Showing posts with label purworejo. Show all posts
Showing posts with label purworejo. Show all posts

10 Keelokan di Purworejo yang Layak Membuatnya Digelari Permata Pariwisata Tanah Jawa

No Comments


Kamu yang terbiasa bolak-balik Jakarta–Jogja lewat jalur selatan Jawa Tengah pasti gak asing lagi dengan nama Purworejo. Kabupaten yang berada di antara Kebumen dan Kulon Progo ini memang sering disinggahi oleh mereka yang melalui jalur selatan. Purworejo juga menjadi tanah kelahiran bagi beberapa tokoh nasional, seperti Pahlawan Revolusi Ahmad Yani dan Sarwo Edhie Wibowo, mertua mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yaitu Sarwo Edhie Wibowo .



Di balik tenangnya kota Purworejo yang oleh orang-orang tuanya disebut sebagai Kota Pensiunan ini, terdapat keelokan tersembunyi yang tentunya menggoda untuk disinggahi. Apa aja sih potensi pariwisata yang dimiliki Kota Pramuka ini? Yuk, kita telusuri sama-sama!


1. Purworejo punya beberapa pantai yang tak kalah cantiknya dengan Bali. Misalnya Pantai Jatimalang, destinasi favorit penduduk lokal

 

Pantai Jatimalang saat senja via aminuddinn83.wordpress.com
Berbeda dengan pantai-pantai yang ada di Pacitan atau Gunung Kidul — yang umumnya berpasir putih serta tersekat-sekat oleh perbukitan — pantai Purworejo biasanya panjang, luas, dan memiliki pasir berwarna hitam atau cokelat, seperti halnya pantai-pantai di daerah Bantul maupun Kulonprogo. Salah satu pantai di Purworejo yang paling terkenal adalah pantai Jatimalang.

Pantai ini gak begitu jauh, cuma 18 km dari pusat kota, bisa ditempuh dengan angkot pula! Selain merasakan deburan ombak besar khas pantai selatan, kamu juga akan dimanjakan dengan beragam fasilitas bagi wisatawan.

Takut bermain air laut? Ada kolam renang air tawar di pinggir pantai yang terbuat dari terpal warna-warni. Kamu juga bisa mencoba mengendarai ATV menyusuri pantai. Pun tak perlu repot-repot mencari toilet maupun penginapan karena semua itu sudah tersedia di sini. Kalau lapar, aneka kuliner dari ikan segar tangkapan nelayan siap memanjakan lidahmu.


2. Nikmati nuansa pantai yang masih asri dan alami di Pantai Ketawang

Pantai Ketawang yang sunyi via adventrave.blogspot.com
Kalau kamu ingin menikmati pantai yang masih asri dan alami di Purworejo, datang aja ke Pantai Ketawang yang ada di Desa Ketawang, Kecamatan Grabag. Dengan menempuh perjalanan sejauh 22 km dari pusat kota, kamu sudah bisa menikmati pantai yang masih jarang dikunjungi ini. Kalau beruntung, kamu bisa menyaksikan warga setempat yang memacu kudanya di sini.

3. Pesona ornamen indah di dinding perut bumi bisa kamu saksikan di Goa Seplawan

Goa Seplawan via www.nakarasido.com
Purworejo juga memiliki goa alami yang menjadi salah satu daya tarik wisatanya. Namanya Goa Seplawan. Goa ini terletak di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, sekitar 20 km dari pusat kota; kalau kamu melewati jalan raya Purworejo–Jogja, papan penunjuk jalan ke goa ini pasti kelihatan.

Di goa sepanjang kurang lebih 700 meter dan lebar sekitar 15 meter ini, kamu bisa menjelajah sekalian mengamati indahnya berbagai ornamen alami yang ada di dinding goa. Di luar goa, suasana hutan pinus yang sejuk dan asri di lereng pegunungan Menoreh bakal bikin kamu betah berada di kawasan ini. Apalagi, tak jauh dari sini terdapat sentra durian serta kambing peranakan etawa khas Purworejo.

4. Buat kamu yang mencari panorama air terjun, ada Curug Silangit yang siap menjamumu dengan keelokannya


Curug Silangit via fajarbeve07.blogspot.com
Tak hanya pantai dan goa, Purworejo juga menyimpan sejumlah air terjun dengan panorama yang menawan. Salah satunya adalah curug Silangit yang terletak di Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing. Air terjun ini memiliki ketinggian 50 meter yang terbagi ke dalam tiga tingkatan. Tingkatan pertama tingginya 30 meter, sementara dua tingkatan terakhir masing-masing setinggi 10 meter.

Di dasar air terjun, terdapat kedung atau kolam yang airnya sangat dalam. Kalau kamu gak bisa berenang, lebih baik berhati-hati dan tetaplah berada di tepian. Untuk menuju ke curug ini, aksesnya cukup mudah kok. Kamu bisa menaiki kendaraan pribadi maupun angkutan umum.

5. Ada pula Curug Muncar, air terjun tersembunyi yang punya potensi luar biasa


Curug Muncar via spadepicnic.wordpress.com
Sebuah air terjun yang luar biasa indah dan belum terjamah tangan-tangan manusia menanti untuk kamu sambangi di desa Kaliwungu, kecamatan Bruno, sekitar 45 menit dari pusat kota. Di ketinggian 900 meter dari permukaan laut, suasana yang sejuk dan hijau akan menyergapmu. Di sinilah kamu bisa menemukan Curug Muncar yang tingginya mencapai 40 meter ini.

Untuk mencapai curug ini, kamu mesti trekking selama kurang lebih 30 menit. Tapi, sepanjang jalur trekking kamu akan disuguhi dengan kesejukan dan panorama perbukitan yang menawan. Penasaran?

6. Indahnya panorama kota Purworejo dari ketinggian bisa kamu nikmati dari puncak bukit Geger Menjangan


Lanskap kota Purworejo dari puncak Geger Menjangan via goer-ars.blogspot.com
Nah, kalau kamu menginginkan keindahan puncak bukit dengan panorama lanskap kota Purworejo di bawah kakimu, kamu bisa menemukannya di puncak bukit Geger Menjangan. Bukit ini berada tak jauh dari pusat kota, tepatnya berada di dekat kolam renang Artha Tirta.
Untuk sampai ke puncak, kamu mesti menapaki ratusan anak tangga terlebih dulu. Sesampainya di atas kamu akan menemukan sebuah pendopo yang berfungsi sebagai gardu pandang. Setelah bersusah payah, nikmatilah panorama lanskap kota Purworejo yang terhampar di depan mata kamu.

7. Hutan wisata Kusumo Asri: pesona wanawisata yang dimiliki Purworejo layak untuk dinikmati


Hutan wisata Kusumo Asri via desapaitankecamatankemiri.blogspot.com
Jika kamu ingin menikmati wisata hutan di Purworejo, hutan wisata Kusumo Asri adalah tempat yang pas untuk kamu tuju. Selain hutan pinus yang menarik untuk disusuri, kawasan ini juga ditunjang dengan beragam fasilitas, seperti bumi perkemahan, serta wahana outbound. Kawasan ini juga mempunyai kebun binatang mini yang pastinya bisa memikat hati anak-anak yang berkunjung kemari. Agar bisa menikmati keindahan kawasan ini, langsung aja deh datang ke Desa Mayungsari, Kecamatan Bener.

8. Selain alam yang mempesona, Purworejo juga memiliki objek wisata sejarah yang gak kalah menarik. Datang saja ke Museum Tosan Aji di pusat kota

Koleksi Museum Tosan Aji via mumiro29.blogspot.com
Tertarik dengan peninggalan sejarah berupa benda-benda pusaka? Sambangi Museum Tosan Aji yang terletak di selatan alun-alun Purworejo ini. Museum ini disebut juga sebagai Museum Pusaka karena sebagian besar koleksinya berupa Tosan Aji, yaitu senjata-senjata pusaka yang bersejarah yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Ada lebih dari seribu bilah senjata pusaka yang dipamerkan, mulai dari keris, pedang, tombak, maupun senjata lainnya.

Tak hanya itu, museum ini juga memamerkan koleksi berbagai benda cagar budaya yang ditemukan di wilayah Purworejo, seperti gamelan, prasasti, arca, sampai fosil. Yang jelas, museum ini menawarkan pengalaman unik yang mungkin gak kamu dapat di tempat lain.

9. Pernah bertanya-tanya bedug terbesar di dunia ada di mana? Jawabannya: di Purworejo!


Bedug Pendowo, terbesar di dunia via burhanuddinojo.blogspot.com
Alun-alun Purworejo yang menjadi ruang publik warganya ini konon adalah yang terluas di pulau Jawa, dengan luas mencapai 6 hektar. Di kawasan inilah kegiatan pemerintahan dan keagamaan berlangsung. Dari Museum Tosan Aji, kamu bisa berjalan kaki ke utara menuju Masjid Agung Purworejo atau Masjid Darul Muttaqien untuk melihat sebuah bedug istimewa yang diklaim sebagai yang terbesar di dunia.

Bedug Kyai bagelen atau yang dikenal dengan Bedug Bagelen ini memang bedug terbesar yang dibuat tahun 1834 dengan cara melubangi kayu jati utuh, jadi bukan dari kayu yagn disambung. Kebayang gak pohonnya sebesar apa? Konon, kayu jati yang digunakan untuk membuat bedug ini adalah pohon berusia ratusan tahun yang dikeramatkan. Wuihh.

10. Mumpung di Purworejo, tentu belum lengkap kalau kamu belum menyaksikan kesenian Tari Dolalak yang luwes dan unik

 


Tari Dolalak via ragamberitaku.blogspot.com
Bila mampir ke Purworejo, jangan lewatkan untuk menonton tari kesenian khas Purworejo yang bernama Tari Dolalak. Tari Dolalak sendiri merupakan kesenian yang ada sejak zaman Belanda. Nama “dolalak” sendiri berasal dari not do dan la, karena dulunya tarian ini menggunakan alat musik yang hanya memiliki dua nada.

Tari Dolalak terkenal dengan kostumnya yang unik, yaitu kostum yang bentuknya berasal dari seragam serdadu Belanda, lengkap dengan topi pet, celana pendek, serta kaus kaki. Penari juga kerap menggunakan kacamata hitam, terutama pada kondisi trance di mana penari bisa menari hingga berjam-jam tanpa henti. Tarian ini biasanya ditampilkan pada perhelatan lokal maupun event nasional di Purworejo.

Ternyata Purworejo punya sisi pariwisata yang menarik, ‘kan? Boleh tuh kalau kamu berniat menjadikannya destinasi liburanmu selanjutnya.

Jika anda mampir ke Purworejo jangan lupa abadikan momen yang menarik ya guys :)
Ini ada Rekomendasi Produk buat kamu :
NIKON D7200 Kit VR - Black

NIKON COOLPIX S7000 - Black


Sumber: http://www.hipwee.com

Bedug Terbesar Didunia

No Comments
 Hi sehabat Blogger !
Sebagai umat muslim Indonesia, kita perlu berbangga hati karena bedug terbesar di dunia berada di negeri ini, tepatnya berada di daerah Purwerejo, Jawa Tengah. Bedug besar tersebut bernama Bedug Pendowo. Menurut website resmi Pemerintah Kabupaten Purworejo, bedug ini merupakan Bedug terbesar di Asia Tenggara, bahkan di Dunia. Ukuran spesifikasinya adalah :








Bedug ini dibuat dengan penuh kesungguhan dari bahan pangkal (bongkot) kayu jati bong yang langka bentuk dan ukuran yang luar biasa besarnya telah dapat diwujudkan. Adapun jumlah paku yang digunakan adalah paku keling dari kayu jati untuk memaku kulit bagian depan 120 buah dan kulit bagian belakang 98 buah. Spesifikasi lain yaitu garis tengah depan 194 cm, garis tengah belakang 180 cm. Keliling bagian depan 601 cm, keliling bagian belakang 564 cm. Dibuat sekitar tahun 1762 Jawa atau 1834 Masehi.
Sedangkan kulit bedug dibuat dari :
1. Kulit banteng ukuran garis tengah 220 cm.
2. Bagian belakang pada tahun 1936 rusak dan diganti dengan kulit sapi Benggala (Ongak).
3. Sampai saat ini tahun 2005 telah dilakukan penggantian kulit bedug bagian belakang tiga kali dan terakhir tahun 1996.
Kulit bagian depan masih utuh tetap kulit asli sejak dibuatnya yaitu dari kulit banteng.


Udah dulu yah informasinya hehehe dilanjut lain waktu. Jangan Lupa yah Berkunjung ke Masjid Agung Kadipaten Purworejo (Sekarang bernama Masjid Darul Muttaqien) karena disitulah terdapatnya Bedug Pendopo :)
ini nih alamatnya :

Jalan Mayjend Sutoyo, Kelurahan Sindurjan
Kecamatan Purworejo Purworejo
Kabupaten Purworejo, Propinsi Jawa Tengah
            Indonesia





 

Gunung Pencu

 Sepenggal Cerita Seputar Kunjungan Presiden Soekarno ke Desa Ngadagan tahun 1947
Sebuah desa yang tenang, dengan kondisi geografi berupa hamparan sawah dan perbukitan. Desa Ngandagan, terletak di sebelah barat laut Kabupaten Purworejo. Siapa yang menyangka bahwa Desa ini pada jaman kejayaanya sekitar tahun 1947, merupakan satu-satunya desa di Kecamatan Pituruh yang pernah dikunjungi oleh Presiden RI yang pertama Ir. Soekarno.
Mengapa Presiden Soekarno Berkunjung ke Desa Ngandagan ?
Dibawah kepimpinan seorang Glondhong (lurah) yang jujur, cerdas, bijaksana dan “mumpuni” bernama Sumotirto dengan nama kecil Mardikun (1946-1963) Desa Ngandagan menjadi sebuah desa percontohan yang sangat terkenal. Tidak heran para pejabat pemerintahan dengan mobilnya yang saat itu merupakan barang langka sering terlihat hilir mudik mengunjungi Desa itu. Dari sekedar rekreasi hingga yang bertujuan melakukan peninjauan. Belum lagi kunjungan murid-murid sekolah maupun masyarakat umum dari berbagai daerah. Bahkkan tidak heran ketika itu tahun 1960 seorang mahasiswa pernah melakukan penelitian (1961-1981) hasilnya : Land Reform in a Javanes strong>e Village Ngandagan : a case study on the role of Lurah in decision making prosess dan pada tahun 2009 kembali muncul dengan Judul Dari Desa ke Agenda Bangsa (Dari Ngandagan Jawa Tengah sampai Porto Alegre Brazil) siapa lagi penulisnya kalau bukan (Dr. HC) Ir. Gunawan Wiradi M. Soc. S.c yang cukup dikenal di IPB Bogor.

Hamparan sawah yang menghijau di Desa Ngandagan
Melalui cerita dari saksi hidup antara lain menyebutkan bahwa di bawah kepemimpinan Glondhong Sumotirto tidak ada warga desa yang malas (bhs jawa gembeng), tidak ada maling berani mengusik ketentraman desa. Yang membuat saya merinding “tidak ada rumput yang boleh tumbuh megotori jalan Desa Ngandagan”. Walaupun terkesan otoriter dan disiplin semua warga desa saat itu merasakan kemakmuran dan ketentraman.
Jadilah Desa Ngandagan menjadi Desa percontohan, sepanjang jalan yang bersih ditaburi kerikil, kiri-kanan jalan ditanami pohon Pepaya Unggul berbuah sangat lebat dan besar-besar. Dari kejauhan bukit yang menghijau ditanami pohon jeruk dan buahnya juga sangat lebat, dibawahnya terdapat kolam ikan dengan airnya yang sangat jernih. Dan di ujung bukit yang kelihatan “mecucu” karena terletak di ketinggian, terdapat tempat peristirahatan Gua Gunung Pencu. Saya hanya bisa membayangkan bagaimana pemikiran seorang lurah yang sangat maju di jaman itu, jika dikaitkan dengan konsep Desa Wisata yang tengah digembar-gemborkan, diwacanakan, namun belum bisa diwujudkan hingga sekarang. Ternyata berpuluh-puluh tahun yang silam telah dicontohkan dengan sempurna oleh seorang Glondhongbernama Sumotirto tanpa meminta bantuan dari pemerintah alias berdikari.
Mengapa warga Desa Ngandagan saat itu sangat menghormati dan mencintai kepemimpinan beliau ? Jawabanya adalah karena beliau memimpin melalui pendekatan kesejahteraan, kejujuran, disiplin dan pemberian sanksi yang keras. Sebagai contoh jika ada warga yang akan mantu atau khitanan, maka beliau akan meminta perangkat desa mendata siapa-siapa yang akan mantu atau khitanan. Setelah didata maka beliau sendiri yang akan menanggung biaya hajatan dan khitanan tersebut secara masal. Ini sekaligus menjadi hiburan tersendiri bagi warga di luar desa yang akan mengunjungi Desa Ngandagan. Yang terkenal hingga saat ini beliau pernah menikahkan 21 orang pasangan pengantin. Warga Desa Ngandagan benar-benar merasa diayomi sang pemimpin mereka.
Hasil pertanianpun tidak boleh dijual kepada tengkulak, tetapi harus dijual ke pasar. Jika ada warga yang masih tinggal di gunung, maka akan dibantu dipindahkan ke tanah desa dan dibantu membangun rumahnya atau istilah kerennya resettlement . Jika ada pencuri yang tertangkap di desanya maka pencuri itu akan beliau bina, menjadi orang baik dan bila perlu dicarikan jodoh dari warga Desa Ngadagan. Jika masih ada warganya yang nempur beras untuk makan, maka beliau tidak segan akan memberinya bantuan beras. Melalui Land reform kepemilikan tanah diupayakan supaya lebih adil antara lain dengan cara memberikan tanah garapan kepada rakyat miskin dan Tunakisma. Tanah desa tidak boleh dijual kepada orang dari luar desa (beberapa desa masih menerapkan aturan ini hingga sekarang). Karena akan terkait dengan sumbangan tenaga kerja pemilik tanah yang harus disumbangkan kepada kemajuan desa istilah orang kampung “kerigan/kerja bakti”.
Beliau ini juga terkenal sebagai penggemar seni dan juga mempunyai jiwa seni. Untuk menarik para pengunjung beliu juga tidak segan menanggap berbagai kesenian tradisional untuk menghibur warganya maupun warga dari luar Desa Ngandagan. Konon disamping rumah beliau yang ada kaki bukit terdapat rumah panggung khusus untuk menggelar/menanggap kesenian tradisional seperti wayang kulit, wayang orang dan kethoprak.
Ketenaran Desa Ngandagan sebagai desa percontohan memberikan daya tarik tersendiri bagi Presiden Soekarno kala itu. Ir. Soekarno mengunjungi Desa Ngandagan pada tahun 1947. Tujuan kunjungan tersebut adalah untuk meninjau keberhasilan proyek pertanian jeruk dan perikanan di Desa Ngandagan. Selain itu ada cerita juga bahwa Presiden Soekarno dan Glondhong Sumotirto pernah belajar pada “Guru” yang sama. Sebagaiman layaknya ketika suatu daerah akan mendapat kunjungan dari Sang Presiden.
Sepanjang jalan dari arah Kemiri sampai Pituruh didirikan posko-posko penyambutan. Beragam kesenian tradisional memamerkan kepiawaiannya. Bermacam-macam hasil pertanian unggulan dipamerkan dan warga yang berminat dipersilahkan menikmati secara cuma-cuma.
Ketika rombongan Presiden Ir. Soekarno tiba di Desa Ngandagan, ribuan rakyat pengagum beliau berdesak-desakan untuk turut menyambut ataupun hanya sekedar ingin melihat langsung sosok Presiden yang mereka puja itu. Dalam pidatonya beliau memuji kemandirian Warga Desa Ngandagan bersama Glondhong Sumotirto dalam membangun desanya. Dalam pidato/dialognya dengan warga desa, kurang lebih “Aku kudu nganggo basa krama apa ngoko ? serentak dijawab ngoko…!!. Desa Ngadagan pancen hebat, ora perlu bantuan saka pemerintah nanging bisa dadi desa kang maju….
Berlangsunglah dialog rakyat dengan Presiden di depan rumah Glondhong Sumotirto. Kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian rakyat yang tidak henti-hentinya menunjukkan kebolehan mereka.
Kunjungan dilanjutkan dengan meninjau tempat peristirahatan Gunung Pencu. Presiden Soekarno kembali menguji kepandaian warga desa. “Ayo sapa sing bisa nulis jenengku …maju ! Maka majulah salah seorang sukarelawan menulis Sukarno dengan aksara jawa. Namun ada kesalahan dalam menulis nama Soekarno, karena didepan huruf “Sa” yang disuku kelebihan huruf “Ha”, sehingga bunyinya “* Sukarno” dan semua yang hadir tertawa. Yang menarik Presiden Soekarno tidak marah bahkan memaklumi dan ikut tertawa. Kemudian Presiden Soekarno dengan sabar membimbingnya sambil menulis “ Sa disuku unine apa..? secara serentak masyarakat yang hadir menjawab Su…, banjur Ka dilayar Kar…, terus Na ditaling lan diwenehi tarung diwaca No… dadi wacane Su-kar-no”.
Rakyat pun senang karena dibimbing Presiden Soekarno. Bapak saya sendiri juga menyaksikan beliau ketika memasuki Gua Gunung Pencu melalui pintu sebelah timur, karena pintunya cukup rendah untuk ukuran Presiden Soekarno, maka beliau harus menunduk dan melepas kopiahnya. Setelah selesai melakukan kunjungan di Desa Ngandagan Presiden Soekarno beserta rombongan melanjutkan perjalan ke Kota Purworejo, dan melakukan pidato di alun-alun Purworejo.



Pintu Timur, tempat Presiden Soekarno menikmati kesejukan Gunung Pencu kini ditumbuhi semak-semak. Lorong bagian dalam batu cadasnya diselimuti lumut dan akar-akar pohon menyembul disela-selanya
Itulah sekelumit cerita seputar Kunjungan Presiden Soekarno ke Desa Ngandagan yang saya peroleh dari cerita saksi hidup, ketika kembali mengunjungi Gua Gunung Pencu pada bulan Mei 2010. Bagaimanapun Kunjungan Presiden Soekarno ke Desa Ngandagan tidak terlepas dari keberhasilan Glondhong Sumotirto dalam memimpin Desa Ngadagan. Pola kepemimpinan beliau dalam memajukan desa, bisa dijadikan contoh untuk memajukan pedesaan di Indonesia.
Namun rangkaian kunjungan resmi tersebut hingga saat ini kurang dikenal, dan yang lebih mengemuka adalah bahwa kunjungan Presiden Soekarno ke Ngadagan (Gua Gunung Pencu) adalah untuk mengambil barang/pusaka. Ini sangat terasa ketika saya berjalan menyusuri jalan setapak ke Gua Gunung Pencu, langsung ditanya “Mas..badhe pados “barang/pusaka” tinggalane Pak Presiden Soekarno napa ?. Rupanya mengapa ada  lubang galian yang tidak dikembalikan seperti semula di tengah lorong Gua terkait dengan pertanyaan itu. Saya hanya bisa geleng kepala, jaman begini masih ada saja orang-orang seperti itu.


Tulisan Semangat Perjuangan 1945 di depan Pintu Sebelah Timur sampai kapan mampu bertahan ?
Saya juga teringat ketika saya masih duduk di SD sekitar 1980 an, Gua Gunung Pencu sempat menjadi kunjungan wajib bagi para siswa. Dengan berjalan kaki perjalanan dilanjutkan ke Gua Gong, Silumbu dan Watu Lawang yang terdapat di sebelah utara Desa Ngandagan. Sambil berdiri menatap beberapa bagian lorong yang roboh itu, saya masih terngiang-ngiang ketika teman-teman sebaya dengan riang belarian di komplek Gua gunung Pencu, sambil beradu pendapat mengira-ngira setiap apa yang kami lihat. Dahulu tempat itu sangat bersih dan sejuk. Namun sayang saat ini kondisinya memprihatinkan. Disana sini ditumbuhi semak, beberapa bangunan hancur, dan tulisan bernada semangat perjuangan 45 mulai memudar tergerus hujan dan lumut. Melalui coretan ini saya berharap semoga masih ada kepedulian dari pihak-pihak terkait untuk menyelamatkan bukti peninggalan sejarah tersebut, dan kalau kita mau mempelajari konsep pengembangan Desa Ngadagan waktu itu, potensi untuk dikembangkan menjadi tempat wisata alternatif di Purworejo sangat memungkinkan.

Rekomendasi produk buat membuat momen perjalananmu terabadikan :
NIKON Camera DSLR D3400 Kit
NIKON Camera DSLR D3400 Kit

MASJID SUNAN GESENG

MASJID SUNAN GESENG

Masjid Sunan Geseng berlokasi di dusun Kauman, desa Bagelen Kec. Bagelen dibangun pada abad 19 (dalam kurun waktu / periodisasi 1800-an Masehi) pada masa pemerintahan Tumenggung Cokronegoro. Bangunan masjid beratap tumpang satu dan diatasnya terdapat mustaka yang terbuat dari tanah liat. Terdiri dari ruang utama dan bangunan serambi beratap limasan. Ruang utama terdapat 4 soko guru dan 12 soko rowo yang berbentuk bulat dengan bahan kayu jati. Pada bagian pintu terdapat hiasan relief sulur daun. Perlengkapan lain terdapat mimbar, bedug, dan kenthongan dan relief hias lainnya berupa flora, tumpal, meander. Hingga saat ini kondisi masjid masih terawat dengan baik. Bahkan mulai tanggal 16 Juni 2009 pada masjid yang juga merupakan salah satu cagar budaya ini diadakan renovasi oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah. Dan proses perawatan masih berjalan hingga tulisan ini di-upload.
CEKOK MONDHOL

CEKOK MONDHOL


Kesenian Cekok Mondhol merupakan kesenian tradisional kerakyatan yang bernuansa keagamaan Islam. Kesenian ini tumbuh dan berkembang di Desa Ngasinan Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo dan sekitarnya. Letak desa ini di daerah pegunungan, perbatasan Kabupaten Purworejo dengan Kabupaten Wonosobo. Berawal dari ide sekelompok pemuda desa, komunitas pengajian untuk membentuk grup kesenian yang bisa dijadikan hiburan sekaligus tuntunan. Gerak, lagu dan syairnya serta musik iringannya hasil adaptasi dari kesenian yang ada di daerah Magelang yaitu Kubro Siswo yang kemudian dimodifikasi dengan hasil kreativitas para pemuda setempat, dipelopori oleh pemuda yang bernama Purwadi sekitar tahun 1970-an.
”Cekok” adalah istilah Jawa yang memiliki arti memasukkan jamu atau obat ke mulut yang berguna untuk kesehatan tubuh. ”Mondhol” juga istilah Jawa yang artinya bungkusan kain yang diikat. Relevan dengan syair lagu yang berisi nasehat keagamaan Islam, hidup bernegara dan bermasyarakat, maka harapannya nasehat yang diberikan tersebut disimpan untuk dijadikan tuntunan hidup, hal ini dapat dilihat dari simbol yang ada pada kostum tyaitu blangkon yang terdapat mondholannya.
Gerak tarinya energik dengan dominasi gerak kaki. Ditarikan oleh kaum laki-laki karena banyak hentakan kaki. Kostum yang dipakai adalah surjan lengkap dengan celana komprang, kain batik, lontong, kamus (sabuk), blangkon yang terdapat mondholannya. Alat musiknya terdiri dari kenthongan sejumlah 3 buah, ketipung sejumlah 4 buah yang terbentuk dalam 1 set, bedhug sejumlah 1 buah dan tamborin sejumlah 1 buah. Kesenian ini sering ditampilkan pada acara-acara yang diselenggarakan oleh desa setempat dan sekitarnya, juga orang yang punya hajatan dan pada festival kesenian rakyat.
SOYAR MAOLE

SOYAR MAOLE


Kesenian kentrung rebana SOYAR MAOLE saat ini sebarannya meliputi beberapa dusun di Desa Kaligono, Kecamatan Kaligesing. Untuk gambaran kesenian Soyar Maole di Dusun Jetis Desa Kaligono Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo sebagai berikut :
Menurut riwayat tidak tertulis dari para pendahulu/leluhur Desa Kaligono, kesenian Kentrung Rebana Soyar Maole sudah ada sejak tahun 1907, yang kemudian secara tradisi diteruskan oleh generasi ke generasi walaupun menjalani pasang surut, masih tetap bertahan sampai sekarang.
Konon menurut cerita, pada tahun 1907 terdapat seorang warga Desa Kaligono yang menunaikan ibadah haji. Sekembali dari ibadah haji, beliau mengajarkan agama Islam di Desa Kaligono. Metode dakwah yang dilakukannya dengan berbagai cara, salah satunya adalah lewat kesenian yang berkembang pada masa itu. Metode dakwah tersebut konon diperoleh dari Sunan Kalijaga.
Kesenian ini disajikan oleh 6 orang atau lebih pemusik dan 10 orang penyanyi (walaupun terdapat grup yang memiliki anggota hingga 20 orang). Alat musik terdiri dari kendang (1 buah), ketipung (1 buah), rebana (3 buah), rebana besar (1 buah), kecer (1 buah). Lagu yang dibawakan melantunkan syiar keislaman yang diambil dari Kitab Al Qur’an yang dikolaborasikan dengan bahasa jawa dan (saat ini) bahasa Indonesia.
Asal Kata SOYAR MAOLE
Menurut Bau Sastra Jawa Penerbit Kanisius
Soyar = ngandhakake kandhane wong lia (berdakwah)
Artinya : mengatakan perkataan orang lain/berdakwah.
Maole dari kata mole = molor (bertambah panjang)
Maka SOYAR MAOLE diartikan : mengatakan perkataan orang lain/berdakwah sampai waktu yang panjang atau terus menerus hingga agama berkembang luas.
Sumber lain mengatakan :
Soyar dari kata moyar = orang hidup yang berkeluyuran tanpa tujuan.
Maole dari kata maulud = lahir (kelahiran) disini dititik beratkan kepada kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Maka SOYAR MAOLE berarti : orang hidup jangan hanya berkeluyuran, ingatlah apa yang dikatakan/diperintahkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW
Di Desa Kaligono khususnya di Dusun Jetis berkembang secara terorganisasi mulai tahun 1925. Yang kemudian diberi nama Organisasi Kesenian SOLAWATAN SOYAR MAOLE KARANG BINANGUN.

KESENIAN INCLING DESA SEMAGUNG KECAMATAN BAGELEN


Riwayat singkat Kesenian Incling ini sebenarnya bersumber dari sebuah cerita yang terdapat di Jawa Timur dan khususnya Karesidenan Madiun yang berpusat di Ponorogo.
Adapun cerita ringkasnya adalah sebagai berikut :
1. Di Ponorogo ada seorang bernama Suromenggolo, ia seorang yang sakti mandraguna. Dalam hidupnya ia mempunyai seorang anak perempuan yang bernama Sarinten, ia adalah wanita yang sangat cantik sekali. Karena kecantikannya itu ia dilamar oleh seorang dari Trenggalek bernama Singalodra. Karena Sarinten tidak mau, maka Sarinten dibunuh oleh Singajaya atas perintah Singalodra.
2. Karenanya marahlah Suromenggolo. Sehubungan dengan itu ia memasang umbul-umbul sebagai tanda menantang perang terhadap Singalodra. Umbul-umbul tersebut terlihat pula oleh Singalodra dan kawan-kawannya. Terjadilah peperangan.
3. Dalam peperangan ini mereka masing-masing saling mengerahkan prajurit. Keduanya sangat kuat. Singalodra mengeluarkan kekuatannya/kesaktiannya dengan gigi siungnya, sedang Suromenggolo dengan kekuatan/kesaktiannya pada cemeti/pecut.
4. Abdi-abdi Suromenggolo dalam keadaan yang demikian ini tidak dapat berbuat lebih bayak. Mereka hanya bimbang/bingung. Padahal seharusnya ia memihak pada bendara atau tuannya. Kadang-kadang ia menggambarkan peperangan ini bagaikan pertarungan ayam jantan (adu jago). Sebagai gambaran bahwa seekor ayam akan bertarung dengan gigihnya bahkan sampai matipun ia rela.
Dengan gambaran abdi-abdi yang demikian itu dapat ditangkap oleh kedua prajurit. Sehingga mengakibatkan peperangan semakin seru. Mereka masing-masing saling menggunakan kekuatan lahir : silat, pedang dan lain sebagainya. Kekuatan batin dengan berbagai macam ilmu kebatinan.
Demikianlah cerita singkat tentang Kesenian Incling Semagung yang diilhami dari cerita aslinya dalam cerita Singalodra melawan Suromenggolo.

KESENIAN CINGPOLING


Kesenian Cingpoling menggambarkan prajurit yang sedang latihan perang. Tema ini tetap bertahan sampai sekarang. Kesenian Cingpoling merupakan kesenian tradisional sejenis atau reogan mengalami perkembangan sebagai tari perang dan bertemakan tentang kepahlawanan. Biasanya yang diambil dalam kesenian jathilan, reog maupun sejenisnya adalah cerita panji, namun kesenian Cingpoling di Desa Kesawen, Kec. Pituruh memiliki ciri khas yaitu tentang keprajuritan sebagai pengawal.
Kesenian ini diperkirakan muncul pada abad XVII. Bermula dari kegiatan pisowanan ke kraton yang dilakukan oleh Ki Demang. Dimana pada saat menunggu pisowanan, para pengawal Ki Demang melakukan permain dengan menggunakan gerakan-gerakan keprajuritan.
Asal mula nama Cingpolingterdapat beberapa versi, dua diantaranya adalah
Pada perkembangannya, kesenian Cingpoling peraganya terdiri dari :
1. Kelompok pertama terdiri dari : 4 (empat) orang penari yang berperan : 1 orang sebagai Ki Demang, 2 orang sebagai pendamping (gandhek), 1 orang penyongsong.
2. Kelompok kedua terdiri dari : 4 (empat) orang penabuh yang terdiri dari 3 (tiga) orang berperan sebagai penabuh bendhe dan 1 (satu) orang sebagai juru tiup slompret.
3. Kelompok ketiga terdiri dari : 9 (sembilan) orang yang terdiri dari : 1 (satu) orang pemayung, 2 (dua) orang pemencak, 2 (dua) orang pendamping, 2 (dua) orang penipung, 2 (dua) orang pengecrek.
Penyelenggaraan di ruang terbuka, misalnya lapangan, halaman depan rumah. Walaupun pada awalnya hanya di lingkungan kadipaten tempat pisowanan berlangsung. Penonton dan penari dalam jarak yang dekat. Diurasi waktu pementasan sekitar 1 - 2 jam. Namun karena pertimbangan dan perkembangan, bisa dipadatkan menjadi ½ jam.

Keterangan :
pisowanan : adalah sebuah tradisi dalam kerajaan-kerajaan Jawa, di mana bawahan-bawahan raja / sultan datang (sowan) ke istana untuk melaporkan perkembangan daerah yang dipimpinnya. Pisowanan boleh dikatakan merupakan sebuah wujud pertanggungjawaban pemimpin-pemimpin daerah kepada raja. Setelah mendengarkan laporan dari para bawahannya, raja/sultan biasanya akan memberikan nasehat, teguran, ataupun perintah (titah) bagi masing-masing pemimpin daerah.

KESENIAN CEPETAN


Kesenian Cepetan merupakan jenis kesenian yang terlahir di Desa Kedungkamal Kecamatan Grabag Kab.Purworejo yang terinspirasi dari seorang pemuda yang bernama Tujan. Pada saat itu Kepala Desa Kedungkamal dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1959 berkeinginan untuk partisipasi dalam pawai budaya tingkat kecamatan. Keinginan tersebut disampaikan kepada seorang pemuda yang bernama Tujan.Mengapa hal itu disampaikan kepadanya dengan alasan karena pemuda Tujan pernah berpengalaman ikut menjadi anggota penari kuda kepang pada group kuda kepang desa lain. Maka pada saat itu pemuda Tujan menyampaikan ide membentuk group kesenian yang diberi nama Cepetan.
Kesenian Cepetan terdiri dari 2 (dua) orang penari Barongan , 2 orang penari Banteng .2 orang penari jaran kepang, 2 penari topeng Pregiwati, 10 penari Topeng Raksasa Sekipu sehingga jumlah penari keseluruhan ada 22 orang . Para penari tampil dengan tarian yang sangat sederhana berbaris sambil menari-nari sesuai dengan irama musik yang ada. Tarian Cepetan tampil menari sambil berjalan dan biasanya ditempatkan dibarisan paling depan karena para penari mengenakan topeng yang menakutkan sehingga bisa membuka jalan untuk peserta pawai yang lain kecuali juga bisa menarik perhatian penonton.
Penari Cepetan menggunakan kostum yang menggambarkan raksasa berbaju amboradul dan menggunakan topeng raksasa yang menakutkan. Topeng dari kata bata gepeng ditata untuk membangun langgar sebagai tempat untuk belajar mengaji para santri Jika santri telah menyelesaikan belajar Al Qur’an 30 jus mereka bisa disebut telah katam . Untuk itu mereka mengadakan acara ritual yang disebut Khataman . Ketika kataman mereka diarak pawai keliling desa dan paling depan biasanya kesenian Cepetan. Pelaksanaan acara khataman yang seperti ini bisa menghidupi dan melestarikan kesenian Cepetan. Barongan adalah gambaran seekor binatang yang sangat menakutkan dan dapat memangsa apa saja harapannya setelah santri khatam mereka menjadi orang berilmu yang sabar dan dapat menerima masukan apa saja dan dari mana saja. Sedangkan Bantheng dari kata tibane entheng harapannya setelah khatam para santri dalam menyelesaikan masalah-masalah dalam hidupnya menjadi ringan. Jaran kepang dari kata jaran yang maknanya mlajar sak paran-paran mempunyai makna agar setelah para santri khatam dapat mencari rejeki kemana-mana dengan mudah.
Iringannya terdiri dari beberapa instrumen :
1. Kendang
2. Kethuk kenong
3. Kecrek/ kecer
4. Kempul gong
Iringannyapun sangat sederhana sekali hanya dengan irama yang monoton untuk mengiringi para penari menampilkan tariannya. Dengan irama yang ada seorang penyanyi atau waranggono nembang ( menyanyikan) lagu-lagu yang populer saat ini.
Kata kata Cepetan berasal dari kata Cepet yang konon cerita merupakan makluk halus yang suka menggoda manusia dengan membawa manusia ke tempat yang jauh dalam waktu singkat. Terkadang menyimpan (menahan) manusia yang mereka bawa ( kecepet) ditempat yang sulit dilihat oleh mata kepala manusia biasa. Kepercayaan masyarakat agar orang yang kecepet segera dilepas oleh Si Cepet maka dicari muter-muter sambil membunyikan tetabuhan yang terdiri dari alat-alat dapur seperti tampah, irus, piring ,gelas dan sebagainya. Konon cerita Cepet mendengar tetabuhan tersebut tergiur dan menari-nari sehingga lengah dalam mengawasi tahanannya (orang yang kecepet) sehingga tahanannya bisa lepas dan bisa terlihat dengan mata kepala kita. Kata Cepet dengan harapan supaya cepat selesai dan tercapai apa yang menjadi cita-citanya.
Kesenian Cepetan dari berdiri sampai sekarang di Kabupaten Purworejo hanya satu group saja hal ini mungkin dikarenakan kesenian ini kurang menarik untuk ditampilkan sebagai kesenian panggung atau seni pertunjukan. Kesenian Cepetan sering dipakai untuk acara-acara yang sifatnya pawai atau arak-arakan saja. Bapak Tujan Kartowijoyo yang lahir th 1921 mencipta kesenian ini sampai sekarang (Th 2010) masih aktif membina kesenian ini dan telah membuat kader untuk melestarikan kesenian ini kepada anaknya.

JOLENAN (ADAT DESA SOMONGARI, KEC. KALIGESING)



Desa Somongari adalah suatu desa yang terletak di wilayah Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo, + 2 Km ke arah selatan dari Ibu Kota Kecamatan Kaligesing dan merupakan deretan pegunungan Menoreh yang terkenal dengan penghasilan buah durian, manggis dan kokosan/langsep.
Desa tersebut juga mengukir sejarah bangsa yakni seorang pencipta Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya“ Wage Rudolf Soepratman yang lahir di Dukuh Trembelang Desa Somongari.
Jolenan adalah sebuah nama upacara merti desa Keba Palawija yang menggunakan media jolen sebagai wadah atau tempat meletakkannya tumpeng dan ayam panggang. Jolen itu sendiri semacam keranjang dengan alas atau dasar empat persegi dan diberi tutup berbentuk piramida. Ledre dan Binggel diikat dan digantungkan pada ujung sebilah bambu, ditancapkan di sekeliling jolen yang menghiasi. Mengandung maksud merupakan perwujudan /gambaran bahwa daerah pegunungan Somongari kaya akan hasil bumi, baik dari hutannya maupun lain-lainnya.
Adapun yang melatar belakangi kepercayaan masyarakat Desa Somongari dengan selalu melaksanakan kegiatan merti desa tersebut, adalah sebuah legenda ;
Pada jaman dulu, kurang lebih sejaman dengan Majapahit, daerah yang sekarang kita sebut Desa Somongari merupakan daerah hutan belantara yang sama sekali tidak seorang manusiapun berani menempatinya. Kita ibaratkan dengan bahasa Jawa : Sato mara sato mati, janma mara janma mati, Dewa mara keplayu. Yang artinya, “segala binatang bila mendekat mati, semua manusia bila mendekat juga akan mati, pergi dari daerah itu”. Hal ini disebabkan karena tempat itu banyak didiami makluk halus yang konon amat membahayakan. Sehingga tak ada orang atau seekor binatangpun yang berani memasuki daerah tersebut.
Konon kabarnya pada jaman Majapahit, terjadi suatu peperangan antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Pajajaran yang terkenal dengan nama perang Bubat. Pada saat itu, diantara prajurit kerajaan Majapahit ada yang berjalan melalui daerah yang sekarang dinamakan Desa somongari. Barisan prajurit tersebut dipimpin oleh Adipati Singanegara, Pangeran Lokajaya dan seorang lagi Pangeran Purwokusumo. Rombongan tersebut beristirahat di daerah itu sampai beberapa saat lamanya. Karena dirasa enak beristirahat di tempat tersebut, maka Adipati Singanagara dan para prajurit diperintahkan untuk terus bermukim di situ. Dan pula diperintahkan untuk menebang hutan-hutan sedikit demi sedikit untuk tempat tinggal.
Di depan diceriterakan bahwa tempat tersebut adalah suatu tempat dimana di daerah tersebut adalah daerah yang gawat, karena makluk-makluk halus yang berkuasa di situ sangat buas.
Ternyata diantara prajurit yang menebang kayu banyak yang mati atau hilang karena perbuatan makluk-makluk halus. Setelah diketahui oleh Adipati Singanegara beberapa kali tentang kejadian tersebut, maka bersemedilah Adipati Singanegara. Beliau bersemedi dalam bulan Sura sampai dengan bulan Sapar. Di dalam semedi itu, Adipati Singanegara diganggu oleh para makluk halus terutama oleh rajanya yang menurut keterangan amatlah sakti. Namun demikian raja makluk halus tersebut dapat ditaklukkan. Karena kekalahan yang diderita raja makluk halus itu, maka tepat pada bulan Sapar, hari Selasa Wage, menyerahkan daerah kekuasaannya kepada Adipati Singanegara. Makhluk halus tak akan mengganggu lagi walaupun daerah itu akan dijadikan suatu kerajaan, malahan akan membantu segala usaha Adipati Singanegara, dengan perjanjian agar mereka diberi sesaji pada waktu-waktu tertentu.
Konon khabarnya, setelah Adipati Singanegara dapat menkalukkan makluk halus, maka dimulailah penebangan hutan, pengaturan daerah sehingga Adipati Singanegara ditunjuk sebagai pimpinan daerah tersebut. Dan langsung menempati daerah itu beserta para prajurit dan keluarganya. Mulai saat itu, daerah tersebut merupakan daerah yang baik, tenteram, aman, panjang punjung loh jinawi, gemah ripah, tata raharja.
Kemudian Pangeran Lokajaya dikawinkan dengan puteri Adipati Singanegara (yang kemudian Pangeran Lokajaya terkenal dengan sebutan Mbah Somongari). Pangeran Purwokusumopun bertempat tinggal di situ. Beliau mempunyai dua orang anak, seorang putra dan seorang putri. Ke dua orang tersebut sampai tua tidak mau bersuami istri. Yang putra tak mau beristri kalau tidak sama dengan saudaranya perempuan. Demikian pula sebaliknya yang putri, akhirnya kedua orang tersebut meninggal tanpa sebab. Maka makam ke dua orang tersebut juga dijadikan satu tempat yang sampai sekarang terkenal dengan nama Makam Kedono-Kedini, yang akhirnya menjadi pepunden rakyat Desa Somongari.
Untuk memperingati kemenangan Adipati Sanganegara berperang melawan raja makluk halus, pada setiap hari Selasa Wage pada bulan Sapar tiap dua tahun sekali dirayakan upacara yang dikenal dengan kegiatan Merti Desa Kebo Palagumantung / Palawija dan lebih terkenal dengan sebutan Jolenan. Dan upacara selamatan desa tersebut ditempatkan di halaman Makam Kedono-Kedini dengan menampilkan atraksi kesenian Tayub dan kesenian lain asal desa Somongari.
Persyaratan dan kelengkapan yang biasa digunakan sebagai upacara tersebut antara lain:
1. Nasi tumpeng dengan ayam panggang
2. Makanan dari beras ketan/pulut, berupa
- Juadah
- Rengginan, dll
3. Makanan dari ketela pohon, berupa :
- Ledre
- Binggel, dll
4. Wayang golek
5. Pisang agung/raja
6. Tayub/Janggrung
Arti dari persyaratan tersebut antar lain, memaknai :
1. Nasi tumpeng dan ayam panggang
Mempunyai pengharapan segala cita-cita/maksud dari dasar sampai setinggi mungkin agar dapat terlaksana dengan baik
2. Makanan dari beras ketan/pulut :
Memberikan gambaran, agar rakyat bersatu padu seia sekata dalam segala langkah dan cita-cita.
3. Makanan dari ketela pohon ;
- Ledre : melambangkan bahwa daerahnya yang terdiri dari pegunungan namun hasilnya dapat mencukupi kebutuhan rakyatnya serta dapat di eksport ke lain daerah.
- Binggelan : dapat digambarkan dengan bermacam-macam tiruan hasil buah-buahan yang terdapat di daerah tersebut.
4. Wayang golek : melambangkan, agar kita mencari (goleki) arti/maksud sebenarnya.
5. Pisang agung raja adalah buah pisang yang dianggap nomor satu/agung dengan harapan dapat mengagungkan/mengangkat desa tersebut.
Adapun makanan dan perlengkapan selamatan yang tersebut pada nomor satu sampai dengan nomor lima ditempatkan di suatu tempat yang disebut “ Jolen ‘.
6. Tayub, melambangkan : di tata supaya guyub dan diujudkan dengan seorang penari yang menari-nari dengan dikerumuni banyak orang dengan maksud agar masyarakat selalu rukun mempunyai satu pandangan yaitu guyub.
Persyaratan yang berupa makanan, sebelum di-ikrarkan dan dimakan menurut tata cara, diadakan suatu upacara sesuai dengan adap daerah tersebut. Adapun yang setiap saat dijalankan adalah sebagai berikut ;
1. sebelum saat yang ditentukan (biasanya dimulai jam 09.00), maka jolen yang diikuti oleh masyarakat dan jenis-jenis kesenian yang ada, berdatangan ke halaman pepundhen Kedono-Kedini.
Menurut kebiasaan Jolen yang yang diadakan sesuai dengan banyaknya pedukuhan yang ada. Setiap pedukuhan biasanya mengeluarkan dua buah jolen, dan secara keseluruhan kurang lebih berjumlah 80-100 buah .
Setiap kesenian yang dikirimkan secara bergantian dengan grup kesenian yang lain harus mempersembahkan kebolehan grupnya di halaman makam Kedono-Kedini + 30 menit.
2. Setelah berkumpul di halam Pepundhen Kedono-Kedini, upacara dimulai dipimpin/diatur oleh kepala desa beserta perangkat dan panitia lainnya.
3. Kecuali pituah-pituah dari kepala desa, biasanya diadakan pula sambutan-sambutan dari pejabat kabupaten diantaranya Bupati.
4. Selanjutnya diadakan pawai (arak-arakan) melalui jalan-jalan di sekeliling tempat upacara atau kampung.
5. Pawai didahului oleh rombongan kepala desa beserta stafnya, kemudian jolen-jolen dan rombongan grup-grup kesenian secara berselang-seling.
6. Setelah pawai berkeliling melalui jalan-jalan yang sudah ditentukan, maka pawai kembali lagi ke halaman pepundhen Kedono-Kedini.
7. Begitu jolen diturunkan, maka diadakan perebutan makanan biasanya oleh semua pengunjung.
8. Sedangkan tumpeng dan ayam panggang, sebagian digunakan selamatan di situ dengan diawali keterangan maksud dan tujuan diadakannya selamatan oleh juru kunci yang diberi kuasa pepundhen tersebut. Lalu dibacakan doa secara agama Islam yang akhirnya dimakan bersama-sama. Sebagian tumpeng dan ayam panggang dibawa pulang oleh pembawa jolen masing-masing.
9. Upacara diteruskan dengan kesenian Tayub. Biasanya seorang penari yang disebut Tayub yang sedang menari lalu diimbangi menari oleh para kaum pria yang didahului oleh kepala desa.
10. Bersamaan tayub, maka semua kesenian yang mengikuti pawai diharapkan untuk bermain / dipentaskan di halaman terbuka.
Adapun kesenian yang terdapat di daerah tersebut yang biasa mengikuti upacara antara lain : kentrung, reog, kuda kepang, incling dan dolalak.
Upacara tersebut diakhiri pukul + 15.00
Untuk menghibur kelelahan siang harinya, biasanya pada malam harinya diadakan suatu pentas kesenian yang utama adalan tayuban

BEDUG PENDOWO


Untuk kelengkapan Masjid Agung Kadipaten Purworejo (Sekarang bernama Masjid Darul Muttaqien), KRAA Cokronagoro I memerintahkan kepada Raden Patih Cokrojoyo untuk segera membuat bedug yang berasal dari kayu jati yang diambil dari hutan Pendowo/Bragolan. Raden Patih Cokrojoyo memanggil Wedono Bragolan yaitu Raden Tumenggung Prawironegoro yang juga adalah adik dari KRAA Cokronagoro I sendiri, untuk bersama-sama melaksanakan perintah tersebut. Akhirnya disepakati untuk membuat bedug besar/agung dengan menggunakan bahan dari pangkal (bongkot) kayu jati bang yang bercabang lima (dalam ilmu bangunan Jawa/Serat Kaweruh Kalang disebut pohon jati pendowo), daerah dimana terdapat pohon jati pendowo ini disebut sebagai dusun Pendowo Desa Bragolan Kecamatan Purwodadi.
Setelah mendapat restu dari Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro I, maka dimulailah pembuatan Bedug Agung tersebut yang memakan waktu cukup lama sebab peralatan pada saat itu belumlah seperti sekarang ini. Disamping itu saat akan mengerjakan dan pada waktu pengerjaannya, senantiasa didukung dari para ulama dan para pekerjanya untuk memohon kehadirat Allah Swt agar selalu mendapatkan petunjuk serta kekuatan-Nya.
Akhirnya bedug besar/agung yang direncanakan dan dibuat dengan penuh kesungguhan dari bahan pangkal (bongkot) kayu jati bong yang langka bentuk dan ukuran yang luar biasa besarnya telah dapat diwujudkan. Adapun jumlah paku yang digunakan adalah paku keling dari kayu jati untuk memaku kulit bagian depan 120 buah dan kulit bagian belakang 98 buah. Spesifikasi lain yaitu garis tengah depan 194 cm, garis tengah belakang 180 cm. Keliling bagian depan 601 cm, keliling bagian belakang 564 cm. Dibuat sekitar tahun 1762 Jawa atau 1834 Masehi.
Sedangkan kulit bedug dibuat dari :
1. Kulit banteng ukuran garis tengah 220 cm.
2. Bagian belakang pada tahun 1936 rusak dan diganti dengan kulit sapi Benggala (Ongak).
3. Sampai saat ini tahun 2005 telah dilakukan penggantian kulit bedug bagian belakang tiga kali dan terakhir tahun 1996.
Kulit bagian depan masih utuh tetap kulit asli sejak dibuatnya yaitu dari kulit banteng.