Showing posts with label wisata purworejo. Show all posts
Showing posts with label wisata purworejo. Show all posts

10 Keelokan di Purworejo yang Layak Membuatnya Digelari Permata Pariwisata Tanah Jawa

No Comments


Kamu yang terbiasa bolak-balik Jakarta–Jogja lewat jalur selatan Jawa Tengah pasti gak asing lagi dengan nama Purworejo. Kabupaten yang berada di antara Kebumen dan Kulon Progo ini memang sering disinggahi oleh mereka yang melalui jalur selatan. Purworejo juga menjadi tanah kelahiran bagi beberapa tokoh nasional, seperti Pahlawan Revolusi Ahmad Yani dan Sarwo Edhie Wibowo, mertua mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yaitu Sarwo Edhie Wibowo .



Di balik tenangnya kota Purworejo yang oleh orang-orang tuanya disebut sebagai Kota Pensiunan ini, terdapat keelokan tersembunyi yang tentunya menggoda untuk disinggahi. Apa aja sih potensi pariwisata yang dimiliki Kota Pramuka ini? Yuk, kita telusuri sama-sama!


1. Purworejo punya beberapa pantai yang tak kalah cantiknya dengan Bali. Misalnya Pantai Jatimalang, destinasi favorit penduduk lokal

 

Pantai Jatimalang saat senja via aminuddinn83.wordpress.com
Berbeda dengan pantai-pantai yang ada di Pacitan atau Gunung Kidul — yang umumnya berpasir putih serta tersekat-sekat oleh perbukitan — pantai Purworejo biasanya panjang, luas, dan memiliki pasir berwarna hitam atau cokelat, seperti halnya pantai-pantai di daerah Bantul maupun Kulonprogo. Salah satu pantai di Purworejo yang paling terkenal adalah pantai Jatimalang.

Pantai ini gak begitu jauh, cuma 18 km dari pusat kota, bisa ditempuh dengan angkot pula! Selain merasakan deburan ombak besar khas pantai selatan, kamu juga akan dimanjakan dengan beragam fasilitas bagi wisatawan.

Takut bermain air laut? Ada kolam renang air tawar di pinggir pantai yang terbuat dari terpal warna-warni. Kamu juga bisa mencoba mengendarai ATV menyusuri pantai. Pun tak perlu repot-repot mencari toilet maupun penginapan karena semua itu sudah tersedia di sini. Kalau lapar, aneka kuliner dari ikan segar tangkapan nelayan siap memanjakan lidahmu.


2. Nikmati nuansa pantai yang masih asri dan alami di Pantai Ketawang

Pantai Ketawang yang sunyi via adventrave.blogspot.com
Kalau kamu ingin menikmati pantai yang masih asri dan alami di Purworejo, datang aja ke Pantai Ketawang yang ada di Desa Ketawang, Kecamatan Grabag. Dengan menempuh perjalanan sejauh 22 km dari pusat kota, kamu sudah bisa menikmati pantai yang masih jarang dikunjungi ini. Kalau beruntung, kamu bisa menyaksikan warga setempat yang memacu kudanya di sini.

3. Pesona ornamen indah di dinding perut bumi bisa kamu saksikan di Goa Seplawan

Goa Seplawan via www.nakarasido.com
Purworejo juga memiliki goa alami yang menjadi salah satu daya tarik wisatanya. Namanya Goa Seplawan. Goa ini terletak di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, sekitar 20 km dari pusat kota; kalau kamu melewati jalan raya Purworejo–Jogja, papan penunjuk jalan ke goa ini pasti kelihatan.

Di goa sepanjang kurang lebih 700 meter dan lebar sekitar 15 meter ini, kamu bisa menjelajah sekalian mengamati indahnya berbagai ornamen alami yang ada di dinding goa. Di luar goa, suasana hutan pinus yang sejuk dan asri di lereng pegunungan Menoreh bakal bikin kamu betah berada di kawasan ini. Apalagi, tak jauh dari sini terdapat sentra durian serta kambing peranakan etawa khas Purworejo.

4. Buat kamu yang mencari panorama air terjun, ada Curug Silangit yang siap menjamumu dengan keelokannya


Curug Silangit via fajarbeve07.blogspot.com
Tak hanya pantai dan goa, Purworejo juga menyimpan sejumlah air terjun dengan panorama yang menawan. Salah satunya adalah curug Silangit yang terletak di Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing. Air terjun ini memiliki ketinggian 50 meter yang terbagi ke dalam tiga tingkatan. Tingkatan pertama tingginya 30 meter, sementara dua tingkatan terakhir masing-masing setinggi 10 meter.

Di dasar air terjun, terdapat kedung atau kolam yang airnya sangat dalam. Kalau kamu gak bisa berenang, lebih baik berhati-hati dan tetaplah berada di tepian. Untuk menuju ke curug ini, aksesnya cukup mudah kok. Kamu bisa menaiki kendaraan pribadi maupun angkutan umum.

5. Ada pula Curug Muncar, air terjun tersembunyi yang punya potensi luar biasa


Curug Muncar via spadepicnic.wordpress.com
Sebuah air terjun yang luar biasa indah dan belum terjamah tangan-tangan manusia menanti untuk kamu sambangi di desa Kaliwungu, kecamatan Bruno, sekitar 45 menit dari pusat kota. Di ketinggian 900 meter dari permukaan laut, suasana yang sejuk dan hijau akan menyergapmu. Di sinilah kamu bisa menemukan Curug Muncar yang tingginya mencapai 40 meter ini.

Untuk mencapai curug ini, kamu mesti trekking selama kurang lebih 30 menit. Tapi, sepanjang jalur trekking kamu akan disuguhi dengan kesejukan dan panorama perbukitan yang menawan. Penasaran?

6. Indahnya panorama kota Purworejo dari ketinggian bisa kamu nikmati dari puncak bukit Geger Menjangan


Lanskap kota Purworejo dari puncak Geger Menjangan via goer-ars.blogspot.com
Nah, kalau kamu menginginkan keindahan puncak bukit dengan panorama lanskap kota Purworejo di bawah kakimu, kamu bisa menemukannya di puncak bukit Geger Menjangan. Bukit ini berada tak jauh dari pusat kota, tepatnya berada di dekat kolam renang Artha Tirta.
Untuk sampai ke puncak, kamu mesti menapaki ratusan anak tangga terlebih dulu. Sesampainya di atas kamu akan menemukan sebuah pendopo yang berfungsi sebagai gardu pandang. Setelah bersusah payah, nikmatilah panorama lanskap kota Purworejo yang terhampar di depan mata kamu.

7. Hutan wisata Kusumo Asri: pesona wanawisata yang dimiliki Purworejo layak untuk dinikmati


Hutan wisata Kusumo Asri via desapaitankecamatankemiri.blogspot.com
Jika kamu ingin menikmati wisata hutan di Purworejo, hutan wisata Kusumo Asri adalah tempat yang pas untuk kamu tuju. Selain hutan pinus yang menarik untuk disusuri, kawasan ini juga ditunjang dengan beragam fasilitas, seperti bumi perkemahan, serta wahana outbound. Kawasan ini juga mempunyai kebun binatang mini yang pastinya bisa memikat hati anak-anak yang berkunjung kemari. Agar bisa menikmati keindahan kawasan ini, langsung aja deh datang ke Desa Mayungsari, Kecamatan Bener.

8. Selain alam yang mempesona, Purworejo juga memiliki objek wisata sejarah yang gak kalah menarik. Datang saja ke Museum Tosan Aji di pusat kota

Koleksi Museum Tosan Aji via mumiro29.blogspot.com
Tertarik dengan peninggalan sejarah berupa benda-benda pusaka? Sambangi Museum Tosan Aji yang terletak di selatan alun-alun Purworejo ini. Museum ini disebut juga sebagai Museum Pusaka karena sebagian besar koleksinya berupa Tosan Aji, yaitu senjata-senjata pusaka yang bersejarah yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Ada lebih dari seribu bilah senjata pusaka yang dipamerkan, mulai dari keris, pedang, tombak, maupun senjata lainnya.

Tak hanya itu, museum ini juga memamerkan koleksi berbagai benda cagar budaya yang ditemukan di wilayah Purworejo, seperti gamelan, prasasti, arca, sampai fosil. Yang jelas, museum ini menawarkan pengalaman unik yang mungkin gak kamu dapat di tempat lain.

9. Pernah bertanya-tanya bedug terbesar di dunia ada di mana? Jawabannya: di Purworejo!


Bedug Pendowo, terbesar di dunia via burhanuddinojo.blogspot.com
Alun-alun Purworejo yang menjadi ruang publik warganya ini konon adalah yang terluas di pulau Jawa, dengan luas mencapai 6 hektar. Di kawasan inilah kegiatan pemerintahan dan keagamaan berlangsung. Dari Museum Tosan Aji, kamu bisa berjalan kaki ke utara menuju Masjid Agung Purworejo atau Masjid Darul Muttaqien untuk melihat sebuah bedug istimewa yang diklaim sebagai yang terbesar di dunia.

Bedug Kyai bagelen atau yang dikenal dengan Bedug Bagelen ini memang bedug terbesar yang dibuat tahun 1834 dengan cara melubangi kayu jati utuh, jadi bukan dari kayu yagn disambung. Kebayang gak pohonnya sebesar apa? Konon, kayu jati yang digunakan untuk membuat bedug ini adalah pohon berusia ratusan tahun yang dikeramatkan. Wuihh.

10. Mumpung di Purworejo, tentu belum lengkap kalau kamu belum menyaksikan kesenian Tari Dolalak yang luwes dan unik

 


Tari Dolalak via ragamberitaku.blogspot.com
Bila mampir ke Purworejo, jangan lewatkan untuk menonton tari kesenian khas Purworejo yang bernama Tari Dolalak. Tari Dolalak sendiri merupakan kesenian yang ada sejak zaman Belanda. Nama “dolalak” sendiri berasal dari not do dan la, karena dulunya tarian ini menggunakan alat musik yang hanya memiliki dua nada.

Tari Dolalak terkenal dengan kostumnya yang unik, yaitu kostum yang bentuknya berasal dari seragam serdadu Belanda, lengkap dengan topi pet, celana pendek, serta kaus kaki. Penari juga kerap menggunakan kacamata hitam, terutama pada kondisi trance di mana penari bisa menari hingga berjam-jam tanpa henti. Tarian ini biasanya ditampilkan pada perhelatan lokal maupun event nasional di Purworejo.

Ternyata Purworejo punya sisi pariwisata yang menarik, ‘kan? Boleh tuh kalau kamu berniat menjadikannya destinasi liburanmu selanjutnya.

Jika anda mampir ke Purworejo jangan lupa abadikan momen yang menarik ya guys :)
Ini ada Rekomendasi Produk buat kamu :
NIKON D7200 Kit VR - Black

NIKON COOLPIX S7000 - Black


Sumber: http://www.hipwee.com

Wisata Alam Gunung Ijo Purworejo

1 comment



http://quintbian.blogspot.co.id/2016/03/wisata-alam-gunung-ijo-purworejo.html

Haloo sehabat blogger semua, mau share nih di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah tepatnya di Desa Durensari, Bagelen, Kabupaten Purworejo terdapat sebuah destinasi Wisata Alam yang tidak boleh dilewatkan namanya "Gunung Ijo" . Penasaran kan?? Mari kita lihat video dibawah ini :





Sumber :http://reviensmedia.com/

Gunung Pencu

 Sepenggal Cerita Seputar Kunjungan Presiden Soekarno ke Desa Ngadagan tahun 1947
Sebuah desa yang tenang, dengan kondisi geografi berupa hamparan sawah dan perbukitan. Desa Ngandagan, terletak di sebelah barat laut Kabupaten Purworejo. Siapa yang menyangka bahwa Desa ini pada jaman kejayaanya sekitar tahun 1947, merupakan satu-satunya desa di Kecamatan Pituruh yang pernah dikunjungi oleh Presiden RI yang pertama Ir. Soekarno.
Mengapa Presiden Soekarno Berkunjung ke Desa Ngandagan ?
Dibawah kepimpinan seorang Glondhong (lurah) yang jujur, cerdas, bijaksana dan “mumpuni” bernama Sumotirto dengan nama kecil Mardikun (1946-1963) Desa Ngandagan menjadi sebuah desa percontohan yang sangat terkenal. Tidak heran para pejabat pemerintahan dengan mobilnya yang saat itu merupakan barang langka sering terlihat hilir mudik mengunjungi Desa itu. Dari sekedar rekreasi hingga yang bertujuan melakukan peninjauan. Belum lagi kunjungan murid-murid sekolah maupun masyarakat umum dari berbagai daerah. Bahkkan tidak heran ketika itu tahun 1960 seorang mahasiswa pernah melakukan penelitian (1961-1981) hasilnya : Land Reform in a Javanes strong>e Village Ngandagan : a case study on the role of Lurah in decision making prosess dan pada tahun 2009 kembali muncul dengan Judul Dari Desa ke Agenda Bangsa (Dari Ngandagan Jawa Tengah sampai Porto Alegre Brazil) siapa lagi penulisnya kalau bukan (Dr. HC) Ir. Gunawan Wiradi M. Soc. S.c yang cukup dikenal di IPB Bogor.

Hamparan sawah yang menghijau di Desa Ngandagan
Melalui cerita dari saksi hidup antara lain menyebutkan bahwa di bawah kepemimpinan Glondhong Sumotirto tidak ada warga desa yang malas (bhs jawa gembeng), tidak ada maling berani mengusik ketentraman desa. Yang membuat saya merinding “tidak ada rumput yang boleh tumbuh megotori jalan Desa Ngandagan”. Walaupun terkesan otoriter dan disiplin semua warga desa saat itu merasakan kemakmuran dan ketentraman.
Jadilah Desa Ngandagan menjadi Desa percontohan, sepanjang jalan yang bersih ditaburi kerikil, kiri-kanan jalan ditanami pohon Pepaya Unggul berbuah sangat lebat dan besar-besar. Dari kejauhan bukit yang menghijau ditanami pohon jeruk dan buahnya juga sangat lebat, dibawahnya terdapat kolam ikan dengan airnya yang sangat jernih. Dan di ujung bukit yang kelihatan “mecucu” karena terletak di ketinggian, terdapat tempat peristirahatan Gua Gunung Pencu. Saya hanya bisa membayangkan bagaimana pemikiran seorang lurah yang sangat maju di jaman itu, jika dikaitkan dengan konsep Desa Wisata yang tengah digembar-gemborkan, diwacanakan, namun belum bisa diwujudkan hingga sekarang. Ternyata berpuluh-puluh tahun yang silam telah dicontohkan dengan sempurna oleh seorang Glondhongbernama Sumotirto tanpa meminta bantuan dari pemerintah alias berdikari.
Mengapa warga Desa Ngandagan saat itu sangat menghormati dan mencintai kepemimpinan beliau ? Jawabanya adalah karena beliau memimpin melalui pendekatan kesejahteraan, kejujuran, disiplin dan pemberian sanksi yang keras. Sebagai contoh jika ada warga yang akan mantu atau khitanan, maka beliau akan meminta perangkat desa mendata siapa-siapa yang akan mantu atau khitanan. Setelah didata maka beliau sendiri yang akan menanggung biaya hajatan dan khitanan tersebut secara masal. Ini sekaligus menjadi hiburan tersendiri bagi warga di luar desa yang akan mengunjungi Desa Ngandagan. Yang terkenal hingga saat ini beliau pernah menikahkan 21 orang pasangan pengantin. Warga Desa Ngandagan benar-benar merasa diayomi sang pemimpin mereka.
Hasil pertanianpun tidak boleh dijual kepada tengkulak, tetapi harus dijual ke pasar. Jika ada warga yang masih tinggal di gunung, maka akan dibantu dipindahkan ke tanah desa dan dibantu membangun rumahnya atau istilah kerennya resettlement . Jika ada pencuri yang tertangkap di desanya maka pencuri itu akan beliau bina, menjadi orang baik dan bila perlu dicarikan jodoh dari warga Desa Ngadagan. Jika masih ada warganya yang nempur beras untuk makan, maka beliau tidak segan akan memberinya bantuan beras. Melalui Land reform kepemilikan tanah diupayakan supaya lebih adil antara lain dengan cara memberikan tanah garapan kepada rakyat miskin dan Tunakisma. Tanah desa tidak boleh dijual kepada orang dari luar desa (beberapa desa masih menerapkan aturan ini hingga sekarang). Karena akan terkait dengan sumbangan tenaga kerja pemilik tanah yang harus disumbangkan kepada kemajuan desa istilah orang kampung “kerigan/kerja bakti”.
Beliau ini juga terkenal sebagai penggemar seni dan juga mempunyai jiwa seni. Untuk menarik para pengunjung beliu juga tidak segan menanggap berbagai kesenian tradisional untuk menghibur warganya maupun warga dari luar Desa Ngandagan. Konon disamping rumah beliau yang ada kaki bukit terdapat rumah panggung khusus untuk menggelar/menanggap kesenian tradisional seperti wayang kulit, wayang orang dan kethoprak.
Ketenaran Desa Ngandagan sebagai desa percontohan memberikan daya tarik tersendiri bagi Presiden Soekarno kala itu. Ir. Soekarno mengunjungi Desa Ngandagan pada tahun 1947. Tujuan kunjungan tersebut adalah untuk meninjau keberhasilan proyek pertanian jeruk dan perikanan di Desa Ngandagan. Selain itu ada cerita juga bahwa Presiden Soekarno dan Glondhong Sumotirto pernah belajar pada “Guru” yang sama. Sebagaiman layaknya ketika suatu daerah akan mendapat kunjungan dari Sang Presiden.
Sepanjang jalan dari arah Kemiri sampai Pituruh didirikan posko-posko penyambutan. Beragam kesenian tradisional memamerkan kepiawaiannya. Bermacam-macam hasil pertanian unggulan dipamerkan dan warga yang berminat dipersilahkan menikmati secara cuma-cuma.
Ketika rombongan Presiden Ir. Soekarno tiba di Desa Ngandagan, ribuan rakyat pengagum beliau berdesak-desakan untuk turut menyambut ataupun hanya sekedar ingin melihat langsung sosok Presiden yang mereka puja itu. Dalam pidatonya beliau memuji kemandirian Warga Desa Ngandagan bersama Glondhong Sumotirto dalam membangun desanya. Dalam pidato/dialognya dengan warga desa, kurang lebih “Aku kudu nganggo basa krama apa ngoko ? serentak dijawab ngoko…!!. Desa Ngadagan pancen hebat, ora perlu bantuan saka pemerintah nanging bisa dadi desa kang maju….
Berlangsunglah dialog rakyat dengan Presiden di depan rumah Glondhong Sumotirto. Kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan kesenian rakyat yang tidak henti-hentinya menunjukkan kebolehan mereka.
Kunjungan dilanjutkan dengan meninjau tempat peristirahatan Gunung Pencu. Presiden Soekarno kembali menguji kepandaian warga desa. “Ayo sapa sing bisa nulis jenengku …maju ! Maka majulah salah seorang sukarelawan menulis Sukarno dengan aksara jawa. Namun ada kesalahan dalam menulis nama Soekarno, karena didepan huruf “Sa” yang disuku kelebihan huruf “Ha”, sehingga bunyinya “* Sukarno” dan semua yang hadir tertawa. Yang menarik Presiden Soekarno tidak marah bahkan memaklumi dan ikut tertawa. Kemudian Presiden Soekarno dengan sabar membimbingnya sambil menulis “ Sa disuku unine apa..? secara serentak masyarakat yang hadir menjawab Su…, banjur Ka dilayar Kar…, terus Na ditaling lan diwenehi tarung diwaca No… dadi wacane Su-kar-no”.
Rakyat pun senang karena dibimbing Presiden Soekarno. Bapak saya sendiri juga menyaksikan beliau ketika memasuki Gua Gunung Pencu melalui pintu sebelah timur, karena pintunya cukup rendah untuk ukuran Presiden Soekarno, maka beliau harus menunduk dan melepas kopiahnya. Setelah selesai melakukan kunjungan di Desa Ngandagan Presiden Soekarno beserta rombongan melanjutkan perjalan ke Kota Purworejo, dan melakukan pidato di alun-alun Purworejo.



Pintu Timur, tempat Presiden Soekarno menikmati kesejukan Gunung Pencu kini ditumbuhi semak-semak. Lorong bagian dalam batu cadasnya diselimuti lumut dan akar-akar pohon menyembul disela-selanya
Itulah sekelumit cerita seputar Kunjungan Presiden Soekarno ke Desa Ngandagan yang saya peroleh dari cerita saksi hidup, ketika kembali mengunjungi Gua Gunung Pencu pada bulan Mei 2010. Bagaimanapun Kunjungan Presiden Soekarno ke Desa Ngandagan tidak terlepas dari keberhasilan Glondhong Sumotirto dalam memimpin Desa Ngadagan. Pola kepemimpinan beliau dalam memajukan desa, bisa dijadikan contoh untuk memajukan pedesaan di Indonesia.
Namun rangkaian kunjungan resmi tersebut hingga saat ini kurang dikenal, dan yang lebih mengemuka adalah bahwa kunjungan Presiden Soekarno ke Ngadagan (Gua Gunung Pencu) adalah untuk mengambil barang/pusaka. Ini sangat terasa ketika saya berjalan menyusuri jalan setapak ke Gua Gunung Pencu, langsung ditanya “Mas..badhe pados “barang/pusaka” tinggalane Pak Presiden Soekarno napa ?. Rupanya mengapa ada  lubang galian yang tidak dikembalikan seperti semula di tengah lorong Gua terkait dengan pertanyaan itu. Saya hanya bisa geleng kepala, jaman begini masih ada saja orang-orang seperti itu.


Tulisan Semangat Perjuangan 1945 di depan Pintu Sebelah Timur sampai kapan mampu bertahan ?
Saya juga teringat ketika saya masih duduk di SD sekitar 1980 an, Gua Gunung Pencu sempat menjadi kunjungan wajib bagi para siswa. Dengan berjalan kaki perjalanan dilanjutkan ke Gua Gong, Silumbu dan Watu Lawang yang terdapat di sebelah utara Desa Ngandagan. Sambil berdiri menatap beberapa bagian lorong yang roboh itu, saya masih terngiang-ngiang ketika teman-teman sebaya dengan riang belarian di komplek Gua gunung Pencu, sambil beradu pendapat mengira-ngira setiap apa yang kami lihat. Dahulu tempat itu sangat bersih dan sejuk. Namun sayang saat ini kondisinya memprihatinkan. Disana sini ditumbuhi semak, beberapa bangunan hancur, dan tulisan bernada semangat perjuangan 45 mulai memudar tergerus hujan dan lumut. Melalui coretan ini saya berharap semoga masih ada kepedulian dari pihak-pihak terkait untuk menyelamatkan bukti peninggalan sejarah tersebut, dan kalau kita mau mempelajari konsep pengembangan Desa Ngadagan waktu itu, potensi untuk dikembangkan menjadi tempat wisata alternatif di Purworejo sangat memungkinkan.

Rekomendasi produk buat membuat momen perjalananmu terabadikan :
NIKON Camera DSLR D3400 Kit
NIKON Camera DSLR D3400 Kit

MASJID SUNAN GESENG

MASJID SUNAN GESENG

Masjid Sunan Geseng berlokasi di dusun Kauman, desa Bagelen Kec. Bagelen dibangun pada abad 19 (dalam kurun waktu / periodisasi 1800-an Masehi) pada masa pemerintahan Tumenggung Cokronegoro. Bangunan masjid beratap tumpang satu dan diatasnya terdapat mustaka yang terbuat dari tanah liat. Terdiri dari ruang utama dan bangunan serambi beratap limasan. Ruang utama terdapat 4 soko guru dan 12 soko rowo yang berbentuk bulat dengan bahan kayu jati. Pada bagian pintu terdapat hiasan relief sulur daun. Perlengkapan lain terdapat mimbar, bedug, dan kenthongan dan relief hias lainnya berupa flora, tumpal, meander. Hingga saat ini kondisi masjid masih terawat dengan baik. Bahkan mulai tanggal 16 Juni 2009 pada masjid yang juga merupakan salah satu cagar budaya ini diadakan renovasi oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah. Dan proses perawatan masih berjalan hingga tulisan ini di-upload.

BEDUG PENDOWO


Untuk kelengkapan Masjid Agung Kadipaten Purworejo (Sekarang bernama Masjid Darul Muttaqien), KRAA Cokronagoro I memerintahkan kepada Raden Patih Cokrojoyo untuk segera membuat bedug yang berasal dari kayu jati yang diambil dari hutan Pendowo/Bragolan. Raden Patih Cokrojoyo memanggil Wedono Bragolan yaitu Raden Tumenggung Prawironegoro yang juga adalah adik dari KRAA Cokronagoro I sendiri, untuk bersama-sama melaksanakan perintah tersebut. Akhirnya disepakati untuk membuat bedug besar/agung dengan menggunakan bahan dari pangkal (bongkot) kayu jati bang yang bercabang lima (dalam ilmu bangunan Jawa/Serat Kaweruh Kalang disebut pohon jati pendowo), daerah dimana terdapat pohon jati pendowo ini disebut sebagai dusun Pendowo Desa Bragolan Kecamatan Purwodadi.
Setelah mendapat restu dari Kanjeng Raden Adipati Arya Cokronagoro I, maka dimulailah pembuatan Bedug Agung tersebut yang memakan waktu cukup lama sebab peralatan pada saat itu belumlah seperti sekarang ini. Disamping itu saat akan mengerjakan dan pada waktu pengerjaannya, senantiasa didukung dari para ulama dan para pekerjanya untuk memohon kehadirat Allah Swt agar selalu mendapatkan petunjuk serta kekuatan-Nya.
Akhirnya bedug besar/agung yang direncanakan dan dibuat dengan penuh kesungguhan dari bahan pangkal (bongkot) kayu jati bong yang langka bentuk dan ukuran yang luar biasa besarnya telah dapat diwujudkan. Adapun jumlah paku yang digunakan adalah paku keling dari kayu jati untuk memaku kulit bagian depan 120 buah dan kulit bagian belakang 98 buah. Spesifikasi lain yaitu garis tengah depan 194 cm, garis tengah belakang 180 cm. Keliling bagian depan 601 cm, keliling bagian belakang 564 cm. Dibuat sekitar tahun 1762 Jawa atau 1834 Masehi.
Sedangkan kulit bedug dibuat dari :
1. Kulit banteng ukuran garis tengah 220 cm.
2. Bagian belakang pada tahun 1936 rusak dan diganti dengan kulit sapi Benggala (Ongak).
3. Sampai saat ini tahun 2005 telah dilakukan penggantian kulit bedug bagian belakang tiga kali dan terakhir tahun 1996.
Kulit bagian depan masih utuh tetap kulit asli sejak dibuatnya yaitu dari kulit banteng.

MASJID SANTREN BAGELEN












Masjid Santren Bagelen terletak di dusun Santren Desa Bagelen Kecamatan Bagelen Kabupaten Purworejo terletak di pinggir sebelah timur sungai Bogowonto. Masjid ini telah dipugar dikembalikan ke bentuk aslinya pada tahun 2001 oleh Pemerintah Kabupaten Purworejo dengan biaya APBD tahun 2001.
Sejarah :
Daerah Bagelen telah dihuni jauh sebelum masa Islam. Hal ini dibuktikan dari temuan artefak yang berupa stupa, lingga dan yoni. Pada masa Kerajaan Pajang, Bagelen telah mengakui Sultan Hadiwijaya sebagai rajanya dan kemungkinan pengaruh Islam telah masuk wilayah Bagelen. Daerah Bagelen pada waktu itu dipimpin oleh mantri Pamajegan yang pada saat-saat tertentu menyerahkan pajaknya kepada raja Pajang.
Ketika pusat pemerintahan Kerajaan Islam bergeser ke Mataram dibawah Panembahan Senopati, daerah Bagelen tampaknya mempunyai peranan khusus. Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaannya semasa pemerintahan Sultan Agung ( 1613-1645 ). Diceritakan pada masa tersebut Kyai Baidlowi sebagai tetua daerah Bagelen membantu Mataram dalam melawan Belanda. Sehingga untuk jasa tersebut, oleh istri Sultan Agung beliau dihadiahi masjid dengan arsitek Kasan Muhammad Shuufi.
Masjid Santren Bagelen adalah masjid yang dapat dikatagorikan sebagai cagar budaya. Hal ini disebabkan oleh latar belakang sejarah yang berkaitan dengan Raja Mataram yaitu Sultan Agung. Sekaligus masjid ini menjadi masjid tertua di wilayah Bagelen.
Tafsir sejarah yang menunjuk pada prasasti-prasasti yang ada menunjukkan bahwa masjid ini didirikan atas perintah istri Sultan Agung Raja Mataram yang terkenal. Sedangkan perintah istri Sultan Agung tersebut dimaksudkan untuk memberi hadiah atas jasa-jasa Kyai Baidlowi. Kaitan dengan Sultan Agung tersebut diperkuat dengan adanya angka tahun 1618 pada salah satu makam yang merupakan masa pemerintaan Sultan Agung. Angka tahun ini menjadikan Masjid Santren Bagelen sebagai masjid tertua di wilayah Bagelen.
Dengan adanya masjid di wilayah Bagelen menunjukkan bahwa sebaran agama Islam pada masa Sultan Agung antara lain telah mencapai daerah Bagelen. Selanjutnya daerah Bagelen pada masa Mataram merupakan daerah “Negoro Agung“ yang merupakan daearah di luar wilayah ibu kota. Sehingga Bagelen adalah pertahanan terakhir Mataram sebelum ibu kota.
Pandangan ini diperkuat dengan adanya sungai Bogowonto yang melewati Bagelen. Dengan demikian Bagelen memiliki nilai strategis militer bagi kerajaan Mataram.
Posisi Bagelen sebagai wilayah terluar kerajaan Mataram berlanjut sampai masa perang Diponegoro. Berdasarkan uraian di atas dapat diartikan bahwa secara umum Bagelen pada masa Mataram menduduki peran yang sangat strategis. Hadiah masjid oleh mataram mencerminkan bahwa kelestarian pertahanan Mataram tergantung dari hubungan baiknya dengan Bagelen.
Masjid Santren Bagelen merupakan masjid tertua di wilayah Bagelen yang berarsitektur tradisional Jawa dengan atap tajuk tumpang satu. Konstruksi kayu serta bentuk gonjo Masjid Santren sama dengan yang ada di Masjid Menara Kudus dan masjid Kajoran Klaten, sehingga kemungkinan ketiganya berasal dari masa yang sama. Di sisi utara dan selatan terdapat sederet makam yang diberi cungkup diantaranya terdapat makam-makam berprasasti.
Serambi masjid terdiri dari dua ruang dan merupakan bangunan baru. Dan pada ruang utama berbentuk bujur sangkar berukuran 10 x 10 m. lantai ruang utama berketinggian 60 Cm dengan tegel warna hijau berukuran 20 cm x 20 cm.
Ruang utama terdapat empat tiang soko guru berbentuk bulat berdiameter 40 cm dan diantara deretan tembok pada ruang utama terdapat 12 buah soko rowo. Pada salah satu soko rowo disebelah utara mihrab terdapat prasasti berhuruf dan berbahasa Arab yang artinya : “ Masjid ini dibangun dinegeri yang agung untuk leluhur yang sudah meninggal atas perintah istri Sultan Mataram diberikan kepada ustadz Baidlowi dan sebenarnya yang membuat masjid ini Khasan Muhammad Shuufi semoga dia mendapat ridha Allah yang berupa nikmat dunia dan akhirat dan ditetapkan imannya.”
Ruang mihrab terdapat pada dinding sisi barat berupa relung berukuran 1,40 m x 1,80 m.
Alat-alat perlengkapan masjid diantaranya :
1. Mimbar disisi barat ruang utama berukuran 155 cm, lebar 80 cm dan tinggi 225 cm.
2. Bedug dan kentongan di ruang emperan sisi selatan.
3. Bedug berukuran panjang 125 cm dengan diameter 67 cm. Kentongan berukuran panjang 9 cm dengan diameter 18 cm.
Bangunan lain berupa makam di sebelah utara, barat dan selatan bangunan masjid. Kelompok makam bercungkup di sebelah utara masjid dua diantaranya terdapat prasasti pada batu nisannya yakni pada makam R.K.H. Chasan Moekibad adalah merupakan anak syeik ustadz Baidlowi terdapat prasasti berhuruf dan berbahasa Arab artinya : “ Bagi kamu dan bagimu telah diampuni oleh Allah dalam tahun 1028” pada nisan kaki (selatan) terdapat tulisan arab yang artinya : “Haji Ahmad Baidlowi“.
Tahun 1028 H pada nisan tersebut dijadikan angka tahun masehi sama dengan tahun 1618 M. Sedangkan nisan kepala (utara) Makam R.A. Chasan Moekibat terdapat tulisan Arab artinya :
“ Bagi kami dan bagimu telah diampuni oleh Allah 1771 ” apabila angka tahun ini dijadikan angka tahun masehi sama dengan 1757 M.
Pemugaran Masjid Santren Bagelen ini sebagai contoh salah satu kegiatan pemugaran yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Purworejo pada tahun 2001 telah mengacu pada Undang-Undang No. 5 tahun 1992 dan PP. Nomor 10 taun 1993.

JAMASAN TOSAN AJI


Bertempat di halaman Museum Tosan Aji Purworejo, pada hari Selasa tanggal 7 Desember 2010 dilaksanakan kegiatan Prosesi Jamasan Tosan Aji. Penyelenggara kegiatan adalah kelompok pecinta tosan aji “Paseban Risang Aji” bekerja sama dengam Museum Tosan Aji Purworejo.
Kegiatan dihadiri oleh para pecinta tosan aji, guru MGMP Bahasa Jawa, siswa dan mahasiswa. Dalam sambutannya Drs. Bambang Aryawan, MM selaku Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menyambut hangat dilaksanakannya kegiatan tersebut, sebagai salah satu cara untuk melestarikan budaya adiluhung bangsa Indonesia.
Dalam prosesi ini dijamas keris Sabuk Inten luk 11 buatan abad XVI karya agung Mpu Supo dengan tangguh Mataram. Penjamas Tri Yuliana, SE, Kepala Museum Tosan Aji Purworejo.
Menjelang akhir kegiatan disampaikan seluk beluk penggunaan keris oleh Bapak Oteng Suherman.

GEREJA KYAI SADRACH


Pada tahun 1841 di desa Dukuhseti wilayah Kabupaten Kediri Jawa Timur lahir seorang bayi yang diberi nama Radin. Anak tersebut hidup terlantar karena ketika ia masih kecil telah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Sejak kecil ia hidup mengembara mengadu nasibnya dengan meminta-minta belas kasihan dari sesama umat yang dengan rela menaruh belas kasihan padanya. Betapapun penderitaan yang ia pikul, ia terima dengan keikhlasan hati karena berkeyakinan bahwa penderitaan semacam itu pastilah tidak akan menimpa dirinya untuk selama-lamanya.
Pada suatu saat, datanglah seorang Guru pengajar Agama Islam yang menaruh belas kasihan kepadanya untuk menolongnya dan dianggapnya sebagai anaknya sendiri. Dan setiap hari diajarnya pengetahuan Agama Islam. Sebagai murid dalam ilmu Agama Islam ia tergolong anak yang paling pandai, dan oleh sang guru Radin diberi nama tambahan sehingga lengkapnya Radin Abbas. Melihat daya kemampuannya, maka Radin Abbas kemudian dipondokkan di Pondok Pesantren Jombang. Pada perjalanannya dari Demak ke Jombang ditempuhnya dengan perjalanan kaki saja. Karena daya tangkap dalam menerima pelajaran, dalam sebentar mendengar pelajaran dengan mudah memahami maksudnya.
Dalam mengikuti pelajaran di Pondok Pesantren Jombang itu, ia sering pergi ke Mojowarno untuk mengikuti pelajaran Agama Kristen yang diajarkan oleh DS. JELLESMA. Minatnya sangat tertarik dengan pelajaran Kristen melalui Injil. Radin Abbas berhati keras dan progresif. Ia menyatakan menjadi murid Ds. Jellesma untuk mendalami pengetahuan Agama Kristen. Oleh karena ia ingin mencari kebenaran Allah, dari Pondok Pesantren Jombang ia memasuki Pondok Pesantren Gontor di Ponorogo. Tak lama kemudian Radin Abbas pindah ke Semarang dan berguru kepada seorang pendeta Kristen Ds. Hoczoo. Setiap hari Minggu ia rajin pergi ke gereja. Di Semarang ia berkenalan dengan seorang Kyai Kristen bernama Ibrahim Tunggul Wulung. Ia tertarik atas pelajarannya dan akhirnya menyatakan berguru kepada Kyai Ibrahim Tunggul Wulung, dan terus menyatakan sebagai seorang yang telah memeluk agama Kristen.
Dalam tahun 1865 Radin Abbas berkenalan dengan Mr. Anthing seorang petugas pengadilan di Semarang. Oleh karena kariernya, Mr. Anthing diangkat sebagai Wakil Kejaksaan Tinggi di Batavia. Dan disamping tugasnya dalam dinas governmentnya, Mr. Anthing juga mendirikan pendidikan Calon Penyebar Agama Kristen. Pada suatu waktu Radin Abbas dan Kyai Ibrahim Tunggul Wulung pergi ke Batavia. Oleh Mr. Anthing, Radin Abbas diterima sebagai anak buahnya dan ia menerima pembaptisan tanggal 14 April 1867 dengan nama baptisnya Sadrach. Sehingga nama lengkapnya menjadi Sadrach Radin Abbas, yang waktu itu berusia 26 tahun.
Dengan seijin Mr. Anthing, Sadrach Radin Abbas akan kembali ke Jawa Tengah. Perjalanannya akan ia tempuh dengan berjalan kaki saja : Batavia – Bandung – Cirebon – Tegal – Semarang – Bendo. Disetiap kota yang ia lalui, ia mengunjungi gereja-gereja Kristen yang ada. Setelah dapat bertemu dengan Kyai Tunggul Wulung, ia melanjutkan perjalanannya ke Jawa Timur : Surabaya – Mojowarno.
Mendengar kabar bahwa di Purworejo telah berdiri Pekabaran Injil yang dipimpin oleh Ny. Philips di Tuksongo; maka rombongan Sadrach pergi dan datang di Tuksongo Purworejo untuk menyaksikan tentang adanya berita yang didengar. Ternyata beritanya adalah benar dan nyata. Akhirnya Sadrach menetap di Purworejo dan membantu tugas Ny. Philips. Dimana atau di daerah mana banyak orang yang menentang Kristen, disitulah tugas Sadrach.
Cara Sadrach memperluas pengikutnya dengan cara ending sistim, door to door didatangi secara langsung berganti-ganti rumah. Mengadakan kebaktian secara bersama dilaksanakannya pada tahun 1871 (berdiri gereja) tempat kebaktiannya dipindahkan di Dukuh Karangjoso Desa Langenrejo Kecamatan Butuh Kabupaten Purworejo. Dan itulah didirikan rumah kebaktian di Karangjoso.
Sadrach dalam menyampaikan Pekabaran Injil secara khas Jawa dengan segala bentuk dan methodanya sendiri. Tugas Sadrach dibantu oleh Ny. Philips dalam menterjemahkan dari Bahasa Asing ke Bahasa Jawa.
Sadrach memperistri putri dari pemilik Rumah Peribadatan di Karangjoso. Karena dalam perkawinannya itu tidak dikaruniai keturunan, mereka mengangkat anak yang bernama Yothan putra dari Markus. Oleh karena usaha-usahanya dalam ikut Penyebaran Agama/Injil, maka nama Sadrach tercantum dalam Daftar Anggota Gereja Belanda. Oleh Sadrach para muridnya ditugaskan secara terpencar di seluruh Jawa Tengah untuk penyiaran Agama Kristen/Injil. Pada suatu ketika Sadrach bersama Ny. Philips mengadakan peninjauan ke pelosok, untuk melihat tentang penyebaran Injil yang biayanya dari Gereja Belanda. Akhirnya karena sakit Ny. Philips meninggal dunia 23 Mei 1876 dalam usia 51 tahun. Sejak itu Sadrach bertekad akan bekerja keras untuk melanjutkan akan kelangsungan Kristen Jawa. Ia menyebut dirinya Suropranoto yang berarti Berani Mengatur Sendiri. Dan ia menamakan Kristen Jawa Mardika.
Setiap hari Selasa Kliwon, di Karangjoso merupakan hari Pertemuan Besar. Pada waktu berjangkitnya wabah cacar, orang-orang disekitar gereja Karangjoso banyak yang tidak mencacarkan dirinya, karena tidak setuju adanya pencacaran dipaksakan. Akhirnya diketahuilah oleh Government dan Gereja Karangjoso ditutup dan rumah Sadrach digeledah karena diperkirakan bahwa ia akan memberontak terhadap Government tahun 1882.
Peristiwa yang disebut Jumat Wage adalah waktu peristiwa Sadrach diasingkan. Sedang sebagai Pemimpin Kebaktian dilakukan oleh Ds. Bieger dari Purworejo. Atas pengumuman Residen, Sadrach agar dikurung di rumah Ds. Bieger. Tanggal 10 Juni 1882 Sadrach terbebas dan kembali memimpin kebaktian di Gereja Kristen Jawa di Karangjoso. Tanggal 14 Nopember 1924 Sadrach meninggal dunia. Sepeninggal Sadrach para jamaah dipimpin oleh Yothan dan tentang kegerejaan diserahkan kepada Zending pada 1 Mei 1933. Para peserta yang setia kepada kerasulan menyingkir ke desa sebelah yaitu Desa Ketug, Kec. Butuh, Kab. Purworejo.

MAKAM GIRI CEMENTHOKO



Makam ini di berlokasi di Bukit Satria Desa Kaliwatubumi Kec. Butuh Kabupaten Purworejo. Tokoh-tokoh yang dimakamkan di sini adalah berkaitan dengan sejarah Kadipaten (Kabupaten) Kutoarjo. Bupati-bupati yang menjabat di Kadipaten Kutoarjo di antaranya yaitu :
1. Raden Tumengung Soerokoesoemo
2. Raden Tumenggung Pringgoatmojo sampai tahun 1870.
3. Pangeran Poerboatmodjo.
Nama asli Pangeran Poerboatmodjo adalah Raden Mas Toekijo, putra dari Mas Tumenggung Pringgoatmodjo (Raden Mas Sarimin). Kemudian Raden Mas Toekijo menjabat Mantri Pengairan Boro, karena jasanya diangkat :
a. Dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal di Bogor tanggal 19 Oktober 1870 menjadi Regent (Bupati) Kutoarjo.
b. Dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal di Bogor tanggal 30 Juli 1887 dianugerahi gelar Adipati hingga gelar dan nama selengkapnya adalah Raden Adipati Toekijo Poerboatmodjo.
c. Dengan Surat Keputusan Gubernur Jenderal di Bogor tanggal 1 Oktober 1910 dianugerahi gelar Pangeran hingga gelar dan nama selengkapnya adalah Pangeran Toekijo Poerboatmodjo.
4. Raden Tumenggung Poerbohadikoesoemo sampai tahun 1933.
Pada tahun 1933 Kabupaten Kutoarjo digabungkan menjadi satu dengan Kabupaten Purworejo dengan Bupati R.A.A. Hasan Danoeningrat dan selanjutnya Kutoarjo berstatus sebagai kawedanan.
Pada masa kepemimpinan R.T. Pringgoatmojo mempunyai penasehat spiritual yaitu Eyang Giri Cementhoko yang berasal dari keturunan Raja Mataram yang mengemban tugas agar bertapa di Gunung Satria, Desa Kaliwatubumi Kecamatan Butuh. Keduanya sepakat apabila meninggal dunia mereka akan dikebumikan secara berdampingan di Gunung Satria Desa Kaliwatubumi Kecamatan Butuh. R.T. Pringgoatmodjo lalu membeli tanah di Gunung Satria tersebut untuk tempat pemakaman beliau dan Eyang Giri Cementhoko beserta keluarga. Kemudian menyusul keluarga Bupati R.T. Pringgoatmodjo antara lain :
a. Pangeran Poerboatmodjo – Bupati Kutoarjo masa 1870 – 1915.
b. R. Adipati Aryo Poerbokoesoemo – Bupati Kutoarjo masa 1915 – 1933.
c. R. T. Poerboatmodjo Adi Surjo Bupati Kendal putra dari R.A.A. Poerbokoesoemo.
Makam Eyang Giri Cementhoko dibuat cungkup yang tertutup. Di sebelah timur terdapat makam R.T. Pringgoatmojo beserta istrinya, sedangkan di belakang (utara) makam R.T. Pringgoatmodjo terdapat Yoni berukuran 96 x 96 cm, dan tinggi 80 cm. Pada bagian tengahnya terdapat lubang persegi berukuran 28 x 28 cm sedangkan ceratnya patah.
Makam R. Adipati Aryo Poerbokoesoemo dan makam R.T. Poerboatmodjo Adi Surjo (Bupati Kendal) berada di sebelah selatan Makam Giri Cementhoko. Kondisi bangunan makam Bupati-bupati tersebut baik jirat maupun nisan sudah diganti bahan baru.
Pada tahun 2007 cungkup Makam Eyang Giri Cementhoko di pugar oleh Dinas Kebudayan dan Pariwisata Kabupaten Purworejo dengan anggaran APBD II Tahun 2007.

PABRIK GULA DI JENAR


Bagi siapa saja yang pernah membaca riwayat hidup/biografi Jendral Achmad Yani akan mengetahui bahwa Pahlawan Revolusi itu dilahirkan oleh keluarga Bpk. Wongsoredjo dan Ibu Murtini pada tanggal 19 Juni 1922 di Jenar, Purworejo. Pada waktu itu Bpk Wongsoredjo bekerja sebagai sopir Meneer/Tuan Boss, salah satu pimpinan Pabrik Gula Jenar Purworejo dan Pak Yani dilahirkan di perumahan di lingkungan Pabrik tersebut. Tulisan ini tidak bermaksud membahas riwayat hidup Pak Yani yang sudah banyak ditulis dan kita ketahui bersama, namun akan “bercerita” tentang tempat dimana beliau dilahirkan, yaitu PABRIK GULA JENAR.

Pabrik Gula Jenar Selesai Dibangun dan Mulai Beroperasi tahun 1910
Berdasarkan sumber tertulis Belanda, pabrik gula Jenar itu dibangun pada tahun 1909 oleh N.V.Suikeronderneming “Poerworedjo”, sebuah perusahaan terbuka (PT) yang dibentuk pada tahun 1908 di Amsterdam dengan tujuan untuk mengusahakan sebuah pabrik gula di Purworejo dengan modal 5 juta gulden yang terbagai dalam saham masing2 lembar senilai 1000 gulden. Nampaknya pada waktu itu orang Belanda berlomba lomba untuk mendirikan pabrik gula di Jawa sehubungan dengan adanya fasilitas berdasar Undang-Undang Agraria tahun 1870 dan juga mengingat kebutuhan gula di dunia sangat meningkat, sehingga menjelang akhir 1920 jumlah pabrik gula di Jawa ada sekitar 180 buah. Indonesia (Jawa) menjadi salah satu pengeskpor gula terbesar di dunia bersama dengan Kuba.

Untuk membangun “Suikerfabriek Poerworedjo” itu dipilih lokasinya di desa Plandi termasuk kecamatan Purwodadi, yang terletak kira2 di Km. 8 jalan Purworejo- Jogya di sebelah kanan jalan, masuk sekitar kurang 1 km dari jalan besar. Mengapa kemudian terkenal dengan nama pabrik gula Jenar, mungkin karena nama Jenar lebih “populer” dari Plandi bahkan dengan Purwodadi yang waktu itu merupakan salah satu Kawedanan (Distrik) dari Kabupaten Purworejo, dimana Jenar masuk dalam wilayahnya. Itu dugaan saya.Yang jelas pada tahun 1909 pabrik mulai dibangun dengan giatnya dan menjelang akhir tahun 1910 pabrik gula sudah siap dan mulai berproduksi.

Pembangunan pabrik gula ini nampaknya secara fisik telah mengubah wajah daerah Jenar dan Purwodadi. Hampir sebagian besar daerah Kawedanan Purwodadi (dulu) termasuk asistenan/kecamatan di lingkungannya, khususnya kecamatan Purwodadi dan Ngombol, menjadi lahan untuk tanaman tebu sebagai bahan pokok untuk pabrik gula. Daerah Purworejo selatan memang terkenal sebagai daerah persawahan yang cukup luas untuk maksud itu, dan itulah barangkali mengapa lokasi pabrik dipilih disitu.Untuk keperluan tersebut Perusahaan mendapat ijin menyewa tanah (paksa) dari pemilik/penggarap berdasar ketentuan Undang-undang Agraria tahun 1870 tersebut, dan memang Undang2 inilah yang merupakan dasar bagi berkembang-pesatnya pabrik gula di Jawa. Kurang jelas bagi saya apakah seluruh daerah persawahan di daerah selatan pabrik menjadi area tanaman tebu, namun yang jelas area itu cukup luas mengingat kebutuhan bahan baku tebu bagi produksi gula.

Untuk mengangkut hasil tebu dari area yang tersebar luas itu,disamping menggunakan sarana tranportasi tradisional seperti “grobag sapi racuk” lewat jalan2 yang ada, dibangunlah satu jaringan rel kereta-api kecil atau lori sesuai dengan kebutuhan dan menjangkau seluruh area tanaman tebu. Sisa-sisa jaringan itu sampai akhir2 ini (tahun ‘60-an) masih terlihat dibeberapa area persawahan sebagaimana disebut diatas. Dari cerita saksi mata dikatakan bahwa dari Pabrik, rel utama memanjang kearah Purwodadi , sebagaian terus kedaerah Bubutan sepanjang kali Bogowonto dan sekitarnya, dan sebagian belok kekanan terus ke-area tanaman tebu kedaerah Ngombol, Ngangkruk ketip, Wingko, Wunut dan sekitarnya. Sayang data otentik untuk ini tidak ada. Kita hanya bisa menyimpulkan bahwa area tanaman tebu itu pasti cukup luas untuk menjamin “berputar”nya gilingan pabrik gula yang menguntungkan.

Selama berproduksi, pabrik gula Jenar memberikan sumbangan kepada total produksi gula sebanyak 3 juta ton per tahun yang dihasilkan oleh 180 pabrik gula di Jawa, sebagian besar untuk tujuan ekspor. Keuntungan bersih yang diraup oleh pabrik gula Jenar pada tahun 1916 (sebagai contoh) sebesar 51 ribu gulden. Untuk menggambarkan nilai uang sebesar itu harus dibandingkan dengan pendapatan buruh-tani yang saya ketahui ditahun-tahun ‘30-an, sebesar 14 sen sehari dan harga nasi rames satu sen sebungkus/sepincuk. Gaji seorang nDoro Mantri Guru sekolah Vervolkschool (Ongko Loro) sebesar 60-70 gulden/bulan. Gaji sebesar itu sudah cukup untuk hidup “sangat” mewah bagi ukuran desa. Saya sendiri hanya dapat “jatah” dari ibu saya sepuluh sen bila Lebaran datang, dan dari pengumpulan keliling “cari sangu” ada tambahan sekitar 5-6 sen, sudah merasa sebagai orang “kaya”, bisa jajan, beli mainan dan plesir kemana-mana.

Bagaimana pengaruh keberadaan pabrik gula Jenar bagi kesejahteraan masyarakat Bagelen waktu itu? Sebuah studi mengenai hal itu menyatakan bahwa masuknya modal dan kegiatan usaha perkebunan di daerah Bagelen/Purworejo termasuk keberadaan pabrik tersebut hampir tidak berdampak positif secara sosial dan ekonomi. Keuntungan yang berlimpah hanya dinikmati oleh pemilik modal dan “pengusaha antara” yang umumnya di monopoli oleh golongan etnis Cina, sedang penduduk/masyarakat hanyalah sebagai “penonton” yang pasif.

Kejayaan pabrik gula tiba-tiba tersungkur dengan datangnya krisis ekonomi dunia bulan Oktober tahun 1929 yang terkenal dengan depresi besar tahun 1929, dipicu dengan ambruknya Bursa Saham (stock market crash) Wallstreet di New York yang kemudian menjalar keseluruh dunia. Di Eropa “the Great Depression” itu dikenal sebagai “Malaise” dan ke Indonesia di plesetkan sebagai “jaman Meleset” yang berimbas dengan berbagai kesulitan hidup. Sejalan dengan krisis tersebut, permintaan dunia untuk gula anjlog sementara suplai tetap membanjir. Kenyataan itu memaksa diadakan sistem quota yang membatasi produksi gula, yang terkenal dengan perjanjian Charbourne tahun 1931. Indonesia (Jawa) harus menurunkan produksi dari semula 3 juta ton menjadi hanya 1.4 juta ton ( pengurangan lebih dari 50%), akibatnya 9 dari 17 pabrik gula di daerah Jogya “tersungkur” dan tutup.

Nampaknya pabrik gula Jenar tidak bisa menghindar dari kenyataan tersebut dan harus menerima nasib yang sama, tidak bisa bertahan. Tahun 1932 mulai “meregang nyawa” dan akhirnya tahun 1933 tidak ada pilihan lain, bangkrut dan di liquidasi alias bubar… Selesailah sudah episode tentang sebuah pabrik gula Jenar di daerah Purworejo. Ternyata sebuah perusahaan itu tidak ada bedanya dengan kehidupan manusia, dia lahir, tumbuh, berkembang dan mati/menghilang. Seperti halnya umur manusia, nasibnya juga berbeda-beda, ada yang berumur pendek dan ada yang berumur panjang.

Dalam hal pabrik gula Jenar, usianya tidak lebih dari 24 tahun sejak didirikan/dilahirkan tahun 1909, terhitung usia yang pendek. Beberapa pabrik gula yang dibangun sebelum pabrik gula Jenar bahkan masih bisa bertahan sampai saat ini.

Sekarang ini, lebih 100 tahun sejak didirikan dan hampir 80 tahun sejak bubar, nyaris tidak ada lagi kenangan yang tersisa dari keberadaan sebuah pabrik gula Jenar. Di lokasi bekas pabrik hanya tersisa reruntuhan yang tidak memberikan kesan bahwa disitu dulu pernah ada bangunan2 yang besar didaerah Purworejo. Di desa Pulutan, kecamatan Ngombol, masih ada jembatan desa yang tersisa yang dibangun oleh “SUIKERONDERNEMING POERWOREDJO 1925”, itulah salah satu monumen/bukti bagi kita tentang adanya sebuah pabrik gula di Jenar. Selebihnya, generasi sekarang hanya mengenal nama pabrik gula Jenar pada waktu mempelajari riwayat hidup Pahlawan Revolusi Jendral Achmad Yani yang memang lahir di tempat itu.

SITUS GUA SILUMBU, DESA KALIGLAGAH, KEMIRI


Gua ini berada di Desa Kaliglagah Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo. Desa Kaliglagah berada sekitar 5 kilometer dari pusat Kecamatan Kemiri.
Gua terbuat dari batu andesit. Terbentuk dari batu besar yang terletak di lereng pegunungan. Diperkirakan situs ini dibangun pada sekitar abad 8 Masehi (pada masa Hindu). Situs ini berada ketinggian 120 m dpl (dari permukaan laut) dan berfungsi sebagai tempat pemujaan pada masa itu.
Gua terdiri dari dua buah pintu masuk, terdapat satu buah lingga yoni yang menyatu namun lingganya sudah pecah dan terdapat sebuah fragmen lingga. Juga terdapat tempat duduk dari batu yang berada pada sisi kiri dan kanan gua sebelah dalam. Lingga yoni pada gua ini terbuat dari batu andesit, bentuknya sederhana tanpa hiasan.

DOLMEN DI DESA DONOREJO, KALIGESING



Dolmen adalah meja batu tempat meletakkan sesaji yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang (Wikipedia).

Dolmen yang terdapat di Dukuh katerban RT 7 RW 3 Desa Donorejo Kec. Kaligesing Kab. Purworejo ini memiliki diameter 150 cm, tinggi 90 cm. Bahan kuat dugaan dari batu kapur yang di bentuk sedemikian rupa.

Dolmen yang merupakan peninggalan manusia pada jaman Megalitikum ( abad IX hingga X) ini berada di pekarangan Bp. Sukirman.
Ketika kami kunjungi pada tanggal 3 April 2012 kondisi berlumut dan berada tepat di samping jalan desa. Konon kabarnya pada masa lalu dolmen ini sering dikunjungi masyarakat pada hari-hari tertentu. Namun seiring dengan pergeseran waktu hal tersebut tidak terjadi lagi.

PANTAI KEBURUHAN


Pantai Keburuhan terletak di Desa Keburuhan, Kecamatan Ngombol. Kabupaten Purworejo. Letaknya berseberangan dengan Pantai Pasir Puncu yang ada di Kecamatan Grabag. Untuk ke sana bisa menyeberang dengan perahu dari pantai pasir puncu, atau naik mobil dan motor, kendaraan sudah bisa ke pantai.

Kalau dari arah Perempatan Jatimalang, lurus aja ke barat, mengikuti jalan daendels. Nanti di sebelah kiri ada petunjuk arah ke Pantai Keburuhan. Pantai nya lumayan indah, anginnya kencang. Akan tetapi masih sepi, kalah ramai dengan Pantai Jatimalang.

PANTAI PASIR PUNCU INDAH



Wisata pantai pasir puncu indah pengunjung bisa naik perahu
Wisata pantai di Purworejo-Jepretan Majalah burung pas, obyek wisata pantai pasir puncu indah, merupakan tempat rekreasi yang menarik. Kawasan pantai puncu berdekatan dengan pantai ketawang yang berada di sebelah timurnya.
Lokasinya juga mudah di jangkau dan sejalur dengan lintas selatan Jawa, dan ini  merupakan hal yang mudah di cari.
Bila kita ke tempat ini memang jalan menuju pantai masih sempit hanya 4 meter, tetapi kendaraan bisa sampai di lokasi. Pantai puncu menyuguhkan panorama alam dengan dengan beberapa perahu wisatanya.
Pengemudi atau nahkoda kapal ketika melayani pengunjung hanya di menjalankan perahunya menyusuri sungai yang dan memutar di kali atau di muara laut. asyik memang bila mampu menikmati indahnya suasana.
Pintu masuk pantai pintu utama di jalur lintas selatan
Musim liburan idul fitri 2011 pantai ini rai di kunjungi wisman domestik. sebelum masuk di pantai akan di temui jembatan yang menghubungkan daratan sepanjang 50 meter. Lokasi sekitar pantai banyak gundukan pasir dan dengan semilir angin laut yang kadang kencang kadang pelan. 
Dermaga perahu wisata pantai puncu indah
Tempat cuci mata pantai ini sarana sudah dibangun sehingga lebih nyaman, namun jangan kaget sebagian bangunan ada yang rusak karena terjangan ombak.  Sedang tempat parkir kendaraan juga lebih tertip dan tarif pakir tidak Nuthuk (wajar).
Menjadi ciri khas pantai di sekitar Purworejo ada puluhan pipa yang di aliri air sebagai tempat bilas, sehabis kena air laut atau pasir.

Pantai Ketawang

 Terletak di wilayah kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo. Pintu masuk dari Desa Ketawang, namun wilayah pantai meliputi garis pantai sepanjang kurang lebih 3 km sampai pantai Pasir Puncu. Dapat di tempuh dari Kutoarjo 12 km, bisa juga dari arah Jogja dan Kebumen lewat jalur selatan.Merupakan wilayah pantai pasir hitam dengan ombak dan angin yang besar. Tiap Idul Fitri, tempat ini dikunjungi banyak wisatawan lokal, baik dari wilayah Grabag sendiri maupun dari wilayah yang iaju, seperti Bruno, Winong, Kemiri. Pantai ini ramai karena ada semacam adat, kalau Lebaran, ada namanya "riyayan", lamanya satu pekan. Pada hari kedelapan dinamakan syawalan, hari penutup wisata. Selama 8 hari itu biasanya orang-orang menggunakannya untuk berwisata pantai bersama keluarga, bagi yang muda-muda, untuk cari kenalan.Sebenarnya tempat ini biasa saja, masih butuh banyak penataan untuk dijadikan sebagai tempat wisata modern. Tempat yang panas dan tidak adanya peneduh menjadi salah satu ketidaknyamanan, namun hembusan angin pantai yang keras meringankan panasnya matahari.Tak perlu repot membawa makanan, aneka warung menjual kupat tahu, mie ayam, bakso, sate, atau rames berjajar sepanjang pantai. Juga aneka minuman seperti dawet, es buah, atau teh.Pantai Pasir PuncuTerletak sekitar 2.5 km dari pantai Ketawang. Bisa dituju dengan jalan kaki menyusuri pantai. Bisa juga dengan mobil atau motor, melewati pinggiran 'hutan' bekas galian penambangan pasir besi.Objek yang menarik, pantai terletak di muara sungai awu-awu, ada bekas dermaga buatan Belanda yang tak lagi digunakan. Dari dermaga ini kita akan menyaksikan ombak yang besar menabrak batu, mengakibatkan air naik ke udara. Di sisni juga tempat yang cocok buat memancing.Pantai Keburuhanterletak di Desa Keburuhan, Kecamatan Ngombol. Letaknya berseberangan dengan Pantai Pasir Puncu yang ada di Kecamatan Grabag. Untuk ke sana bisa menyeberang dengan perahu dari pantai pasir puncu, atau naik mobil dan motor, kendaraan sudah bisa ke pantai.Pantai Siledok/ genjikberada di muara sungai rowo yang merupakan perbatasan kabupaten purworejo dengan kabupaten kebumen. Kalau Pasir puncu di batas timur kecamatan grabag, Siledok di batas barat kecamatan grabag, juga batas barat Kabupaten purworejo.Objek berupa pantai pasir hitam, bangunan pengarah arus sungai (jeti).cocok buat memancing. Aiar payau. Untuk ke silakan susuri jalan daendels dari ketawang seitar 8 km, sebelum ketemu jembatan, ada jalan masuk.

PANTAI JATIMALANG

 
Pantai Jatimalang yang terletak di Desa Jatimalang Purwodadi luasnya ± 20 Ha banyak dikunjungi para wisatawan, dimana sampai dengan akhir tahun 2001 sekitar 7.000 orang. Peluang yang ditawarkan adalah Pembangunan Camping Ground, Arena Hiburan Anak, Hotel dan Rumah Makan, serta Sirkuit Three in One (pacuan Kuda, Road race dan Mottocross). Prasarana penunjang yang ada di Pantai Jatimalang adalah jalan desa hot mix, Fasilitas obyek sederhana seperti gasebo 2 unit, jalan paving dan penghijauan sekitarpantai






Terletak di wilayah kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo. Pintu masuk dari Desa Ketawang, namun wilayah pantai meliputi garis pantai sepanjang kurang lebih 3 km sampai pantai Pasir Puncu. Dapat di tempuh dari Kutoarjo 12 km, bisa juga dari arah Jogja dan Kebumen lewat jalur selatan.Merupakan wilayah pantai pasir hitam dengan ombak dan angin yang besar. Tiap Idul Fitri, tempat ini dikunjungi banyak wisatawan lokal, baik dari wilayah Grabag sendiri maupun dari wilayah yang iaju, seperti Bruno, Winong, Kemiri. Pantai ini ramai karena ada semacam adat, kalau Lebaran, ada namanya "riyayan", lamanya satu pekan. Pada hari kedelapan dinamakan syawalan, hari penutup wisata. Selama 8 hari itu biasanya orang-orang menggunakannya untuk berwisata pantai bersama keluarga, bagi yang muda-muda, untuk cari kenalan.Sebenarnya tempat ini biasa saja, masih butuh banyak penataan untuk dijadikan sebagai tempat wisata modern. Tempat yang panas dan tidak adanya peneduh menjadi salah satu ketidaknyamanan, namun hembusan angin pantai yang keras meringankan panasnya matahari.


Tak perlu repot membawa makanan, aneka warung menjual kupat tahu, mie ayam, seafood ,bakso, sate, atau rames berjajar sepanjang pantai. Juga aneka minuman seperti dawet, es buah, atau teh.Pantai Pasir PuncuTerletak sekitar 2.5 km dari pantai Ketawang. Bisa dituju dengan jalan kaki menyusuri pantai. Bisa juga dengan mobil atau motor, melewati pinggiran 'hutan' bekas galian penambangan pasir besi.Objek yang menarik, pantai terletak di muara sungai awu-awu, ada bekas dermaga buatan Belanda yang tak lagi digunakan. Dari dermaga ini kita akan menyaksikan ombak yang besar menabrak batu, mengakibatkan air naik ke udara. Di sisni juga tempat yang cocok buat memancing.Pantai Keburuhanterletak di Desa Keburuhan, Kecamatan Ngombol. Letaknya berseberangan dengan Pantai Pasir Puncu yang ada di Kecamatan Grabag. Untuk ke sana bisa menyeberang dengan perahu dari pantai pasir puncu, atau naik mobil dan motor, kendaraan sudah bisa ke pantai.Pantai Siledok/ genjikberada di muara sungai rowo yang merupakan perbatasan kabupaten purworejo dengan kabupaten kebumen. Kalau Pasir puncu di batas timur kecamatan grabag, Siledok di batas barat kecamatan grabag, juga batas barat Kabupaten purworejo.Objek berupa pantai pasir hitam, bangunan pengarah arus sungai (jeti).cocok buat memancing. Aiar payau. Untuk ke silakan susuri jalan daendels dari ketawang seitar 8 km, sebelum ketemu jembatan, ada jalan masuk.