Showing posts with label budaya purworejo. Show all posts
Showing posts with label budaya purworejo. Show all posts

JOLENAN (ADAT DESA SOMONGARI, KEC. KALIGESING)



Desa Somongari adalah suatu desa yang terletak di wilayah Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo, + 2 Km ke arah selatan dari Ibu Kota Kecamatan Kaligesing dan merupakan deretan pegunungan Menoreh yang terkenal dengan penghasilan buah durian, manggis dan kokosan/langsep.
Desa tersebut juga mengukir sejarah bangsa yakni seorang pencipta Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya“ Wage Rudolf Soepratman yang lahir di Dukuh Trembelang Desa Somongari.
Jolenan adalah sebuah nama upacara merti desa Keba Palawija yang menggunakan media jolen sebagai wadah atau tempat meletakkannya tumpeng dan ayam panggang. Jolen itu sendiri semacam keranjang dengan alas atau dasar empat persegi dan diberi tutup berbentuk piramida. Ledre dan Binggel diikat dan digantungkan pada ujung sebilah bambu, ditancapkan di sekeliling jolen yang menghiasi. Mengandung maksud merupakan perwujudan /gambaran bahwa daerah pegunungan Somongari kaya akan hasil bumi, baik dari hutannya maupun lain-lainnya.
Adapun yang melatar belakangi kepercayaan masyarakat Desa Somongari dengan selalu melaksanakan kegiatan merti desa tersebut, adalah sebuah legenda ;
Pada jaman dulu, kurang lebih sejaman dengan Majapahit, daerah yang sekarang kita sebut Desa Somongari merupakan daerah hutan belantara yang sama sekali tidak seorang manusiapun berani menempatinya. Kita ibaratkan dengan bahasa Jawa : Sato mara sato mati, janma mara janma mati, Dewa mara keplayu. Yang artinya, “segala binatang bila mendekat mati, semua manusia bila mendekat juga akan mati, pergi dari daerah itu”. Hal ini disebabkan karena tempat itu banyak didiami makluk halus yang konon amat membahayakan. Sehingga tak ada orang atau seekor binatangpun yang berani memasuki daerah tersebut.
Konon kabarnya pada jaman Majapahit, terjadi suatu peperangan antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Pajajaran yang terkenal dengan nama perang Bubat. Pada saat itu, diantara prajurit kerajaan Majapahit ada yang berjalan melalui daerah yang sekarang dinamakan Desa somongari. Barisan prajurit tersebut dipimpin oleh Adipati Singanegara, Pangeran Lokajaya dan seorang lagi Pangeran Purwokusumo. Rombongan tersebut beristirahat di daerah itu sampai beberapa saat lamanya. Karena dirasa enak beristirahat di tempat tersebut, maka Adipati Singanagara dan para prajurit diperintahkan untuk terus bermukim di situ. Dan pula diperintahkan untuk menebang hutan-hutan sedikit demi sedikit untuk tempat tinggal.
Di depan diceriterakan bahwa tempat tersebut adalah suatu tempat dimana di daerah tersebut adalah daerah yang gawat, karena makluk-makluk halus yang berkuasa di situ sangat buas.
Ternyata diantara prajurit yang menebang kayu banyak yang mati atau hilang karena perbuatan makluk-makluk halus. Setelah diketahui oleh Adipati Singanegara beberapa kali tentang kejadian tersebut, maka bersemedilah Adipati Singanegara. Beliau bersemedi dalam bulan Sura sampai dengan bulan Sapar. Di dalam semedi itu, Adipati Singanegara diganggu oleh para makluk halus terutama oleh rajanya yang menurut keterangan amatlah sakti. Namun demikian raja makluk halus tersebut dapat ditaklukkan. Karena kekalahan yang diderita raja makluk halus itu, maka tepat pada bulan Sapar, hari Selasa Wage, menyerahkan daerah kekuasaannya kepada Adipati Singanegara. Makhluk halus tak akan mengganggu lagi walaupun daerah itu akan dijadikan suatu kerajaan, malahan akan membantu segala usaha Adipati Singanegara, dengan perjanjian agar mereka diberi sesaji pada waktu-waktu tertentu.
Konon khabarnya, setelah Adipati Singanegara dapat menkalukkan makluk halus, maka dimulailah penebangan hutan, pengaturan daerah sehingga Adipati Singanegara ditunjuk sebagai pimpinan daerah tersebut. Dan langsung menempati daerah itu beserta para prajurit dan keluarganya. Mulai saat itu, daerah tersebut merupakan daerah yang baik, tenteram, aman, panjang punjung loh jinawi, gemah ripah, tata raharja.
Kemudian Pangeran Lokajaya dikawinkan dengan puteri Adipati Singanegara (yang kemudian Pangeran Lokajaya terkenal dengan sebutan Mbah Somongari). Pangeran Purwokusumopun bertempat tinggal di situ. Beliau mempunyai dua orang anak, seorang putra dan seorang putri. Ke dua orang tersebut sampai tua tidak mau bersuami istri. Yang putra tak mau beristri kalau tidak sama dengan saudaranya perempuan. Demikian pula sebaliknya yang putri, akhirnya kedua orang tersebut meninggal tanpa sebab. Maka makam ke dua orang tersebut juga dijadikan satu tempat yang sampai sekarang terkenal dengan nama Makam Kedono-Kedini, yang akhirnya menjadi pepunden rakyat Desa Somongari.
Untuk memperingati kemenangan Adipati Sanganegara berperang melawan raja makluk halus, pada setiap hari Selasa Wage pada bulan Sapar tiap dua tahun sekali dirayakan upacara yang dikenal dengan kegiatan Merti Desa Kebo Palagumantung / Palawija dan lebih terkenal dengan sebutan Jolenan. Dan upacara selamatan desa tersebut ditempatkan di halaman Makam Kedono-Kedini dengan menampilkan atraksi kesenian Tayub dan kesenian lain asal desa Somongari.
Persyaratan dan kelengkapan yang biasa digunakan sebagai upacara tersebut antara lain:
1. Nasi tumpeng dengan ayam panggang
2. Makanan dari beras ketan/pulut, berupa
- Juadah
- Rengginan, dll
3. Makanan dari ketela pohon, berupa :
- Ledre
- Binggel, dll
4. Wayang golek
5. Pisang agung/raja
6. Tayub/Janggrung
Arti dari persyaratan tersebut antar lain, memaknai :
1. Nasi tumpeng dan ayam panggang
Mempunyai pengharapan segala cita-cita/maksud dari dasar sampai setinggi mungkin agar dapat terlaksana dengan baik
2. Makanan dari beras ketan/pulut :
Memberikan gambaran, agar rakyat bersatu padu seia sekata dalam segala langkah dan cita-cita.
3. Makanan dari ketela pohon ;
- Ledre : melambangkan bahwa daerahnya yang terdiri dari pegunungan namun hasilnya dapat mencukupi kebutuhan rakyatnya serta dapat di eksport ke lain daerah.
- Binggelan : dapat digambarkan dengan bermacam-macam tiruan hasil buah-buahan yang terdapat di daerah tersebut.
4. Wayang golek : melambangkan, agar kita mencari (goleki) arti/maksud sebenarnya.
5. Pisang agung raja adalah buah pisang yang dianggap nomor satu/agung dengan harapan dapat mengagungkan/mengangkat desa tersebut.
Adapun makanan dan perlengkapan selamatan yang tersebut pada nomor satu sampai dengan nomor lima ditempatkan di suatu tempat yang disebut “ Jolen ‘.
6. Tayub, melambangkan : di tata supaya guyub dan diujudkan dengan seorang penari yang menari-nari dengan dikerumuni banyak orang dengan maksud agar masyarakat selalu rukun mempunyai satu pandangan yaitu guyub.
Persyaratan yang berupa makanan, sebelum di-ikrarkan dan dimakan menurut tata cara, diadakan suatu upacara sesuai dengan adap daerah tersebut. Adapun yang setiap saat dijalankan adalah sebagai berikut ;
1. sebelum saat yang ditentukan (biasanya dimulai jam 09.00), maka jolen yang diikuti oleh masyarakat dan jenis-jenis kesenian yang ada, berdatangan ke halaman pepundhen Kedono-Kedini.
Menurut kebiasaan Jolen yang yang diadakan sesuai dengan banyaknya pedukuhan yang ada. Setiap pedukuhan biasanya mengeluarkan dua buah jolen, dan secara keseluruhan kurang lebih berjumlah 80-100 buah .
Setiap kesenian yang dikirimkan secara bergantian dengan grup kesenian yang lain harus mempersembahkan kebolehan grupnya di halaman makam Kedono-Kedini + 30 menit.
2. Setelah berkumpul di halam Pepundhen Kedono-Kedini, upacara dimulai dipimpin/diatur oleh kepala desa beserta perangkat dan panitia lainnya.
3. Kecuali pituah-pituah dari kepala desa, biasanya diadakan pula sambutan-sambutan dari pejabat kabupaten diantaranya Bupati.
4. Selanjutnya diadakan pawai (arak-arakan) melalui jalan-jalan di sekeliling tempat upacara atau kampung.
5. Pawai didahului oleh rombongan kepala desa beserta stafnya, kemudian jolen-jolen dan rombongan grup-grup kesenian secara berselang-seling.
6. Setelah pawai berkeliling melalui jalan-jalan yang sudah ditentukan, maka pawai kembali lagi ke halaman pepundhen Kedono-Kedini.
7. Begitu jolen diturunkan, maka diadakan perebutan makanan biasanya oleh semua pengunjung.
8. Sedangkan tumpeng dan ayam panggang, sebagian digunakan selamatan di situ dengan diawali keterangan maksud dan tujuan diadakannya selamatan oleh juru kunci yang diberi kuasa pepundhen tersebut. Lalu dibacakan doa secara agama Islam yang akhirnya dimakan bersama-sama. Sebagian tumpeng dan ayam panggang dibawa pulang oleh pembawa jolen masing-masing.
9. Upacara diteruskan dengan kesenian Tayub. Biasanya seorang penari yang disebut Tayub yang sedang menari lalu diimbangi menari oleh para kaum pria yang didahului oleh kepala desa.
10. Bersamaan tayub, maka semua kesenian yang mengikuti pawai diharapkan untuk bermain / dipentaskan di halaman terbuka.
Adapun kesenian yang terdapat di daerah tersebut yang biasa mengikuti upacara antara lain : kentrung, reog, kuda kepang, incling dan dolalak.
Upacara tersebut diakhiri pukul + 15.00
Untuk menghibur kelelahan siang harinya, biasanya pada malam harinya diadakan suatu pentas kesenian yang utama adalan tayuban

PAGELARAN KESENIAN KABUPATEN PURWOREJO DI ANJUNGAN JAWA TENGAH TAMAN MINI INDONESIA INDAH (TMII) JAKARTA



Sebagaimana tahun lalu, pada tahun 2011 ini Tim Duta Seni Kabupaten Purworejo dibawah koordinasi Dinas Perhubungan Komunikasi Informasi dan Pariwisata kembali mengadakan pementasan di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta. Rombongan yang terdiri dari sanggar Mardi Laras dari Desa Seren Kecamatan Gebang pimpinan Bapak Wardoyo, dengan pendamping dari Dinas Perhubungan Komunikasi Informasi dan Pariwisata, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan pimpinan rombongan Drs. Harnudin Burhan, MM (Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi Informasi dan Pariwisata), berangkat dari halaman Dinhubkominpar pada hari Sabtu 9 April 2011.
Sedangkan kegiatan pementasannya dilaksanakan pada hari Minggu 10 April 2011 dengan mengambil tempat di pendopo Anjungan Jawa Tengah. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Bupati Purworejo, Kepala Perwakilan Jawa Tengah di Jakarta, Asisten Sekda Bidang Administrasi Umum dan Kesra, Kepala Dinhubkominpar, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabag. Kesra, Kabid. Pariwisata, Camat Gebang, Kepala Desa Seren dll. Selain itu hadir pula para pengurus dan anggota perkumpulan / paguyuban warga Purworejo di Jakarta diantaranya Pakutho, Pakuwojo, Kekerwojo dll.
Acara dimulai dengan sambutan Kepala Perwakilan Jawa Tengah di Jakarta yang diwakili oleh Kasi Promosi Winarti Rahayu, SE yang dalam sambutannya menyampaikan bahwa selain mengadakan pementasan kesenian sebagai bagian dari promosi wisata, Kantor Perwakilan juga mengadakan Festival Kuliner Jawa Tengah serta menyiapkan galeri/ruang pamer bagi pameran produk-produk dari Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah.
Pada kesempatan yang sama, dalam sambutannya Bupati Purworejo menyampaikan bahwa salah satu tujuan dari pementasan duta seni adalah untuk melestarikan potensi budaya lokal, dan sebagai wahana silaturahmi dan temu kangen bagi warga Purworejo tinggal di luar Purworejo. Beliau juga menyampaikan jika purworejo berupaya untuk melestarikan budaya lokalnya. Karena jika ada kabupaten/daerah tidak nguri-uri budaya lokalnya maka akan menjadi kabupaten/daerah yang kehilangan jati dirinya.
Selanjutnya Bupati Purworejo menerima piagam penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah karena telah berperan serta dalam Pementasan Duta Seni Jawa Tengah di Taman Mini Indonesia Indah. Piagam diserahkan oleh Perwakilan Jawa Tengah di Jakarta. Acara pembukaan diakhiri dengan saling bertukar cendera mata antara Pemerintah Kabupaten Purworejo dengan Perwakilan Jawa Tengah di Jakarta.
Sedangkan untuk pementasan kesenian, Tim Duta Seni menampilkan kurang lebih 15 (lima belas) paket tarian yang terdiri tarian dolalak dan selingan kesenian Cekok Mondhol dengan waktu pementasan mulai pukul 10.00 - 13.30 WIB. Penampilan penari dari berbagai generasi menjadikan bukti bahwa tarian dolalak di gemari tidak saja penari yang tua namun generasi muda Purworejo-pun ikut mendukung kelestarian budaya lokal. Penonton yang hadir + 500 (lima ratus) orang terdiri dari para warga Purworejo di perantauan dan keluarganya dan mereka mengapresiasi lebih ketika salah satu penari dolalak trance / kesurupan kemudian mengajak 2 (dua) orang penonton untuk ikut menari.
Selain mementaskan kesenian, rombongan dari Dinhubkominpar bekerja sama dengan Dekranasda juga menggelar bazaar makanan khas Purworejo seperti Gebleg, Clorot, Dawet Ireng, Gula Jawa, Bakpia dan lain-lain. Dan sebagaimana tahun-tahun yang lalu, Gebleg dan Clorot menjadi idola dari para warga Purworejo di perantauan terbukti menjadi barang yang paling awal ludes habis dibeli para penggemarnya.

PROSESI GUYANG JARAN (Desa Karangrejo, Kec. Loano)


Prosesi Guyang Jaran memiliki arti sebagai berikut. Dalam bahasa Jawa, Guyang = Memandikan, sedangkan Jaran = Kuda. Jika dilihat dalam konteks yang dimandikan adalah kuda kepang, maka arti lengkapnya adalah : Memandikan kuda kepang. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Grup Kesenian Kuda Kepang “Turonggo Seto” bersama warga masyarakat lainnya secara rutin setiap tahun sekali. Waktu pelaksanaannya adalah tepat dalam bulan Sura (bulan pertama dalam kalender Jawa). Lazimnya dilaksanakan setelah tanggal 10 Sura. Untuk tanggalnya tidak ditentukan, namun biasanya para sesepuh desa mendapatkan wisik / pesan ghaib dari para leluhur desa, kapan pelaksanaan kegiatan ini harus dilaksanakan.
Adapun maksud dari kegiatan ini adalah Pertama, sebagai wujud rasa terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas keberlangsungan dan keselamatan kegiatan kesenian kuda kepang dan kehidupan masyarakat yang harmonis selama ini. Kedua, sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar grup kesenian dan masyarakat desa selalu mendapatkan keselamatan, kesejahteraan, kedamaian dan ketentraman, dan desa mereka dapat terwujud sebagai desa yang gemah ripah loh jinawi. Ketiga, untuk “membersihkan” kelompok kesenian ini dari hal-hal tidak baik yang telah ditemui dalam setiap pementasan maupun keseharian selama satu tahun yang lalu. Pembersihan ini ditandai dengan mencuci semua kuda kepang yang dimiliki oleh grup tersebut di sungai.
Adapun urutan kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1. Ziarah ke makam para leluhur desa.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh para tokoh masyarakat, menuju kompleks makam desa yang terletak di puncak bukit. Dengan membawa uba rampé / kelengkapan, seperti bunga. Para tokoh masyarakat ini mengadakan ziarah dan berdoa di makam para leluhur.  Makam leluhur yang dituju adalah makam dari Pangeran Dipokusumo / Imam Muhammad dan makam para nayaka praja (pejabat) Nagari Purworejo (sebutan dalam bahasa Jawa terhadap Kabupaten Purworejo pada jaman Hindia Belanda) yang dikebumikan di desa setempat.
2.  Guyang Jaran
Prosesi pertama ini ditandai dengan dikeluarkannya kuda kepang dari “Kandang Jaran”. Kandang = tempat tinggal binatang, Jaran = kuda. Kandang disini adalah istilah / kata lain dari rumah warga yang dijadikan tempat penyimpanan kuda kepang. Dari rumah / kandang jaran tersebut kuda kepang diarak dengan diiringi tetabuhan menuju ke pinggir sungai yang mengaliri desa yaitu sungai Bogowonto dan sungai Gading. Pada pertemuan antara 2 (dua) aliran sungai inilah nanti kegiatan Guyang Jaran akan dilaksanakan.
Pada waktu yang telah ditentukan, para pengrawit (penabuh gamelan) dan penari akan melaksanakan tarian di tempuran sungai tersebut dengan menceburkan kuda kepang ke dalam air.
Para penari yang ikut dalam prosesi ini adalah yang telah berusia lanjut / tua, dikarenakan yang disajikan dalam prosesi ini adalah tarian kuno / tradisi. Karena menurut kepercayaan setempat, pementasan kuda kepang harus didahului dengan tarian yang tradisi, setelah itu baru diperbolehkan tarian yang sudah mendapat sentuhan gerak modern.
Para penari kelompok kuda kepang dalam prosesi ini mempergunakan pakaian serba hitam.
3.  Wilujèngan
Wilujèngan / selamatan merupakan kegiatan kenduri dengan menghadirkan seluruh anggota kelompok kuda kepang dan masyarakat. Dilaksanakan pada malam hari setelah kegiatan Guyang Jaran. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan dengan mengambil tempat di Balai Desa. Sajian yang dikendurikan adalah makanan khas desa setempat, bahkan makan bersama dilaksanakan dengan menggunakan pincuk /daun pisang yang dibentuk menyerupai piring.
4.  Pentas
Prosesi terakhir adalah pentas. Pentas ini merupakan pergelaran yang dilakukan oleh seluruh pemain dan pengrawit terdiri dari 3 (tiga) generasi. Mereka terdiri dari : generasi anak-anak, pemuda, dan orang tua.  Masing-masing menari dengan waktu yang bergantian. Ini menunjukkan atau sebagai wujud dari :  Pertama, kebersamaan baik dalam grup kesenian itu sendiri maupun antar grup kesenian dan masyarakat. Karena pementasan ini ditonton atau dinikmati oleh masyarakat luas. Kedua, terjadi proses regenerasi dalam grup atau kesenian kuda kepang di desa setempat, merupakan bentuk nyata upaya dari para sesepuh / orang tua dalam meneruskan atau melanggengkan kesenian ini. Kegiatan ini dilaksanakan di tanah lapang, dengan durasi lama.

PROSESI PETIK TIRTA (DESA JENAR LOR, KEC. PURWODADI)



“Pethik Tirta” merupakan upacara selamatan desa (merti desa) yang dijadikan tradisi di Desa Jenar Lor, Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo. Istilah “Pethik Tirta” berasal dari kata “Pethik” yang berarti “mengambil” dan “Tirta” yang berarti “air”. Secara etimologis, Pethik Tirta berarti upacara mengambil air (yang dilakukan di Sumur Talang, suatu sumur beji / tua yang terletak di Dusun Talang Bagus Desa Jenar Lor Kecamatan Purwodadi) yang dipercaya membawa berkah.

Asal-usul upacara ini berkaitan erat dengan keberadaan Bulak (kawasan pertanian yang sangat luas) yang meliputi wilayah Desa Jenar Lor, Jenar Kidul, Walikoro, Sruwoh, Singkil, Wingko, Pundensari, Jenar Wetan. Saat ini Bulak tersebut dikenal dengan sebutan Bulak Kethip.
Upacara bersih desa sendiri diduga telah dilaksanakan masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan sejak zaman pra–Islam di Jawa. Penyelenggaraan upacara itu terkait dengan asumsi bahwa pada hakekatnya manusia memiliki sistem kepercayaan, yang merupakan salah satu unsur universal dari kebudayaan. Setelah kedatangan agama-agama wahyu, keyakinan akan pemujaan dan penghormatan kepada roh nenek moyang tetap berkembang.
Setelah Islam berkembang di Jawa, kepercayaan itupun tidak dapat dihilangkan, karena sudah menjadi tradisi secara turun temurun.
Upacara Pethik Tirta di Desa Jenar Lor sudah berlangsung lama dan dijadikan aktivitas rutin tahunan dengan tujuan utama yakni : Pertama, untuk mengungkapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia-Nya hingga masyarakat dapat mengadakan panen raya. Kedua, Pethik Tirta sebagai wujud terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada leluhur yaitu Bethara Loano yang telah trukayasa (membuat) sumur dan membuka lahan persawahan, sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat hingga sekarang. Ketiga, Pethik Tirta merupakan wujud permohonan agar warga desa diberikan keselamatan lahir dan bathin, kesehatan, panjang umur serta murah rezeki.

Pada umumnya upacara tradisional diselenggarakan pada tempat yang diyakini oleh masyarakat setempat sebagai pusat daerah tersebut. Demikian halnya dengan masyarakat Desa Jenar Lor, penyelenggaraan upacara Pethik Tirta diawali di Balai Desa sebagai pusat masyarakat berkumpul. Kemudian upacara dilanjutkan dengan kirap “tumpeng”atau arak-arakan mengelilingi desa seterusnya menuju Pendapa Sumur Talang.
Sampai sekarang masyarakat meyakini bahwa upacara Pethik Tirta diselenggarakan dengan pagelaran wayang kulit pertama kali semenjak Demang Jotirto berkuasa di daerah tersebut yang makamnya terletak di sebelah barat Sumur Talang di pemakaman “Panggang”. Tapi belum ditemukan keterangan yang pasti tentang tahun berapa pertama kali upacara Pethik Tirta itu diselenggarakan di Desa Jenar Lor. Berdasarkan keterangan dari beberapa masyarakat, upacara ini sudah dilakukan secara turun temurun sejak nenek moyang mereka, dan telah dijadikan tradisi yang harus dilaksanakan. Dalam perspektif budaya, upacara tradisional merti desa Pethik Tirta ini merupakan manifestasi dari pengaruh kepercayaan animisme yang kemudian terpelihara dalam tradisi budaya Hindu.

Upacara Pethik Tirta merupakan budaya asli masyarakat lokal yang kemudian berinteraksi dan terjalin dalam proses akulturasi dengan budaya Hindu, Budha, dan Islam. Penyelenggaraan upacara Pethik Tirta setiap setahun sekali pada bulan Rojab , dengan waktu yang ditentukan oleh panitia sebagai pemrakarsa dengan melibatkan segenap unsur masyarakat sebagai peserta. Dan upacara ini penyelenggaraannya disertai dengan pertunjukan kesenian wayang kulit. Pada kalangan masyarakat agraris, upacara merti desa lazim diselenggarakan setahun sekali terutama sehabis masa panen padi dan penetapan hari pelaksanaan cenderung dipilih hari Sabtu dan Minggu, meskipun ada yang dilaksanakan selain hari itu dengan pertimbangan perhitungan hari baik berdasarkan penanggalan Jawa. Pemilihan hari Minggu sebagai waktu penyelenggaraan upacara Pethik Tirta dengan alasan hari libur, sehingga diharapkan mereka yang bekerja di luar bidang pertanian dapat ikut berperan, serta anak-anak sekolah juga dapat ikut memeriahkan.
Tempat penyelenggaraan upacara merti desa Pethik Tirta selama ini menggunakan Sumur Talang, dengan puncak upacara mengambil air dari Sumur Talang tersebut.
Sedangkan kegiatan terdiri dari : Selamatan kenduri di Sumur Talang, Kirab Tumpeng, Pagelaran Wayang kulit di Pendapa Sumur Talang, Kenduri dan Pethik Tirta.

PELAKSANAAN PROSESI HARI JADI KAB. PURWOREJO TAHUN 2012



Gambyong Pareanom
Pelaksanaan Prosesi Hari Jadi ke-1111 Kabupaten Purworejo pada tahun 2012 dilaksanakan dengan meriah. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 5 Oktober 2012 di altar Kayu Arahiwang Desa Borowetan Kecamatan Banyuurip dimulai pada pukul 14.00 WIB. Pada saat itu hari Jumat dan para tamu diwajibkan untuk berbusana Jawa. Kegiatan dimulai dengan tarian Gambyong Pareanom oleh 7 (tujuh) orang penari. Tarian ini menjadi pembuka bagi kegiatan Prosesi. Setelah tari Gambyong selesai acara selanjutnya pelaksanaan sambutan Bupati Purworejo dan diteruskan dengan penyerahan bibit pohon jati oleh Bupati kepada para camat, kepala desa Borowetan, 5 (lima) kepala SD, 5 (lima) kepala SMP, 4 (empat) kepala SMA, 4 (empat) kepala SMK.
Gangguan Durjana
Pementasan sendratari Mengenang Bhumi Kayu Ara Hiwang menjadi Shima. Dimulai dengan pementasan tari yang menggambarkan rimbunnya pepohonan di Bhumi Kayu Ara Hiwang. Diikuti dengan datangnya godaan dari para durjana yang merusak tatanan. Ketika para durjana telah dilumpuhkan, maka dalam tarian selanjutnya diceriterakan masyarakat mulai bekerja, bercocok tanam dan menuai hasil dari kekayaan alam Ara Hiwang. Hingga tercipta kesejahteraan, keharmonisan hidup dan tatanan pemerintahan. Pada puncaknya datang sang Manggalayuda yang mendahului kedatangan Dyah Sala. Ke lokasi dimana Dyah Sala akan memberikan prasasti yang kelak akan dinamakan prasasti Kayu Ara Hiwang.  (Sebagai catatan bahwa pematokan (peresmian) tanah perdikan (Shima) Kayu Ara Hiwang dilakukan oleh seorang pangeran, yakni Dyah Sala (Mala), putera Sang Bajra yang berkedudukan di Parivutan. Pematokan tersebut menandai, desa Kayu Ara Hiwang dijadikan Tanah Perdikan (Shima) dan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak, namun ditugaskan untuk memelihara tempat suci yang disebutkan sebagai “parahiyangan” (atau para hyang berada). 
Pemeran Dyah Sala
Tarian secara keseluruhan dikemas oleh Sudarwoko, SSn dan Melania Sinaring Putri. Penata Laku Harjudi, SPd dan Soekoso DM. Penata iringan Suripto Wardani, S.Kar. Sementara peraga di dominasi oleh siswa sekolah dari SD, SMP dan SMA hingga para guru, penggiat seni dari beberapa group kesenian, sanggar tari, sanggar karawitan dan seniman.
Sebuah sendratari yang menarik dan layak ditonton.

PARADE KESENIAN PURWOREJO 2012


Pada hari Kamis tanggal 8 Nopember 2012 bertempat di sepanjang Jalan dr. Setiabudi (depan Pendopo Rumah Dinas Bupati Purworejo) diadakan Parade Kesenian 2012. Parade ini diikuti oleh 5 (lima) ex Kawedanan. dari ex Kawedanan Loano menampilkan Kesenian Topeng Ireng, ex Kawedanan Purworejo menampilkan kesenian Incling, dari ex Kawedanan Kutoarjo menampilkan kesenian Dolalak, dari ex Kawedanan Kemiri menampilkan Cingpoling dan dari ex kawedanan Purwodadi menampilkan kesenian Ganongan.
Kesenian Asli Kab. Purworejo
Cingpoling
Penampilan kegiatan ini merupakan kegiatan yang ikut menyemarakkan pelaksanaan Pekan Purworejo Expo 2012.
Parade dimulai dengan pidato dari Panitia Expo yang di wakili oleh Kabag. Kesra dan pemberangkatan dilaksanakan oleh Bupati Purworejo.Sebelum memberangkatkan, Bupati berpesan agar kegiatan seperti ini di laksanakan secara rutin, agar dapat dinikmati oleh masyarakat. Rute yang diambil adalah depan pendopo, (disini masing-masing Tim diberi kesempatan display di hadapan tamu undangan selama 3 menit) ke arah barat lalu belok kiri, perempatan Polres belok kiri dan mereka akan memainkan kesenian di lima titik yang berbeda di sekitar alun-alun sebelah selatan.
 
Ganongan
Tepat pukul 14.15 WIB setelah acara pelepasan selesai, tim yang pertama di berangkatkan oleh Bupati adalah kesenian Topeng Ireng, berturut-turut disusul oleh kesenian Dolalak, Cingpoling, Ganongan dan Incling. Dua kesenian yang sangat jarang di lihat dan diketahui oleh masyarakat luas adalah Ganongan dan Cingpoling. Ganongan meupakan kesenian yang mempergunakan media kuda kepang dan didominasi oleh pemain yang mempergunakan topeng. Kesenian ini berasal dari Kecamatan Bagelen. Sedangkan kesenian Cingpoling menjadi menarik karena kesenian ini memperlihatkan dua prajurit yang berlatih bertempur. Dengan gayanya yang khas, gerakan tari mereka menjadi sangat unik.
Incling

Pada pementasan di alun-alun, semua tim berkesempatan memainkan keseniannya hingga pukul 17.00 WIB.
Semoga di masa yang akan datang dapat kegiatan ini dapat terlaksana dengan lebih baik.