan didirikan semasa pemerintah Raja Sanjaya dari Mataram. Pada candi inilah terdapat Prasasti Canggal yang menceritakan asal-usul Dinasti Sanjaya.
  PENGARUH HINDU-BUDDHA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT INDONESIA

PENGARUH HINDU-BUDDHA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT INDONESIA

No Comments

Kebudayaan merupakan wujud dari peradaban manusia, sebagai hasil akal-budi manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik primer, sekunder, atau tersier. Wujud kebudayaan ini cukup beragam, mencakup wilayah bahasa, adat-istiadat, seni (rupa, sastra, arsitektur), ilmu pengetahuan, dan teknologi. Dan setiap kebudayaan yang lebih maju pasti mendominasi kebudayaan yang berada di bawahnya. Begitu pula kebudayaan India yang dengan mudah diterima masyarakat Indonesia.
Pengaruh Hindu dan Buddha terhadap kehidupan masyarakat Indonesia dalam bidang kebudayaan, berbarengan dengan datangnya pengaruh dalam bidang agama itu sendiri. Pengaruh tersebut dapat berwujud fisik dan nonfisik. Hasil kebudayaan pada masa Hindu-Buddha di Indonesia yang berwujud fisik di antaranya: arca atau patung, candi (kuil), makara, istana, kitab, stupa, tugu yupa, prasasti, lempengan tembaga, senjata perang, dan lain-lain. Sedangkan peninggalan kebudayaan yang bersifat nonfisik di antaranya: bahasa, upacara keagamaan, seni tari, dan karya sastra.
Wilayah India yang cukup banyak memberikan pengaruhnya terhadap Indonesia adalah India Selatan, kawasan yang didiami bangsa Dravida. Ini terbukti dari penemuan candi-candi di India yang hampir menyerupai candi-candi yang ada di Indonesia. Begitu pula jenis aksara yang banyak ditemui pada prasasti di Indonesia, adalah jenis huruf Pallawa yang digunakan oleh orang-orang India selatan.
Prasasti lempengan tembaga Raja Kertawijaya
Gambar 1.7 Prasasti dari lempengan tembaga pada masa Raja Kertawijaya (Majapahit), tahun 1369 Saka atau 1447 M
Meskipun budaya India berpengaruh besar, akan tetapi masyarakat Indonesia tidak serta-merta meniru begitu saja kebudayaan tersebut. Dengan kearifan lokal masyarakat Indonesia, budaya dari India diterima melalui proses penyaringan (filtrasi) yang natural. Bila dirasakan cocok maka elemen budaya tersebut akan diambil dan dipadukan dengan budaya setempat, dan bila tak cocok maka budaya itu dilepaskan. Proses akulturasi budaya ini dapat dilihat pada model arsitektur, misalnya, punden berundak (budaya asli Indonesia) pada Candi Sukuh di Jawa Tengah; atau pada dinding-dinding Candi Prambanan yang memuat relief tentang kisah pewayangan yang memuat tokoh Punakawan; yang dalam relief manapun di India takkan ditemui.
  1. 1.    Praktik Peribadatan
    Pengaruh Hindu-Buddha terhadap aktifitas keagamaan di Indonesia tercermin hingga kini. Kalian dapat merasakannya kini di Bali, pulau yang mayoritas penduduknya penganut Hindu. Kehidupan sosial, seni, dan budaya mereka cukup kental dipengaruhi tradisi Hindu. Jenazah seseorang yang telah meninggal biasanya dibakar, lalu abunya ditaburkan ke laut agar “bersatu” kembali dengan alam. Upacara yang disebut ngaben ini memang tidak diterapkan kepada semua umat Bali-Hindu, hanya orang yang mampu secara ekonomi yang melakukan ritual pembakaran mayat (biasa golongan brahmana, bangsawan, dan pedagang kaya).
Selain Bali, masyarakat di kaki Bukit Tengger di Malang, Jawa Timur, pun masih menjalani keyakinan Hindu. Meski sebagian besar masyarakat Indonesia kini bukan penganut Hindu dan Buddha, namun dalam menjalankan praktik keagamaannya masih terdapat unsur-unsur Hindu-Buddha. Bahkan ketika agama Islam dan Kristen makin menguat, pengaruh tersebut tak hilang malah terjaga dan lestari. Beberapa wilayah yang sebelum kedatangan Islam dikuasai oleh Hindu secara kuat, biasanya tidak mampu dihilangkan begitu saja aspek-aspek dari agama sebelumnya tersebut, melainkan malah agama barulah (Islam dan Kristen) mengadopsi beberapa unsur kepercayaan sebelumnya. Gejala ini terlihat dari munculnya beberapa ritual yang merupakan perpaduan antara Hindu-Buddha, Islam, bahkan animisme-dinamisme. Contohnya: ritual Gerebeg Maulud yang setiap tahun diadakan di Yogyakarta, kepercayaan terhadap kuburan yang mampu memberikan rejeki dan pertolongan, kepercayaan terhadap roh-roh, kekuatan alam dan benda keramat seperti keris, patung, cincin, atau gunung.
Ketika Islam masuk ke Indonesia, kebudayaan Hindu-Buddha telah cukup kuat dan mustahil dapat dihilangkan. Yang terjadi kemudian adalah akulturasi antara kedua agama tersebut. Kita bisa melihatnya pada acara kelahiran bayi, tahlilan bagi orang meninggal, dan nadran (ziarah). Acara-acara berperiode seperti tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, tujuh bulanan merupakan praktik kepercayaan yang tak terdapat dalam ajaran Islam atau Kristen.
Perbedaan antara unsur-unsur agama yang berbeda dan bahkan cenderung bertolak belakang itu, bukanlah halangan bagi masyarakat Indonesia untuk menerima dan menyerap ajaran agama baru. Melalui kearifan lokal (local genius) masyarakat Indonesia, agama yang asalnya dari luar (Hindu, Buddha, Islam, Kristen) pada akhirnya diterima sebagai sesuatu yang tidak “asing” lagi. Bila unsur agama tersebut dirasakan cocok dan tak menimbulkan pertentangan dalam masyarakat, maka ia akan disaring terlebih dahulu lalu diambil untuk kemudian dipadukan dengan budaya yang lama; dan bila tak cocok maka unsur tersebut akan dibuang.
Dengan demikian, yang lahir adalah agama sinkretisme, yaitu perpaduan antardua unsur agama dan kebudayaan yang berbeda sehingga menghasilkan praktik agama dan kebudayaan baru tanpa mempertentangkan perbedaan tersebut, malah mempertemukan persamaan antarkeduanya. Jelaslah, dari dulu bangsa Indonesia telah mengenal keragaman agama dan budaya (pluralisme) tanpa harus bertengkar.
1.    Sistem Pendidikan
Sriwijaya merupakan kerajaan pertama di Indonesia yang telah menaruh perhatian terhadap dunia pendidikan, khususnya pendidikan Buddha. Aktifitas pendidikan ini diadakan melalui kerjasama dengan kerajaan-kerajaan di India. Hubungan bilateral dalam bidang pendidikan ini dibuktikan melalui Prasasti Nalanda dan catatan I-Tsing.
Berdasarkan keterangan Prasasti Nalanda yang berada di Nalanda, India Selatan, terdapat banyak pelajar dari Sriwijaya yang memperdalam ilmu pengetahuan. Catatan I-Tsing menyebutkan, Sriwijaya merupakan pusat agama Buddha yang cocok sebagai tempat para calon rahib untuk menyiapkan diri belajar Buddha dan tata bahasa Sansekerta sebelum berangkat ke India. Di Sriwijaya, menurut I-Tsing, terdapat guru Buddha yang terkenal, yaitu Sakyakerti yang menulis buku undang-undang berjudul Hastadandasastra. Buku tersebut oleh I-Tsing dialihbahasakan ke dalam bahasa Cina.
Selain Sakyakerti, terdapat pula rahib Buddha ternama di Sriwijaya, yaitu Wajraboddhi yang berasal dari India Selatan, dan Dharmakerti. Menurut seorang penjelajah Buddha dari Tibet bernama Atica, Dharmakerti memiliki tiga orang murid yang terpandang, yaitu Canti, Sri Janamitra, dan Ratnakirti. Atica sempat beberapa lama tinggal di Sriwijaya karena ingin menuntut ilmu Buddha. Ketika itu, agama Buddha klasik hampir lenyap disebabkan aliran Tantra dan agama Islam mulai berkembang di India, sehingga ia memilih pergi ke Sriwijaya untuk belajar agama.
Pada masa berikutnya, hampir di setiap kerajaan terdapat asrama-asrama (mandala) sebagai tempat untuk belajar ilmu keagamaan. Asrama ini biasanya terletak di sekitar komplek candi. Selain belajar ilmu agama, para calon rahib dan biksu belajar pula filsafat, ketatanegaraan, dan kebatinan. Bahkan istilah guru yang digunakan oleh masyarakat Indonesia sekarang berasal dari bahasa Sansekerta, yang artinya “kaum cendikia”.
Patung sang Buddha Candi Borobudur
Gambar 1.9 Patung sang Buddha pada Candi Borobudur
2.    Bahasa dan Sistem Aksara
Bahasa merupakan unsur budaya yang pertama kali diperkenalkan bangsa India kepada masyarakat Indonesia. Bahasalah yang digunakan untuk menjalin komunikasi dalam proses perdagangan antarkedua pihak, tentunya masih dalam taraf lisan. Bahasa yang dipraktikkan pun adalah bahwa Pali, bukan Sansekerta karena kaum pedagang mustahil menggunakan bahasa kitab tersebut.
Bahasa Pali atau Pallawa merupakan aksara turunan dari aksara Brahmi yang dipakai di India selatan dan mengalami kejayaan pada masa Dinasti Pallawa (sekitar Madras, Teluk Benggali) abad ke-4 dan 5 Masehi. Aksara Brahmi juga menurunkan aksara-aksara lain di wilayah India, yaitu Gupta, Siddhamatrka, Pranagari, dan
Dewanagari. Aksara Pallawa sendiri kemudian menyebar ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan tertulis pada prasasti-prasasti berbahasa Melayu Kuno zaman Sriwijaya. Istilah pallawa pertama kali dipakai oleh arkeolog Belanda, N.J. Krom; sarjana lain menyebutnya aksara grantha.
Praktik bahasa Sansekerta pertama kali di Indonesia bisa dilacak pada yupa-yupa peninggalan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Huruf yang dipakai adalah Pallawa. Dikatakan bahwa di kerajaan tersebut terdapat seorang raja bernama Kudungga, memiliki anak yang bernama Aswawarman, dan juga memiliki cucu Mulawarman. Menurut para ahli bahasa, Kudungga dipastikan merupakan nama asli Indonesia, sedangkan Aswawarman dan Mulawarman sudah menggunakan bahasa India. Penggantian nama tersebut biasanya ditandai dengan upacara keagamaan.
Yupa tugu bertulis peninggalan Kutai
Gambar 1.4 Yupa (tugu) bertulis) peninggalan Kutai
Pengaruh agama Hindu dalam aspek bahasa akhirnya menjadi formal dengan munculnya bahasa Jawa dan Melayu Kuno serta bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia yang banyak sekali menyerap bahasa Sansekerta. Beberapa karya sastra Jawa ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dengan cara mengonversikan atau menambahkan (menggubah) karya sastra yang dibuat di India.
Selain Sansekerta, bahasa Pali, Tamil, dan Urdu atau Hindustani (digunakan di Pakistan dan sebagain India) pun memperkayai kosakata penduduk Indonesia. Namun, pada perkembangannya Sansekertalah bahasa yang paling berpengaruh dan dipakai hingga kini oleh orang Indonesia. Bahasa Sansekerta merupakan bahasa tulisan. Bahasa ini tertulis dalam prasasti, yupa, kitab suci, kitab undang-undang (hukum), karya sastra. Maka dari kata-katanya dapat lebih abadi dan dipertahankan.
Pengaruh tersebut kemudian dilanjutkan dengan proses penyerapan bunyi. Kadang kita tidak menyadari bahwa bahasa yang kita gunakan tersebut merupakan serapan dari bahasa Sansakerta. Perubahan bunyi pada serapan ini terjadi karena logat dan dialek setiap suku-bangsa berbeda. Makna awalnya pun sebagian telah mengalami perubahan: ada yang meluas dan ada yang menyempit.
Namun, adapula beberapa kata yang maknanya belum bergeser, contohnya: tirta berarti air; eka, dwi, tri berarti satu, dua, tiga; kala berarti waktu atau bisa juga bencana.
Berikut ini kata-kata Indonesia serapan dari kata-kata Sansekerta:
(a) sayembara, dari silambara
(b) bentara, dari avantara
(c) harta, dari artha
(d) istimewa, dari astam eva
(e) durhaka, dari drohaka
(f) gembala, dari gopala
(g) karena, dari karana
(h) bahagia, dari bhagya
(i) manusia, dari manusya
10. senantiasa, dari nityasa
(Sumber: menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, KBBI)
Mengenai perkembangan aksara, di Indonesia terdapat beberapa jenis aksara yang merupakan turunan dari aksara Pallawa. Di Jawa ada aksara Kawi, aksara Kawi ini pada perkembangan selanjutnya menurunkan aksara Hanacaraka atau Ajisaka yang digunakan untuk bahasa Jawa, Sunda, dan Bali. Adapula prasasti zaman Mataram di Jawa Tengah bagian selatan yang menggunakan aksara Pranagari yang umurnya lebih tua dari aksara Dewanagari.
Sementara itu, di wilayah Sumatera Utara (dengan dialek Toba, Dairi, Karo, Mandailing, dan Simalungun) ada aksara Batak, sedangkan di daerah Kerinci, Lampung, Pasemah, Serawai, dan Rejang terdapat aksara Rencong. Sementara itu, di daerah Sulawesi bagian selatan ada aksara Bugis dan Makassar. Dari perkembangan aksara-aksara turunan Pallawa, kita dapat memperkirakan wilayah mana saja di Indonesia yang pengaruh budaya Indianya lebih kental, yakni Jawa, Sumatera, dan sebagian Sulawesi. Sedangkan daerah-daerah lainnya di Indonesia tak begitu dipengaruhi budaya India, bahkan ada daerah yang sama sekali tak tersentuh budaya Hindu-Buddhanya.
Mengenai aksara Hanacaraka, terdapat sebuah legenda yang berkaitan dengan nama Ajisaka. Ajisaka merupakan cerita rakyat yang berkembang secara lisan, terutama hidup di masyarakat Jawa dan Bali. Tokoh, Ajisaka, berkaitan dengan bangsa Saka dari India barat laut. Sebagian masyarakat Jawa percaya bahwa Ajisaka dahulu pernah hidup di Jawa dan berasal dari India. Mereka juga percaya bahwa Ajisakalah yang menciptakan aksara Jawa dan kalender Saka.
Aksara Rencong turunan Pallawa
Gambar 1.10 Aksara Rencong salah satu sistem aksara turunan Pallawa
3.    Seni Arsitektur dan Teknologi
Sebelum unsur-unsur Hindu-Buddha masuk, masyarakat Indonesia telah mengenal teknologi membuat bangunan dari batu pada masa Megalitikum. Mereka telah pandai membangun menhir, sarkofagus, peti (kuburan) kubur, patung sederhana, dan benda benda dari batu lainnya. Setelah berkenalan dengan seni arsitektur Hindu-Buddha, mereka kemudian mengadopsi teknologinya. Jadilah candi, stupa, keraton, makara yang memiliki seni hias (relief) dan arsitekturnya yang lebih beraneka.
  1. a.    Candi
    Candi berasal dari frase candika graha yang berarti kediaman Betari Durga. Durga ini disembah terutama oleh umat Buddha. Dalam dunia pewayangan di Indonesia, Durga merupakan istri Dewa Siwa yang dikutuk dari berwajah cantik menjadi raksasa. Yang pertama mendirikan candi di India diduga adalah umat Buddhis. Ini terlihat dari temuan candi tertua di sana yang dibangun pada abad ke-3 SM. Pada perkembangan berikutnya, candi pun didirikan oleh umat Hindu.
Awalnya, candi didirikan sebagai tempat penyimpanan abu hasil pembakaran jenazah raja. Karena itu, di candi yang disebut pripih sering ditemukan sebuah wadah penyimpanan abu jenazah. Di atas abu jenazah tersebut terpampang arca raja bersangkutan. Disimpan pula patung dewa tertentu, biasanya dewa ini dipuja oleh almarhum yang bersangkutan. Pada dinding-dinding candi biasanya terdapat deretan relief yang mengisahkan cerita-cerita Mahabharata atau Ramayana atau kisah sastra lainnya. Pada candi Buddhis biasanya terdapat relief seputar kehidupan Siddharta.
Fungsi candi selanjutnya berkembang menjadi tempat sembahyang (berasal dari frase “sembah hyang”) untuk dewa-dewi. Jawa adalah tempat yang paling banyak terdapat candi, disusul oleh Sumatera. Ini menandakan bahwa perkembangan agama dan kebudayaan Hindu-Buddha berlangsung lebih pesat di Jawa, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai pusat-pusat pemerintahan pada masanya. Berdasarkan arsitektur dan tempat dibangunnya, candi-candi di Indonesia dapat dibagi atas: candi yang terletak di Jawa Tengah (bagian selatan dan utara), Jawa Timur, dan lain-lainnya seperti di Sumatera, Bali, dan Jawa Barat.
Bentuk candi-candi di Jawa Tengah di bagian selatan berbeda dengan yang ada di bagian utara. Namun demikian, secara umum (Soetarno, 2003) candi-candi yang ada di kedua wilayah tersebut memiliki kesamaan, yaitu:
(1) Bentuk bangunan tampak lebih gemuk, terbuat dari batu andesit.
(2) Atapnya berbentuk undak-undakan dan puncaknya berbentuk stupa atau ratna.
(3) Pada pintu dan relung terdapat hiasan bermotif makara.
(4) Reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya bercorak naturalis (dua dimensi).
(5) Letak candi utama terletak di tengah-tengah halaman komplek candi muka candi menghadap ke arah timur.
BUKTI-BUKTI PROSES INDIANISASI DI INDONESIA

BUKTI-BUKTI PROSES INDIANISASI DI INDONESIA

No Comments


1.    Berita Luar Negeri
Kronik-kronik Tiongkok pada masa Dinasti Han, Dinasti Sung, Dinasti Yuan dan Dinasti Ming menyebutkan bahwa sejak awal Masehi telah terjadi hubungan dagang antara Cina dan Indonesia. Salah satu buktinya adalah ditemukannya artefak-artefak berupa keramik Cina di Indonesia. Fa-Hien, seorang rahib Buddha dari Cina yang terdampar di To lo mo (maksudnya Kerajaan Taruma atau Tarumanegara di Jawa Barat) selama 5 bulan, dalam perjalanannya dari India ke Cina, menulis apa-apa yang dilihatnya. Fa-Hien terkesan dengan keterampilan para pedagang di To lo mo dalam menawarkan dagangannya, terutama beras dan kayu jati. Sementara itu, I-Tsing, peziarah dan rahib Buddha yang juga dari Cina, menuliskan kesan tentang Sriwijaya sebagai salah satu pusat Buddhisme di Asia, abad ke-7 M yang dapat disejajarkan dengan India dan Cina. Di Sriwijaya itulah para calon rahib dan rahib Cina maupun pribumi, belajar bahasa Sansekerta dan Pali sebelum berangkat ke India.
Seorang ahli geografi Yunani, Claudius Ptolomeus, memberitakan bahwa kapal-kapal dari Aleksandria di Laut Mediterania (Mesir) berlayar melalui Teluk Persia ke bandar-bandar Baybaza di Cambay, India dan Majuri di Kochin, India Selatan. Dari daerah ini kapal-kapal melanjutkan pelayaran mereka ke bandar-bandar di pantai timur India sampai ke kepulauan Aurea Chersonnesus. Di kepulauan itu, kapal-kapal singgah di Barousae, Sinda, Sabadiba, dan Iabadium. Aurea Chersonnesus merupakan pengucapan Yunani untuk Kepulauan Indonesia, sedangkan Barousae adalah Baros, sebuah bandar dagang kuno di pantai barat Sumatera. Sementara itu, Sinda adalah ejaan lain untuk Sunda, Sabadiba adalah Svarnadwipa (Sumatera), dan Iabadium adalah Javadwipa (Jawa).
Indonesia juga disebutkan dalam petunjuk pelayaran laut dari Yunani (Erythraea) bersama 27 mancanegara lainnya. Kitab Ramayana karya Valmiki dari India abad ke-3 SM juga secara tidak langsung menyebutkan tentang Indonesia.
Peta kuno Asia Tenggara
Gambar 1.5 Peta kuno Asia Tenggara yang digambar kembali: peta aslinya didasarkan pada sumber-sumber Yunani abad ke-2 M
Diceritakan bahwa setelah Sita (Dewi Sinta) diculik oleh Ravana (Rahwana) Raja Lanka (Alengka), Hanuman (Hanoman) atas perintah Rama mencari Sita hingga ke Javadwipa. Meski bukan kejadian nyata, Ramayana telah menginformasikan bahwa penulisnya setidaknya telah mengenal nama Jawa (terlepas dari apa ia pernah pergi sendiri ke Jawa atau hanya mengenal namanya dari pelaut India yang pernah pergi ke Jawa). Yang jelas, dari kitab tersebut kita dapat menyimpulkan bahwa Pulau Jawa merupakan tempat strategis dalam dunia perdagangan pada masanya.
Di samping Ramayana, Piagam Nalanda (berasal dari Benggala, India sebelah timur) menyebutkan bahwa Sriwijaya memiliki dua pelabuhan penting di Selat Malaka sebagai pintu gerbang memasuki bandar-bandar lain di Indonesia. Kedua bandar itu berada di Sumatera dan Semenanjung Malaka, yakni bandar Katana di Ligor, dan berperan sebagai bandar transit. Kedua bandar itu merupakan pusat perdagangan tambang, emas, timah, hasil hutan, dan perkebunan lada, kayu gaharu, dan kelembak.
Para saudagar dan ahli geografi Arab juga telah menulis tentang keberadan Indonesia sejak abad ke-6 M. Mereka menyebut kerajaan bernama Zabaq atau Sribuza untuk Sriwijaya. Raihan Al Beruni, yang menulis sebuah buku tentang India, menyebutkan bahwa Zabaq terletak di sebuah pulau yang bernama Suwarndib, yang berarti “Pulau Emas“. Berita Arab lainnya menyebut Sribuza sebagai tempat yang banyak menghasilkan kayu wangi.
Batu tulis yupa Sri Manggala
Gambar 1.6 Batu tulis (yupa) Sri Manggala, dibuat pada 874 M, beraksara Kawi (Jawa Kuno) yang ditemukan di sekitar Prambanan, Jawa Tengah
Kronik-kronik dari Indocina juga menunjukkan bahwa jalur perdagangan antara Indonesia, India, Cina, dan juga Indocina (Vietnam, Kamboja, Siam atau Thailand, dan wilayah Asia Tenggara lainnya) telah ramai sejak awal masehi. Hubungan perdagangan tersebut menjadi perintis hubungan yang lebih jauh: politik, agama, dan kebudayaan. Kronik Vietnam dari abad ke-8 M mencatat serangan dari Jawa dan “Pulau-pulau Selatan“ yang dilakukan pasukan Syailendra dari Sriwijaya terhadap pusat kerajaan maritim Kerajaan Chenla di Vyadhapura, Kamboja. Berita tersebut diperkuat oleh catatan dari Champa pada abad ke-8 M, yang mencatat bahwa pasukan Jawa telah menghancurkan kuil-kuil dan berkuasa di sebagian wilayah Kampuchea (Kamboja).
Bukti lainnya adalah prasasti di Nakhon Si Thammarat, Thailand, dari abad ke-8 M. Prasasti itu mengumumkan telah dibangunnya sejumlah biara Buddha oleh raja Sriwijaya. Laporan serupa terdapat dalam sebuah prasasti di Kra, sebelah selatan Thailand, dari abad ke-8 M. Prasasti itu melaporkan Raja Sriwijaya mendirikan sejumlah bangunan suci Buddha dalam rangka merayakan kemenangan Sriwijaya menaklukkan Semenanjung Melayu.
2.    Sumber Dalam Negeri
Sementara itu, berita-berita dalam negeri berasal dari prasasti (batu tulis) dan yupa. Yupa-yupa yang ditemukan di Kutai, Kalimantan Timur, prasasti-prasasti Tarumanagara di Jawa Barat, Prasasti Canggal zaman Mataram Kuno di Jawa Tengah dan Prasasti Dinoyo di Jawa Timur, ditulis dalam bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa. Selain itu, bangunan-bangunan benda-benda purbakala, seperti candi, arca, serta sistem tulisan dalam kitab-kitab kakawin juga memperlihatkan pengaruh Hindu-Buddha.
PROSES MASUK DAN MENYEBARNYA AGAMA HINDU-BUDDHA DI INDONESIA

PROSES MASUK DAN MENYEBARNYA AGAMA HINDU-BUDDHA DI INDONESIA

No Comments

Candi Prambanan
Gambar 1.1 Masuknya pengaruh India terhadap kehidupan agama dan kebudayaan di Indonesia dapat terlihat pada bangunan Candi Prambanan di Jawa Tengah ini.
PROSES MASUK DAN MENYEBARNYA AGAMA HINDU-BUDDHA DI INDONESIA- Perkembangan Hindu dan Buddha di India membawa akibat dan pengaruh yang luar biasa pada kehidupan internasional, khususnya Asia Selatan dan Tengah (Tibet, Nepal, Bangladesh, Sri Lanka), Asia Timur (Jepang, Cina, Korea, Taiwan), dan Asia Tenggara. Indonesia merupakan daerah yang terpengaruh oleh agama dan budaya Hindu-Buddha.
Pengaruh agama dan kebudayaan Hindu dan Buddha terhadap kehidupan masyarakat Indonesia zaman dahulu begitu kental dan hingga kini masih terasa. Hal ini terlihat dari berbagai macam peninggalan bersejarah bercorak Hindu-Buddha. Pengaruh Hindu dapat kita lihat di Bali, di mana sebagian besar masyarakatnya pemeluk Hindu. Pengaruh Buddha dapat terlihat pada kemegahan Candi Borobudur di Jawa Tengah.
Pada tulisan ini kalian akan mempelajari proses masuknya peradaban Hindu dan Buddha ke Indonesia. Kalian akan melihat pengaruh Hindu-Buddha terhadap kehidupan agama dan kebudayaan masyarakat Indonesia. Dari sinilah masyarakat Indonesia memasuki babak sejarah, ditandai dengan pengenalan terhadap sistem tulis. Kalian akan mengetahui, kebudayaan Hindu-Buddha berpengaruh besar terhadap perkembangan bahasa, sastra, arsitektur (candi, keraton), serta seni rupa (relief, patung, makara).
Pengaruh Hindu dan Buddha datang ke Indonesia hampir berbarengan. Secara garis besar kita dapat melihat pengaruh tersebut dari berdirinya beberapa kerajaan besar yang pernah berdiri di Indonesia, dari mulai Kutai yang menguasai sebagian Kalimantan sampai Majapahit yang mampu menguasai hampir seluruh wilayah Indonesia dan luar negeri. Kerajaan-kerajaan tersebut telah begitu lama menancapkan taring-taring kekuasaannya di Indonesia sampai berabad-abad sehingga keberadaan dan pengaruh agama tersebut kuat dalam kehidupan Indonesia. Pengaruh agama Hindu-Buddha masih terlihat sampai hari ini dalam kehidupan sebagian umat Islam di Indonesia dari mulai bahasa, peribadatan, pakaian, kesenian.
Sebelum bersinggungan dengan Hindu-Buddha, masyarakat Indonesia menganut kepercayaan tradisional berupa penghormatan terhadap roh leluhur dan kekuatan alam semesta dan bendabenda tertentu (animisme dan dinamisme). Pengaruh Hindu-Buddha membuat kepercayaan animisme-dinamisme beralih kepada dewa-dewi pengatur alam. Masyarakat Indonesia mulai menyembah dewa-dewi yang sama dengan yang di India.
Awalnya, agama Buddha lebih dulu berkembang di Indonesia. Di Indonesia (juga Thailand, Kamboja, Vietnam, Myanmar, Laos) aliran Hinayanalah yang berkembang, sedangkan aliran Mahayana lebih berkembang di Cina, Korea, Taiwan, dan Jepang. Perkembangan Buddha awal di Indonesia dibuktikan oleh temuan patung Buddha dari abad ke-2 M di Sikendeng, Sulawesi Selatan. Contoh lainnya adalah Kerajaan Sriwijaya yang telah ada pada abad ke-6 M di Sumatera.
Perkembangan Buddha yang pesat di Asia Tenggara pada awal abad masehi disebabkan oleh faktor-faktor politis. Ketika itu agama Buddha sedang mencapai masa keemasannya di Asia, terutama di India dan Cina. Banyak kerajaaan yang menjadikan Buddha sebagai agama resmi negara, selain Hindu. Namun kemudian, agama Buddha kehilangan kejayaaan dikarenakan sejumlah kerajaan Buddhis mengalami keruntuhannya. Sebaliknya, Hindulah yang kemudian menjadi agama resmi kerajaan-kerajaan yang bersangkutan.
Patung Buddha tertua sulawesi selatan
Gambar 1.2 Patung Buddha tertua (dari perunggu) buatan abad ke-2 M yang ditemukan di Sikendeng, Sulawesi Selatan
Di Indonesia, kerajaan bercorak Hindu lebih berkembang daripada yang Buddha. Pada perkembangannya, bahkan muncul agama “baru” atau agama sinkretis, yakni perpaduan dari Hindu Siwa dengan Buddha. Agama Siwa-Buddha mulai berkembang pesat pada masa Singasari di Jawa Timur, masa orang-orang Jawa telah menciptakan karya seni dan arsitektur di mana unsur Jawa lebih ditonjolkan daripada unsur India. Disebutkan dalam kitabkitab dan pada bangunan candi-candi bahwa raja-raja Singasari seperti Kertanegara dan Wisnuwardhana adalah penganut agama baru ini.
Adapun proses dan waktu kapan masuknya agama Hindu dan Buddha ke Indonesia sampai sekarang masih menjadi perdebatan di antara para sejarawan. Setidaknya terdapat empat pendapat, yang masing-masing pendapat sesungguhnya saling menguatkan.
Adapun pendapat-pendapat tentang masuknya Hindu-Buddha ke Indonesia adalah sebagai berikut:
(1) Teori Brahmana, mengatakan bahwa yang membawa agama Hindu ke Indonesia adalah orang-orang Hindu berkasta brahmana. Para brahmana yang datang ke Indonesia merupakan tamu undangan dari raja-raja penganut agama tradisonal di Indonesia. Ketika tiba di Indonesia, para brahmana ini akhirnya ikut menyebarkan agama Hindu di Indonesia. Ilmuan yang mengusung teori ini adalah Van Leur.
(2) Teori Waisya, mengatakan bahwa yang telah berhasil mendatangkan Hindu ke Indonesia adalah kasta waisya, terutama para pedagang. Para pedagang banyak memiliki relasi yang kuat dengan para raja yang terdapat di kerajaan Nusantara.
Agar bisnis mereka di Indonesia lancar, mereka sebagai pedagang asing tentunya harus membuat para penguasa pribumi senang, dengan cara dihadiahi barang-barang dagangan.
Dengan demikian, para pedagang asing ini mendapat perlindungan dari raja setempat. Di tengah-tengah kegiatan perdagangan itulah, para pedagang tersebut menyebarkan budaya dan agama Hindu ke tengah-tengah masyarakat Indonesia. Ilmuwan yang mencetuskan teori ini adalah N.J. Krom.
(3) Teori Ksatria, mengatakan bahwa proses kedatangan agama Hindu ke Indonesia dilangsungkan oleh para ksatria, yakni golongan bangsawan dan prajurit perang. Menurut teori ini, kedatangan para ksatria ke Indonesia disebabkan oleh persoalan politik yang terus berlangsung di India sehingga mengakibatkan beberapa pihak yang kalah dalam peperangan tersebut terdesak, dan para ksatria yang kalah akhirnya mencari tempat lain sebagai pelarian, salah satunya ke wilayah Indonesia. Ilmuan yang mengusung teori ini adalah C.C. Berg dan Mookerji.
(4) Teori Arus Balik, mengatakan bahwa yang telah berperan dalam menyebarkan Hindu di Indonesia adalah orang Indonesia sendiri. Mereka adalah orang yang pernah berkunjung ke India untuk mempelajari agama Hindu dan Buddha. Di pengembaraan mereka mendirikan sebuah organisasi yang sering disebut sanggha. Setelah kembali di Indonesia, akhirnya mereka menyebarkan kembali ajaran yang telah mereka dapatkan di India. Pendapat ini dikemukakan oleh F.D.K. Bosch. Kedatangan brahmana—dari India maupun lokal—dipergunakan pula oleh sebagian golongan pedagang pribumi atau kepala suku yang ingin kedudukan dan tingkat sosialnya meningkat. Melalui persetujuan kaum brahmana, mereka dinobatkan menjadi penguasa secara politis (raja). Para penguasa baru ini lalu belajar konsep dewa-raja (devaraja) agar kekuasaannya semakin kuat. Dengan demikian, baik secara ekonomi, sosial, dan politik, golongan pedagang atau pemimpin suku tersebut menjadi lebih terhormat karena kekuasaannya pun bertambah luas. Setelah menjadi raja, mereka mempersenjatai dirinya dengan pengikut-pengikutnya yang setia untuk dijadikan tentara agar keamanannya terjamin. Dalam memperluas wilayah pun, mereka lebih leluasa dan percaya diri.
Setelah sebuah kerajaan didirikan, sistem feodal pun berlaku. Feodalisme adalah “sistem sosial atau politik yang memberikan kekuasaan yang besar kepada golongan bangsawan” (KBBI, 2002). Dengan demikian, raja adalah yang menentukan ke arah mana kerajaan akan bergulir. Praktik feodalisme ini cukup berkembang pada masa kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha, terutama di Jawa. Pengkastaan dalam masyarakat membuat hubungan feodalistik semakin menguat. Feodalisme menjamin stabilitas politik yang dibutuhkan seorang raja untuk keberlangsungan kerajaannya.

prasasti telapak kaki Purnawarman
Gambar 1.4 Prasasti (replika) yang memperlihatkan telapak kaki Purnawarman Raja Tarumanagara, yang diresmikan oleh para brahmana
Sistem kasta ini membagi masyarakat dalam beberapa tingkatan sosial, yakni:
(1) Brahmana yang berperan sebagai penasehat raja dan pendidik agama.
(2) Ksatria yang terdiri atas penyelenggara dan penata pemerintahan serta pembela kerajaan (raja, pembantu raja, tentara).
(3) Waisya yang berperan sebagai pedagang, pengrajin, petani, nelayan, dan pelaku seni.
(4) Sudra yang terdiri atas pekerja rendah, buruh, budak, pembantu.
Sementara itu, dalam kerajaan Buddhis pengkastaan tak terlalu berperan karena ajaran Buddha tidak mengenal pengkastaan. Dalam hal ini, masyarakat Buddhis lebih demokratis dan egalitis. Maka dari itu, sistem feodal lebih berkembang di kerajaan-kerajaan bercorak Hindu.
Dalam menentukan kebijakan, raja dibantu oleh kaum pandita (pendeta) dan brahmana sebagai penasehat spiritual dan duniawi. Merekalah kelompok yang mengetahui isi kitab suci yang ditulis dalam Sansekerta. Akibatnya, masyarakat awam tak mungkin mengetahui isi kitab suci tanpa perantara brahmana. Mereka memiliki hak mutlak dalam mengatur sebuah upacara agama, seperti peringatan hari-hari suci, pengangkatan raja, peresmian piagam atau prasasti, atau pernikahan golongan bangsawan. Mereka pula yang merintis pembangunan sekolah-sekolah dan asrama-asrama dalam masyarakat Buddha. Kedudukan mereka dapat disamakan dengan kalangan ulama dan cendikiawan zaman sekarang.
  Dampak Revolusi Industri  Bidang Sosial

Dampak Revolusi Industri Bidang Sosial

No Comments

Industrialisasi sejak semula sangat berkaitan dengan masalahmasalah sosial-kemasyarakatan. Adanya perbedaan pendapatan ekonomi cenderung membuat manusia mengukur segala sesuatu dengan mahal-murahnya harga sesuatu. Dengan perbedaan tersebut, muncullah diskriminasi sosial yang tidak manusiawi. Selain itu, ada pula dampak positif dari Revolusi Industri ini, yaitu dibukanya jalur transportasi darat yang baru rel kereta api guna mempercepat proses mobilisasi dan penyampaian informasikomunikasi. a. Diskriminasi Sosial
Dalam bidang sosial terjadi perbedaan yang mencolok antara golongan Barat atau Belanda dengan golongan pribumi. Dalam bidang pemerintahan juga terjadi diskriminasi, pembagian kerja dan pembagian kekuasaan didasarkan pada warna kulit. Orang pribumi yang mendapatkan jabatan pastilah jabatan rendah dan dibatasi kekuasaannya. Diskriminasi juga terjadi di kalangan militer. Untuk pangkat yang sama, gaji orang Indonesia yang berdinas dalam militer Belanda lebih rendah daripada gaji anggota militer Belanda. Bahkan diadakan pula perbedaan gaji antara serdadu Ambon dan serdadu Jawa. Diskriminasi berlaku juga di tempat hiburan. Ada tempat-tempat yang tidak boleh dimasuki oleh orang Indonesia, seperti tempat pemandian, restoran bahkan pada angkutan umum, seperti kereta api lintas-kota atau trem (kereta api dalam kota).
Rupanya para penggagas Politik Etis hendak menciptakan hubungan yang harmonis antara Belanda dan golongan pribumi, namun kesamaan pandangan yang diharapkan ternyata tak berbuah seperti yang diharapkan. Orang-orang Indonesia yang telah mendapatkan pendidikan dari Belanda, semakin menyadari tentang arti penting kemerdekaan yang pada akhirnya mereka menjadi pemuda-pemuda pergerakan kemerdekaan Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa diskriminasi berdasarkan ras menjadi salah satu faktor lahirnya pergerakan nasional.
b. Dibangunnya Jalur Transportasi Darat
Revolusi Industri secara tidak langsung berdampak pula dalam hal transportasi di Indonesia, terutama darat. Untuk mempermudah mobilitas penduduk dan perdagangan, pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api di Pulau Jawa. Hal ini dilakukan guna mempercepat hubungan komunikasi dan dagang. Untuk daerah pegunungan yang banyak terdapat perkebunan (misalnya di Jawa Barat), dibangun khusus jalur kereta api untuk mengangkut hasil bumi ke kawasan pabrik guna diolah menjadi bahan setengah jadi atau jadi. Sesungguhnya jalur darat telah dibuka sejak masa Daendels memerintah Jawa, yaitu dengan dibukanya rute baru: Anyer- Panarukan yang membelah Pulau Jawa pada awal abad ke-19. Dengan tujuan semula untuk mempercepat proses informasikomunikasi antarkantor pos, maka Jalan Raya Pos (The Grote Postweg) ini pada masa selanjutnya berguna pula untuk jalur mobilitas penduduk yang ingin ke luar kota atau pulau.
c. Mobilitas Penduduk dan Masalah Demografi
Industrialisasi mengakibatkan perpindahan penduduk dari desa ke kota-kota besar. Berdirinya pabrik-pabrik telah mendorong kehidupan baru dalam masyarakat Indonesai yang sebelumnya masyarakat agraris dan maritim. Terbentuklah komunitas pekerja kasar dan buruh yang bekerja di pabrik-pabrik partikelir (swasta). Kota-kota besar, terutama Jakarta dan Surabaya, merupakan tempat tujuan orang-orang untuk mengadu nasib.
Untuk mendapatkan pegawai-pegawai semacam juru ketik atau tulis yang murah maka pemerintah kolonial membangun sekolah-sekolah kejuruan guna menghasilkan tenaga-tenaga ahli dari pribumi yang tentunya jauh lebih murah honornya bila dibandingkan tenaga ahli dari Eropa. Tenaga tulis/ketik tersebut selain dipekerjakan di instansi pemerintahan, juga dipekerjakan pegawai rendah di perkebunan pemerintah. Pada masa pelaksanaan ekonomi liberal sekolah didirikan untuk tujuan yang sama. Pada 1851, didirikan sekolah dokter pertama di Jawa yang sebenarnya merupakan sekolah untuk mendidik mantri cacar atau kolera. Maklum kala itu kedua penyakit tersebut sering menjadi wabah di beberapa daerah. Sekolah “mantri” tersebut kemudian berkembang menjadi STOVIA (School Tot Opleiding Voor Inlandse Artsen) atau sekolah dokter pribumi.
Munculnya sekolah-sekolah ala Eropa di Jawa, khususnya Batavia dan Bandung, menggiring orang-orang dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan tempat-tempat lainnya berdatangan ke Jawa. Orang-orang di Jawa pun, terutama anak-anak priyayi dan bangsawan atau pedagang kaya yang memiliki biaya lebih, berbondong-bondong datang ke Jakarta dan Bandung yang saat itu memiliki sekolah setingkat perguruan tinggi (THS dan STOVIA). Perpindahan atau mobilitas kaum terpelajar tersebut tentunya sangat memengaruhi populasi kota. Perubahan demografis cukup mecengangkan.